PADA suatu hari, rumah Khalifah Utsman bin Affan r.a. dikepung oleh sekelompok orang. Kerumunan pemberontak memadati pintu, menghadirkan ancaman yang nyata. Melihat situasi itu, para budak Utsman segera bersiap dan mengambil senjata demi melindungi tuannya.
Namun Utsman menghentikan mereka. Dengan suara tenang ia berkata, “Barang siapa di antara kalian yang tidak membawa senjata, maka ia merdeka.”
Mendengar itu, para budak meninggalkan rumah Utsman. Mereka khawatir akan keselamatan diri mereka sendiri, sementara ancaman di depan mata semakin mendesak.
Di tengah situasi genting itu, Hasan bin Ali r.a. menjumpai para budak tersebut. Ia berbicara kepada mereka, lalu bersama-sama kembali menuju rumah Utsman. Setibanya di sana, Hasan berkata dengan penuh ketegasan dan kesetiaan, “Wahai Amirul Mukminin, perintahkanlah kami. Niscaya kami akan membelamu.”
Namun jawaban Utsman justru memperlihatkan kedalaman ruhiyah yang luar biasa. Ia berkata, “Wahai saudara sepupuku, kembalilah ke rumahmu dan tunggulah di sana sampai Allah menunaikan takdir-Nya. Kita tidak ingin menumpahkan darah.”
Dalam sikap itulah tampak ketenangan Utsman di hadapan bencana. Ia memilih menanggung bahaya atas dirinya sendiri demi mencegah pertumpahan darah di tengah umat. Ketenangan ini bukan kelemahan, melainkan buah dari keyakinan yang matang dan penyerahan total kepada Allah.
Derajat ruhani Utsman dalam peristiwa ini memperlihatkan kedudukannya sebagai hamba yang dekat dengan Allah—seakan meneladani maqam Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, sang kekasih Allah, yang tenang menghadapi ujian besar karena sepenuhnya percaya pada kehendak-Nya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

