Awal Abu Thalib Membela Dakwah Rasulullah ﷺ

5 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

FASE dakwah Rasulullah ﷺ memasuki babak baru ketika Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikan risalah secara terang-terangan. Setelah masa dakwah sembunyi-sembunyi, turunlah wahyu yang mengakhiri fase sirriyah dan membuka konfrontasi terbuka dengan masyarakat Quraisy.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman,

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Ḥijr [15]: 94)

Kemudian Allah memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk memulai dakwah terbuka itu dari lingkaran terdekat: keluarga dan kabilahnya sendiri.

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 214)

Serta penegasan jati diri kenabian beliau:

وَقُلْ اِنِّيْٓ اَنَا النَّذِيْرُ الْمُبِيْنُ

“Katakanlah, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas.” (QS. Al-Ḥijr [15]: 89)

BACA JUGA:  Ijtihad Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan atas Tragedi Terbunuhnya Utsman bin Affan

Pertemuan Pertama dengan Bani Hasyim

Ibnu Hisyam dan Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Raḥīq al-Makhtūm meriwayatkan bahwa langkah pertama Rasulullah ﷺ setelah turunnya ayat ini adalah mengumpulkan Bani Hasyim. Dalam pertemuan itu hadir pula beberapa orang dari Bani Muthalib bin ‘Abdi Manaf. Jumlah mereka sekitar empat puluh lima orang lelaki.

Namun sebelum Rasulullah ﷺ sempat menyampaikan risalahnya secara utuh, Abu Lahab—paman beliau sendiri—memotong pembicaraan dengan nada keras dan mengancam. Ia berkata, “Wahai Muhammad, mereka ini adalah paman-pamanmu dan anak-anak pamanmu. Bicaralah dengan serius dan jangan main-main! Ketahuilah bahwa kaum kerabatmu tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi seluruh bangsa Arab.”

Ia melanjutkan dengan ancaman yang lebih tajam, “Akulah orang yang paling berhak menentangmu. Cukuplah bagimu perlindungan keluarga ayahmu saja. Jika engkau terus seperti ini, mereka akan lebih mudah menyerangmu daripada kabilah Quraisy yang lain, dan engkau akan diserang oleh seluruh bangsa Arab. Aku tidak pernah melihat seseorang yang membawa bencana sebesar apa yang engkau bawa kepada kaummu.”

Dalam pertemuan pertama ini, Rasulullah ﷺ memilih diam. Beliau tidak membalas sepatah kata pun. Pertemuan pun berakhir tanpa dakwah terbuka.

Pertemuan Kedua: Risalah Disampaikan, Sikap Diperjelas

Tidak lama kemudian, Rasulullah ﷺ kembali mengundang mereka untuk pertemuan kedua. Kali ini beliau menyampaikan risalah dengan jelas dan penuh ketegasan, dimulai dengan khutbah tauhid: “Segala puji bagi Allah. Kepada-Nya aku memuji, kepada-Nya aku meminta pertolongan. Kepada-Nya aku beriman dan kepada-Nya aku bertawakal. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.”

Kemudian beliau menegaskan kejujuran dan amanah risalahnya: “Sesungguhnya seorang utusan tidak akan berdusta kepada keluarganya. Demi Allah yang tiada ilah selain Dia, sungguh aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada seluruh manusia secara umum.”

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54johp4400l6&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8k5u62pusnw

Beliau melanjutkan dengan peringatan akhirat yang tegas dan mengguncang: “Demi Allah, kalian pasti akan mati sebagaimana kalian tidur, dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun. Kalian pasti akan dihisab atas apa yang kalian perbuat. Setelah itu tidak ada tempat kecuali surga yang kekal selamanya atau neraka yang kekal selamanya.”

Sikap Abu Thalib: Membela Tanpa Beriman

Dalam suasana hening itu, Abu Thalib—paman Rasulullah ﷺ dan pemimpin Bani Hasyim—angkat bicara. Dengan sikap penuh wibawa ia berkata, “Dengan senang hati kami akan membantumu. Kami menerima nasihatmu dan membenarkan ucapanmu. Mereka yang berkumpul di sini adalah keluarga ayahmu, dan aku hanyalah salah seorang dari mereka.”

Ia lalu menegaskan sikap perlindungannya,  “Namun akulah orang yang paling cepat memenuhi keinginanmu. Demi Allah, aku akan senantiasa melindungi dan membelamu. Hanya saja, aku tidak akan meninggalkan agama Abdul Muthalib.”

BACA JUGA:  Apakah Terjadi Konflik antara Fatimah dan Abu Bakar?

Ucapan ini menandai posisi Abu Thalib secara tegas: melindungi Rasulullah ﷺ secara total, tetapi tidak memeluk Islam.

Abu Lahab kembali menyela dengan keras,

“Demi Allah, ini adalah sikap yang buruk! Cegahlah dia sebelum orang-orang lain bertindak terhadapnya!”

Namun Abu Thalib menjawab dengan sumpah yang mengikat seluruh kabilah,

“Demi Allah, dia akan kami bela selama kami masih hidup.”

Penutup Makna Sejarah

Sejak saat itulah Abu Thalib menjadi benteng pertama dakwah Rasulullah ﷺ. Ia tidak beriman, tetapi ia memahami kebenaran akhlak Muhammad ﷺ dan mempertaruhkan kehormatan kabilahnya untuk melindungi keponakannya. Pembelaan inilah yang membuat Quraisy menahan diri selama bertahun-tahun, hingga Abu Thalib wafat.

Di sinilah sejarah mencatat satu pelajaran penting: Allah menjaga risalah-Nya, bahkan melalui orang yang tidak beriman kepada-Nya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *