IMAM Nawawi al-Bantani dalam kitabnya Maraqi al-Ubudiyah menjelaskan bahwa tiang utama shalat bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan khusyuk, kehadiran hati, serta pemahaman terhadap dzikir dan doa yang diucapkan di hadapan Allah.
Seorang hamba hendaknya senantiasa menyadari bahwa ia sedang berdiri di hadapan Allah, bermunajat kepada Raja dari segala raja—Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi.
Karena itu, bisa jadi shalat tidak diterima apabila seorang hamba tidak memenuhi hak-hak Rububiyyah-Nya, yakni tidak menghadirkan hati, ketundukan, dan penghambaan yang tulus.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah mewahyukan kepada sebagian nabi-Nya,
“Apabila engkau shalat, maka hadirkanlah kekhusyukan hatimu, ketundukan anggota tubuhmu, serta tangisan air matamu kepada-Ku. Sesungguhnya Aku adalah Dzat Yang Maha Dekat.”
Sejalan dengan itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dicatat oleh Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Apabila seorang hamba menunaikan shalat dengan sebenar-benarnya, baik sendiri maupun berjamaah, Allah berfirman: ‘Inilah hamba-Ku yang sejati.’”
Dengan demikian, hakikat shalat terletak pada hadirnya hati, tunduknya jiwa, dan hidupnya kesadaran bahwa seorang hamba sedang berhadapan langsung dengan Tuhannya. []
Sumber: Nawawi Al-Bantani, Maraqi Al-Ubudiyah, Wali Pustaka, 2017
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

