Budi Pekerti yang Baik

Nasrulloh Baksolahar
1 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SUATU hari Sahal At-Tusturi ditanya tentang makna budi pekerti yang baik. Jawabannya tidak panjang, tetapi dalam dan menyentuh akar keimanan.

Ia menjelaskan bahwa budi pekerti yang baik bermula dari cara seseorang memandang Allah.

Pertama, ia tidak berprasangka buruk kepada Allah Yang Maha Benar dalam urusan rezeki. Ia meyakini bahwa Allah akan menyempurnakan apa yang telah menjadi tanggungan-Nya. Keyakinan ini melahirkan ketenangan, menghilangkan kegelisahan, dan menjauhkan hati dari iri serta keluh kesah.

Kedua, ia menaati Allah dan tidak mendurhakai-Nya, baik dalam urusan pribadinya dengan Allah maupun dalam hubungannya dengan sesama manusia. Artinya, akhlak tidak hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam interaksi sosial.

Ketiga, ia bertanggung jawab terhadap amanah yang dipikulnya. Ia tidak menuntut balasan atas kebaikan yang dilakukan, tidak membalas kezaliman dengan kezaliman, bahkan menyayangi dan memohonkan ampun bagi orang yang telah berbuat salah kepadanya.

Dengan demikian, menurut Sahal At-Tusturi, budi pekerti yang baik bukan sekadar sopan santun lahiriah. Ia adalah perpaduan antara husnuzan kepada Allah, ketaatan yang konsisten, tanggung jawab sosial, serta kelapangan hati dalam memaafkan. []

Sumber: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Asy-Syifa Press, 2009

https://s.shopee.co.id/8KjinaEtGY

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *