Bagaimana Kehidupan Qabil setelah Membunuh Habil?

2 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DARAH Habil masih basah di bumi, namun ketakutan telah mengeras di hati Qabil. Ayahnya, Adam, sedang berkelana menuju Mekkah. Empat puluh tahun perjalanan mencari ampunan. Di bawah langit yang sunyi, Qabil membawa Iqlima berlari. Menjauh dari murka, mendekat pada rimba yang tak terjamah.

Peradaban Tanpa Wahyu

Sebuah lembah ditemukan. Hijau dan subur. Di sana, Qabil menanam benih dan harapan. Ia membangun rumah, ia membangun silsilah. Ia ingin anak-cucunya hebat. Ia ajarkan kebaikan, namun hanya lewat nalar. Ia susun aturan, namun tanpa sentuhan Tuhan. Sebuah peradaban lahir dari logika yang rapuh.

BACA JUGA:  Siapa Penghuni Bumi Sebelum Nabi Adam? Ternyata Ada Makhluk Lain

Penyusup di Balik Cahaya

Iblis mengamati dari balik bayang. Ia melihat “lahan subur” yang haus akan kesenangan. Ia datang menyerupai manusia, membawa janji tentang nikmat yang tak bertepi. Seperti bisikan di surga dahulu, ia menawarkan pintu menuju kepuasan mutlak.

Irama yang Membius

Lalu, terdengarlah bunyi itu. Tiupan seruling yang menyayat, tabuhan gendang yang memikat. Awalnya tubuh mereka kaku. Namun musik adalah racun yang manis. Perlahan, pinggul mulai bergoyang. Tangan mulai meliuk. Penat menguap, berganti ekstasi yang meluap. Mereka menari dalam khusyuk yang keliru.

https://s.shopee.co.id/8KjNfTuXxD

Pesta dan Kehilangan Malu

Satu hari dalam seminggu, lembah itu berpesta. Lelaki membawa upeti, perempuan bersolek melampaui batas. Cantik yang dipamerkan, mata yang memburu. Tabir pun runtuh. Malu menguap ke udara. Di bawah cahaya rembulan, mereka hidup layaknya binatang; kehilangan fitrah, terpenjara dalam hasrat.

BACA JUGA:  Nabi Adam dan Di Balik Bisikan Pohon Khuldi

Gema Penyesalan

Inilah tragedi logika tanpa cahaya wahyu. Qabil ingin membangun kejayaan, namun ia justru memanen kehancuran. Nalar yang ia agungkan tak mampu membendung tipu daya. Lembah itu bukan lagi tempat bernaung, melainkan lubang hitam yang menelan keselamatan. Kebanggaan berubah menjadi celaka. Kegembiraan berakhir sebagai sisa-sisa sesal. []

RUJUKAN: DAARUT TAUHID

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *