I’TIKAF adalah ibadah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan menjauh dari kesibukan dunia. Saat menjalani i’tikaf, sering muncul pertanyaan: mana yang lebih utama dilakukan, memperbanyak tilawah Al-Qur’an atau memperbanyak shalat sunnah?
Pada dasarnya, kedua ibadah ini sama-sama sangat dianjurkan. Baik membaca Al-Qur’an maupun shalat sunnah merupakan amalan yang sangat besar pahalanya. Karena itu, orang yang sedang i’tikaf dianjurkan untuk memperbanyak berbagai bentuk ibadah, tidak hanya terpaku pada satu jenis saja.
Namun para ulama menjelaskan bahwa yang paling utama adalah melihat kondisi hati seseorang. Jika hatinya lebih hidup, lebih khusyuk, dan lebih merasakan kedekatan dengan Allah ketika membaca Al-Qur’an, maka memperbanyak tilawah adalah pilihan yang baik. Sebaliknya, jika hati lebih khusyuk ketika berdiri dalam shalat, maka memperbanyak shalat sunnah juga merupakan amalan yang sangat mulia.
BACA JUGA: Bolehkah I’tikaf di Masjid Biasa atau Mushola Dekat Rumah?
Sebagian ulama salaf bahkan menekankan pentingnya memperbanyak Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Diriwayatkan bahwa Imam Malik رحمه الله apabila masuk bulan Ramadhan beliau meninggalkan majelis hadits dan fokus membaca Al-Qur’an.
Demikian pula disebutkan tentang Imam Al-Zuhri رحمه الله. Beliau berkata:
“Sesungguhnya Ramadhan itu adalah bulan membaca Al-Qur’an dan memberi makan orang lain.”
Karena itu banyak ulama yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tilawah saat Ramadhan, terlebih ketika sedang i’tikaf.
Meski demikian, shalat sunnah tetap memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)
Shalat sunnah, khususnya qiyamul lail, adalah ibadah yang sangat agung. Dalam shalat terdapat berbagai bentuk ibadah sekaligus: membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, serta sujud yang merupakan keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya.
BACA JUGA: 10 Terakhir Ramadhan, Apakah Rasulullah ﷺ hanya Ber-i’tikaf?
Karena itu, jalan terbaik adalah menggabungkan keduanya. Seorang yang sedang i’tikaf dapat memperbanyak tilawah Al-Qur’an pada waktu-waktu senggang, lalu memperbanyak shalat sunnah pada malam hari atau saat hati terasa ingin berdiri menghadap Allah.
Intinya, tujuan i’tikaf bukan sekadar memperbanyak jenis ibadah tertentu, tetapi menghadirkan hati sepenuhnya untuk Allah. Pilihlah amalan yang paling membuat hati hidup, paling menghadirkan kekhusyukan, dan paling mendekatkan diri kepada-Nya.
Dengan cara itu, i’tikaf tidak hanya menjadi aktivitas di masjid, tetapi benar-benar menjadi momentum memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

