SUATU hari, para sahabat Nabi ﷺ sedang duduk di sebuah tempat. Tiba-tiba lewat di hadapan mereka seorang pemuda yang kuat dan tegap. Melihat fisiknya yang penuh tenaga, sebagian sahabat berkomentar,
“Alangkah baiknya jika pemuda itu menggunakan kekuatan dan ketegapannya untuk berjuang di jalan Allah.”
Rasulullah ﷺ mendengar ucapan itu. Beliau lalu menoleh dan bersabda dengan nada yang meluruskan cara pandang mereka,
“Apakah tidak ada perjuangan di jalan Allah selain berperang?”
Kemudian Nabi ﷺ menjelaskan satu per satu, seolah membuka cakrawala makna jihad yang lebih luas dan lebih dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.
“Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan dirinya agar terjaga dari yang haram, maka ia sedang berjihad di jalan Allah.”
“Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya agar keduanya terjaga dari perkara yang haram, maka ia sedang berjihad di jalan Allah.”
“Orang yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya agar mereka terjaga dari yang haram, maka ia pun berada di jalan Allah.”
Namun setelah itu, Rasulullah ﷺ menutup penjelasan tersebut dengan peringatan yang tegas,
“Adapun orang yang berusaha mengumpulkan dan menimbun harta semata-mata demi keserakahan, maka ia berada di jalan setan.”
Hadis ini menegaskan bahwa nilai amal tidak semata ditentukan oleh bentuk lahirnya, tetapi oleh niat dan arah tujuannya. Bekerja, mencari nafkah, dan menghidupi keluarga dapat bernilai jihad—selama ia menjaga diri dan orang-orang yang ditanggungnya dari kehinaan dan keharaman.
Sebaliknya, harta yang dikejar tanpa batas dan ditimbun tanpa kepedulian justru menjauhkan manusia dari jalan Allah, meskipun tampak sebagai keberhasilan di mata dunia. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

