DI Indonesia, tidak jarang kita mendengar ungkapan, “Dia rajin ibadah, shalatnya tidak pernah bolong.” Kalimat ini terdengar wajar, bahkan bernada pujian. Namun jika direnungkan lebih dalam, muncul pertanyaan mendasar: mengapa shalat lima waktu—yang merupakan kewajiban paling dasar dalam Islam—justru dianggap sebagai bentuk kerajinan, bukan kenormalan?
Fenomena ini mencerminkan realitas sosial dan keagamaan yang patut dikritisi.
1. Terjadi Normalisasi Kelalaian Ibadah
Ketika banyak orang meninggalkan shalat, standar “normal” pun bergeser. Akibatnya, orang yang hanya menjalankan kewajiban dasar justru dianggap istimewa.
Dalam kondisi ini, yang seharusnya minimal berubah menjadi maksimal. Padahal dalam Islam, shalat lima waktu adalah fondasi keimanan, bukan prestasi tambahan.
BACA JUGA: Batal Wudhu pas Shalat Jumat Rakaat Pertama padahal Ada di Shaff Depan, Apa yang Harus Dilakukan?
2. Identitas Muslim Lebih Bersifat Kultural daripada Praktikal
Sebagian besar Muslim Indonesia lahir sebagai Muslim secara administratif dan budaya. Islam diwarisi sebagai identitas, bukan selalu sebagai praktik sadar.
Akibatnya, shalat tidak lagi dipahami sebagai kebutuhan ruhani dan kewajiban harian, melainkan aktivitas “orang alim”, “orang baik”, atau “orang rajin”.
3. Ibadah Dianggap Beban, Bukan Kebutuhan
Bagi sebagian orang, shalat dipersepsikan sebagai kewajiban berat yang “mengganggu” aktivitas duniawi. Ketika seseorang mampu konsisten shalat di tengah kesibukan, ia dianggap melakukan sesuatu yang luar biasa.
Padahal shalat justru diperintahkan untuk menjaga kehidupan, bukan menghambatnya.
4. Lingkungan Sosial Tidak Mendukung Kedisiplinan Ibadah
Di banyak lingkungan kerja, sekolah, dan ruang publik, shalat belum sepenuhnya difasilitasi atau dihargai. Orang yang meminta waktu shalat kadang dianggap merepotkan atau terlalu religius.
Dalam situasi seperti ini, orang yang tetap shalat tepat waktu dianggap “rajin”, karena melawan arus kebiasaan sekitar.
5. Hilangnya Pemahaman tentang Urgensi Shalat
Shalat sering dipandang sebagai ritual rutin, bukan sebagai penentu kualitas keislaman seseorang. Padahal dalam Islam, shalat adalah amal pertama yang akan dihisab dan pembeda antara iman dan kekufuran menurut banyak hadits.
Ketika makna ini hilang, shalat menjadi opsional secara praktik, meski wajib secara teori.
6. Standar Kesalehan Bergeser ke Hal yang Tampak
Di era media sosial, kesalehan sering diukur dari hal-hal yang terlihat: gaya berpakaian, konten religius, atau simbol-simbol luar. Sementara shalat—yang bersifat personal dan sunyi—kurang mendapat perhatian.
Akibatnya, konsistensi shalat dianggap prestasi langka, bukan kewajiban dasar.
BACA JUGA: 8 Tanda Shalatmu Mulai Memperbaiki Hidupmu tanpa Kamu Sadari
7. Pujian Ini Sekaligus Sindiran Sosial
Secara tidak langsung, menyebut orang yang shalat lima waktu sebagai “rajin” adalah cermin kondisi umat. Itu bukan hanya pujian, tetapi juga sindiran halus bahwa meninggalkan shalat telah menjadi hal yang lumrah.
Seharusnya, yang meninggalkan shalatlah yang dianggap menyimpang, bukan sebaliknya.
Dalam Islam, shalat lima waktu bukan tanda kesalehan tingkat tinggi, melainkan syarat minimal keislaman yang hidup. Ketika kewajiban dasar saja dianggap prestasi, itu pertanda ada krisis pemahaman dan praktik dalam beragama.
Sudah saatnya kita mengembalikan standar: shalat lima waktu bukan tentang rajin atau tidak, tapi tentang taat atau lalai. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

