ISTIQAMAH, dalam pandangan Rumi, ibarat tongkat Nabi Musa, sementara godaan dunia menyerupai tipu daya para penyihir Firaun. Ketika tongkat itu dilemparkan, ia menelan seluruh ilusi yang tampak menakutkan. Begitu pula istiqamah: ketika ia hadir dalam diri seorang hamba, ia akan meluruhkan segala tipu daya yang menyesatkan.
Keteguhan di jalan yang lurus bukan sekadar sikap, melainkan jalan keselamatan. Siapa yang mampu menjaga istiqamah, sejatinya ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri, karena dengan keteguhan itu ia akan sampai kepada Allah.
Saat seseorang mulai menapaki jalan yang lurus, perlahan jalan-jalan yang berliku akan memudar. Keraguan, godaan, dan kebingungan tidak lagi mendominasi, karena arah hidup telah jelas. Namun, dalam perjalanan itu, satu hal yang tidak boleh hilang adalah harapan.
Bahkan jika seseorang belum mampu berjalan lurus sepenuhnya, setidaknya jangan menjauh dari awal jalannya. Berdirilah di garis permulaannya, tetap mendekat, dan jangan berpaling. Sebab istiqamah bukan hanya tentang kesempurnaan langkah, tetapi tentang kesetiaan untuk tetap berada di jalan itu. []
Sumber: Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi, Penerbit Forum, 2016
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

