SETELAH Futuh Mekah hingga Haji Wada, bergelombang manusia memeluk Islam. Di tengah kegembiraan ini turunlah surat:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (An-Naṣr [110]:1)
وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ
“Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (An-Naṣr [110]:2)
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا ࣖ
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” (An-Naṣr [110]:3)
Ketika surat ini turun, sebagian besar sahabat bergembira karena melihat tanda kemenangan Islam yang nyata. Namun, para sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Abbas bin Abdul Muthalib memahami makna yang lebih dalam di baliknya. Mereka mengerti bahwa ketika pertolongan dan kemenangan telah sempurna, itu adalah isyarat bahwa tugas kenabian hampir berakhir.
BACA JUGA: Anak-Anak yang Bermain Bersama Rasulullah ﷺ
Di antara mereka, Abbas justru menangis. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai paman?” Abbas menjawab, “Ini adalah tanda bahwa ajalmu telah dekat.” Rasulullah ﷺ pun membenarkannya.
Tidak lama setelah itu, sekitar 60 hari kemudian, Rasulullah ﷺ pun wafat.
Sejak turunnya surat An-Naṣr, Rasulullah ﷺ memperbanyak dzikir dalam rukuk dan sujudnya. Beliau membaca doa:
سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Artinya: “Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, dan dengan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku.”
Menurut Ibnu Umar, surat An-Naṣr diturunkan di Mina saat Haji Wada’. Setelah itu, turun ayat yang menegaskan kesempurnaan agama:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (Al-Mā’idah [5]:3)
Sekitar 80 hari setelah turunnya ayat ini, Rasulullah ﷺ wafat.
Setelah itu, masih turun ayat tentang kalālah:
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ …
(An-Nisā’ [4]:176)
Ayat ini menjelaskan hukum warisan bagi seseorang yang tidak memiliki keturunan. Sekitar 50 hari setelah turunnya ayat ini, Rasulullah ﷺ wafat.
Kemudian turun pula ayat yang menggambarkan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ …
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri…” (At-Taubah [9]:128)
Sekitar 35 hari setelah turunnya ayat ini, Rasulullah ﷺ wafat.
BACA JUGA: Kapan Rasulullah ﷺ Menyukai Kuah Labu?
Akhirnya, turun ayat penutup yang menjadi pengingat agung bagi seluruh manusia:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ ࣖ
“Dan takutlah kamu pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah…” (Al-Baqarah [2]:281)
Tidak lama setelah turunnya ayat ini, Rasulullah ﷺ pun wafat.
Rangkaian ayat-ayat ini bukan sekadar penutup wahyu, tetapi juga penutup risalah: dimulai dengan kemenangan, disempurnakan dengan syariat, ditegaskan dengan hukum, dilembutkan dengan kasih sayang Nabi, dan diakhiri dengan peringatan tentang hari kembali kepada Allah.
Seolah-olah Al-Qur’an menutup dirinya dengan satu pesan: kemenangan bukanlah akhir, melainkan kembalinya manusia kepada Rabb-nya. []
Sumber: Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, GIP, 2020
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

