KETIKA Hatim Al-Asham memasuki Baghdad, para penduduk berkumpul mengelilinginya. Mereka heran melihat sosok yang dikenal tidak terlalu fasih dalam berbicara, bahkan dijuluki Al-Asham (yang tuli), namun hampir tak pernah kalah dalam perdebatan.
Mereka berkata,
“Wahai Abu Abdurrahman, engkau bukanlah orang yang lancar lidahnya dan tidak pula dikenal fasih. Tetapi tidak ada seorang pun yang berbicara kepadamu melainkan engkau mengalahkannya.”
Hatim menjawab dengan tenang,
“Aku memiliki tiga prinsip ketika berbicara dengan lawan bicaraku:
1. Aku bergembira apabila lawan bicaraku benar.
2. Aku bersedih apabila ia salah.
3. Aku menjaga diriku agar tidak membodohkannya.”
Jawaban itu menunjukkan bahwa kemenangan dalam debat bukanlah soal kepiawaian lidah, melainkan kejernihan hati. Ia tidak masuk ke dalam perdebatan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mencari kebenaran.
Kabar tentang percakapan itu sampai kepada Ahmad bin Hanbal. Mendengarnya, beliau berkata,
“Subḥānallāh, betapa cerdasnya orang itu. Mari berdiri bersama kami menemuinya.”
Kisah ini menegaskan bahwa adab lebih tinggi daripada retorika. Seseorang bisa saja kurang fasih dalam kata-kata, tetapi bila hatinya bersih dari ambisi mengalahkan, ia justru memenangkan hati dan pikiran lawannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

