DALAM kehidupan rumah tangga, kedekatan antara suami dan istri bukan hanya soal tinggal bersama, tetapi juga mencakup hubungan batin dan fisik. Salah satu bentuk kedekatan itu adalah tidur bersama dan melakukan hubungan intim. Lalu bagaimana jika suami istri memilih tidur terpisah, bahkan tidak lagi melakukan hubungan suami istri?
Dalam Islam, hubungan intim bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dalam hubungan suami istri terdapat pahala. Ini menunjukkan bahwa Islam memandang hubungan tersebut sebagai sesuatu yang penting untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
Para ulama menjelaskan bahwa suami dan istri memiliki hak satu sama lain, termasuk dalam hal kebutuhan biologis. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa memenuhi kebutuhan pasangan adalah kewajiban sesuai kemampuan, selama tidak ada uzur syar’i. Jika salah satu pihak menolak tanpa alasan yang dibenarkan, maka itu bisa menjadi bentuk kedzaliman dalam rumah tangga.
Tidur terpisah pada dasarnya boleh, jika ada alasan yang jelas. Misalnya karena sakit, kelelahan, atau kondisi tertentu yang membuat tidak nyaman. Bahkan dalam beberapa kondisi konflik, Islam memberikan ruang untuk “pisah ranjang” sebagai bentuk peringatan atau proses perbaikan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an tentang tahapan menghadapi nusyuz.
Namun jika tidur terpisah dan meninggalkan hubungan intim dilakukan terus-menerus tanpa alasan yang syar’i, ini bisa menjadi masalah serius. Hubungan suami istri yang sehat membutuhkan kedekatan emosional dan fisik. Mengabaikan salah satunya dapat membuka pintu keretakan, bahkan fitnah.
Imam Ibn Qudamah menjelaskan bahwa suami wajib mendatangi istrinya secara berkala sesuai kebutuhan dan kemampuannya. Ini menunjukkan bahwa hubungan intim bukan pilihan opsional yang boleh ditinggalkan begitu saja tanpa sebab.
BACA JUGA: Durasi Jima yang Sehat bagi Suami, Berapa Lama ya?
Selain itu, menjauh tanpa komunikasi yang baik bisa melukai perasaan pasangan. Rumah tangga bukan hanya tentang kewajiban, tapi juga kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Ketika kedekatan hilang, yang tersisa bisa jadi hanya formalitas tanpa ruh.
Kesimpulannya, tidur terpisah itu boleh dalam kondisi tertentu. Namun jika sampai meninggalkan hubungan intim tanpa alasan yang dibenarkan, maka hal itu tidak dianjurkan dan bisa berdampak buruk secara syar’i maupun emosional. Jika ada masalah, jalan terbaik bukan menjauh, tetapi membicarakannya dengan jujur dan mencari solusi bersama. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

