PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara manusia mengekspresikan diri, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu fenomena yang semakin sering terlihat adalah istri yang mengunggah konten joget-joget di media sosial, sementara suami tampak membiarkan, mendukung, atau bahkan tidak menunjukkan rasa cemburu sama sekali. Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan: ke mana perginya rasa cemburu dan penjagaan kehormatan dalam pernikahan?
Berikut beberapa penyebab yang melatarbelakangi sikap tersebut.
1. Pergeseran Makna Cemburu dalam Budaya Modern
Dalam budaya modern, cemburu sering dianggap sebagai sikap posesif, kolot, atau tidak percaya pada pasangan. Akibatnya, sebagian suami memilih menahan atau meniadakan rasa cemburu agar dianggap “dewasa”, “open minded”, dan tidak mengekang.
BACA JUGA: 7 Tips agar Suami Mau Shalat Berjamaah di Masjid
2. Normalisasi Konten Ekspresif di Media Sosial
Konten joget-joget, pamer tubuh, atau ekspresi sensual telah dinormalisasi oleh algoritma media sosial. Ketika hal tersebut dianggap lumrah, sebagian suami menganggapnya bukan masalah besar, meskipun konten tersebut berpotensi mengundang pandangan dan syahwat orang lain.
3. Kurangnya Pemahaman tentang Batasan Aurat dan Kehormatan
Sebagian suami tidak memahami atau meremehkan konsep ghirah (kecemburuan terpuji) dan tanggung jawab menjaga kehormatan keluarga. Ketidaktahuan ini membuat mereka tidak melihat adanya pelanggaran nilai dalam konten yang diunggah pasangan.
4. Ketergantungan pada Validasi dan Popularitas
Media sosial memberikan pujian instan berupa like, komentar, dan jumlah pengikut. Ada suami yang membiarkan istrinya joget-joget karena ikut menikmati popularitas, keuntungan finansial, atau validasi sosial yang didapat dari konten tersebut.
5. Lemahnya Kepemimpinan dalam Rumah Tangga
Dalam banyak kasus, sikap membiarkan bukan karena ridha, tetapi karena tidak berani menegur, takut konflik, atau takut kehilangan pasangan. Ini mencerminkan lemahnya peran kepemimpinan dan komunikasi dalam rumah tangga.
6. Rasa Percaya Diri yang Salah Arah
Sebagian suami merasa sangat percaya diri sehingga menganggap tidak perlu cemburu, dengan dalih “istri saya setia”. Padahal, masalahnya bukan soal kesetiaan, melainkan tentang menutup pintu fitnah dan godaan dari luar.
7. Pengaruh Ideologi Kebebasan Individu
Narasi “tubuh adalah hak pribadi” dan “pasangan tidak boleh mengatur” membuat sebagian suami merasa tidak berhak memberi batasan. Akibatnya, nilai tanggung jawab bersama dalam pernikahan perlahan terkikis.
BACA JUGA: Suami Minta, Istri Menolak Terus: Apa yang Harus Dilakukan?
8. Hilangnya Konsep Malu dan Adab
Ketika rasa malu dianggap kuno dan adab dianggap pembatas kreativitas, maka konten yang dahulu dianggap tidak pantas kini dianggap biasa. Hilangnya rasa malu ini berimbas langsung pada sikap suami yang menjadi permisif.
Tidak cemburu bukan selalu tanda kedewasaan. Dalam batas yang benar, cemburu adalah bentuk cinta, tanggung jawab, dan penjagaan kehormatan. Ketika suami membiarkan istrinya mempertontonkan diri di media sosial tanpa batas, yang dipertaruhkan bukan hanya hubungan pribadi, tetapi juga martabat keluarga dan dampak sosial yang lebih luas.
Pernikahan bukan hanya tentang kebebasan individu, tetapi tentang saling menjaga, saling menasihati, dan saling melindungi dari hal-hal yang merusak, baik di dunia nyata maupun dunia digital. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

