DALAM kehidupan rumah tangga modern, tidak sedikit istri yang memiliki penghasilan lebih besar daripada suami. Secara syariat, hal ini bukan masalah. Islam tidak melarang perempuan bekerja atau memiliki harta. Bahkan dalam sejarah, istri Rasulullah ﷺ, Khadijah binti Khuwailid, adalah seorang pengusaha sukses yang hartanya jauh lebih besar dibandingkan Nabi di awal pernikahan.
Namun yang menjadi masalah bukanlah siapa yang berpenghasilan lebih besar, melainkan sikap hati. Ketika gaji berubah menjadi alat untuk merendahkan, maka keharmonisan rumah tangga mulai retak perlahan.
Berikut pembahasan tentang dampak dan penyebab sikap merendahkan suami karena faktor finansial.
1. Lupa Bahwa Nafkah Adalah Kewajiban Suami, Bukan Ajang Kompetisi
Dalam Islam, kewajiban mencari nafkah ada pada suami, sesuai kemampuannya. Jika istri bekerja dan berpenghasilan, itu adalah hak dan kebaikannya, bukan kewajiban.
BACA JUGA: Bolehkah Suami Bercanda Mengatakan Kata Cerai kepada Istri?
Ketika istri mulai berkata:
-
“Kalau bukan karena gajiku, rumah ini tak akan jalan.”
-
“Gajimu kecil, jangan banyak atur.”
Maka kalimat-kalimat seperti ini bukan sekadar ucapan, tapi tusukan harga diri.
Suami adalah pemimpin rumah tangga. Bukan berarti ia selalu paling kaya, tetapi ia memiliki tanggung jawab dan amanah. Ketika kepemimpinan itu dilemahkan dengan sindiran dan perbandingan, rasa hormat akan luntur.
2. Uang Membutakan Adab
Penghasilan yang besar seringkali menumbuhkan rasa superioritas tanpa disadari. Padahal, harta hanyalah titipan Allah.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa harta dan anak hanyalah perhiasan dunia. Jika perhiasan itu dijadikan alat untuk meremehkan pasangan hidup, maka nilainya berubah menjadi ujian.
Istri yang merendahkan suami karena gaji lebih besar biasanya terjebak pada pola pikir:
-
Siapa yang paling menghasilkan, dialah yang paling berkuasa.
-
Siapa yang membayar lebih banyak, dialah yang paling berhak menentukan segalanya.
Padahal rumah tangga bukan perusahaan. Ia dibangun atas dasar sakinah, mawaddah, dan rahmah — bukan saham dan laporan keuangan.
3. Dampak Psikologis pada Suami
Laki-laki secara fitrah memiliki naluri untuk menjadi pelindung dan penanggung jawab. Ketika terus-menerus direndahkan, ia bisa mengalami:
-
Hilangnya rasa percaya diri
-
Menarik diri dari komunikasi
-
Emosi yang terpendam
-
Bahkan mencari penghargaan di luar rumah
Luka harga diri pada laki-laki sering tidak terlihat. Ia mungkin diam, tetapi diamnya menyimpan tekanan.
Dalam jangka panjang, hubungan bisa berubah menjadi dingin, penuh sindiran, atau bahkan pertengkaran yang semakin tajam.
4. Menghilangkan Keberkahan Rumah Tangga
Rezeki bukan hanya soal jumlah, tapi keberkahan. Ada rumah yang penghasilannya sederhana namun penuh ketenangan. Ada pula yang berlimpah tetapi dipenuhi konflik.
Ketika istri merasa lebih tinggi karena gajinya, ia tanpa sadar telah menggeser posisi hormat kepada suami. Padahal Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya penghormatan istri kepada suami selama dalam kebaikan.
Sebaliknya, suami juga wajib memperlakukan istri dengan lembut dan adil. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling memuliakan, bukan saling menjatuhkan.
5. Belajar dari Keteladanan
Kisah Khadijah binti Khuwailid memberikan pelajaran besar. Meski beliau lebih kaya, tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan ia merendahkan Nabi ﷺ. Justru ia menjadi pendukung utama dakwah, penenang saat Rasulullah gelisah, dan penguat ketika beliau dihina.
Kekuatan seorang istri bukan pada jumlah gajinya, tetapi pada kemampuannya menjaga kehormatan suaminya — terutama di saat orang lain mungkin meremehkannya.
BACA JUGA: Benarkah Rezeki Seret karena Suami Pelit kepada Istri?
Solusi Agar Tidak Terjebak Sikap Merendahkan
-
Luruskan niat bekerja – bahwa bekerja adalah ibadah, bukan ajang pembuktian superioritas.
-
Pisahkan masalah finansial dan rasa hormat – perbedaan penghasilan tidak boleh memengaruhi adab.
-
Bangun komunikasi sehat – jika ada beban ekonomi, bicarakan dengan musyawarah, bukan sindiran.
-
Ingat bahwa rezeki bisa berputar – hari ini mungkin istri lebih besar, esok bisa berubah.
Memiliki gaji lebih besar dari suami bukan dosa. Namun merendahkan suami karena hal itu bisa menjadi sumber dosa dan kehancuran rumah tangga.
Rumah tangga bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tetapi siapa yang lebih mampu menahan ego. Bukan tentang siapa yang paling banyak memberi uang, tetapi siapa yang paling banyak memberi ketenangan.
Karena pada akhirnya, yang membuat rumah tetap berdiri bukanlah angka di rekening, melainkan rasa hormat yang tetap dijaga. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

