Healing Itu Bukan Piknik

3 Min Read
Foto: Freepik

HEALING. Bukan sekadar pergi.
Bukan hanya liburan.
Bukan pula lari dari luka.
Healing adalah pulang.
Ke dalam diri.
Ke ruang sunyi yang lama diabaikan.
Ia hadir pelan.
Seperti napas yang akhirnya disadari.
Masuk.
Keluar.
Menghidupkan kembali yang hampir padam.

Dalam ilmu psikologi, healing disebut sebagai proses pemulihan.
Pemulihan dari stres.
Dari trauma.
Dari luka batin yang tak selalu terlihat.
Otak manusia menyimpan jejak.
Setiap rasa sakit.
Setiap kecewa.
Tersimpan dalam jaringan yang halus.

Di dalam sistem saraf.
Amygdala bekerja.
Mendeteksi ancaman.
Menyimpan rasa takut.
Sementara hippocampus merekam kenangan.
Lengkap dengan rasa yang menyertainya.

Ketika luka tidak diproses,
tubuh tetap mengingat.
Detak jantung lebih cepat.
Otot menegang tanpa sebab.
Pikiran terasa sempit.

Di sinilah healing bekerja.
Secara ilmiah, healing berkaitan dengan regulasi sistem saraf.
Tubuh berpindah dari mode “fight or flight”
menuju “rest and digest”.
Dari tegang.
Menjadi tenang.
Hormon kortisol perlahan turun.
Hormon stres itu.
Yang sering diam-diam menggerogoti.

https://s.shopee.co.id/40aPuqbkTl

Sebaliknya, serotonin dan dopamin meningkat.
Hormon bahagia.
Yang membuat hati terasa ringan.
Aktivitas sederhana bisa menjadi pintu.
Berjalan di pagi hari.
Menyentuh tanah.
Mendengar suara angin.
Atau sekadar diam.
Mengizinkan diri merasakan.
Tanpa menghakimi.

Dalam dunia neuroscience, ini disebut neuroplasticity.
Otak mampu berubah.
Membentuk jalur baru.
Menghapus luka lama.
Sedikit demi sedikit.

Setiap kali seseorang memilih tenang,
alih-alih marah,
ia sedang membentuk ulang dirinya.
Setiap kali seseorang memaafkan,
ia sedang menyembuhkan sel-selnya.

Healing bukan instan.
Ia tidak terburu-buru.
Tidak juga bisa dipaksa.
Kadang ia datang bersama air mata.
Kadang bersama keheningan panjang.
Namun di balik itu,
ada kerja besar yang tak terlihat.

BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?

Tubuh memperbaiki diri.
Pikiran menata ulang makna.
Healing adalah keberanian.
Untuk melihat luka.
Untuk duduk bersamanya.
Tanpa lari.

Dan perlahan,
yang retak mulai menyatu.
Yang gelap mulai terang.
Bukan karena luka hilang.

Tapi karena kita belajar hidup bersamanya.
Itulah healing.
Bukan menjadi tanpa luka.
Melainkan menjadi utuh,
meski pernah hancur. []

Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.

Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *