MUHAMMAD Ali bin Abdullah Asy-Syaukani adalah seorang ulama besar yang nasabnya bersambung hingga Zaid bin Kahlan bin Saba, tokoh yang dikenal dalam sejarah Yaman sebagai pendiri Kerajaan Saba. Ia wafat pada tahun 1834 M, sezaman dengan Pangeran Diponegoro.
Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan ilmiah. Ayahnya, seorang ulama besar, menjadi guru pertamanya. Tentang didikan sang ayah, Imam Syaukani menggambarkannya dengan penuh penghormatan: “Sesungguhnya ayahku menjalani kehidupan para salafusshalih dalam segala kondisi.” Dari rumah inilah, fondasi keilmuan dan keteladanan itu ditanamkan.
Semangatnya dalam menuntut ilmu begitu luar biasa. Ia tidak hanya belajar, tetapi juga langsung mengajarkan apa yang telah dipelajarinya. Dikisahkan bahwa setiap kali ia memahami suatu pelajaran, para pelajar lain segera mengambil manfaat darinya. Hal ini terjadi berulang-ulang dalam satu hari. Bahkan, sebelum ia selesai membaca sebuah kitab kepada gurunya, para pelajar telah lebih dahulu berkumpul untuk belajar darinya.
Salah satu gurunya, Al-Hasan bin Ismail Al-Maghribi, memberikan kesaksian tentang kegigihannya. Ia berkata, “Ia sangat antusias mendatangiku dan banyak membantuku menelusuri berbagai persoalan melalui buku-bukunya. Ia juga menjadi salah satu yang menginspirasiku untuk menjelaskan kitab Al-Muntaqa karya Ibnu Taimiyah. Aku mulai mengerjakan proyek itu di masa hidupnya, dan sebagian besar diselesaikan setelah wafatnya.”
Keilmuan dan kematangannya tampak sejak usia muda. Pada usia 20 tahun, banyak ulama besar yang datang untuk bertanya kepadanya. Kemudian, pada usia 36 tahun, ia diangkat menjadi hakim pada masa pemerintahan Al-Mansur Ali bin Mahdi Abbas.
Sebelum menerima jabatan tersebut, ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, “Segalanya akan ditentukan oleh istikharah kepada Allah, disertai pertimbangan para ahli dalam bidang ini. Apa pun yang dipilihkan oleh Allah, itulah pilihan terbaik.” Setelah hatinya mantap, ia pun menerima amanah tersebut—bukan demi kedudukan, melainkan untuk meraih ridha Allah.
Kisah hidup Imam Asy-Syaukani adalah gambaran tentang ketekunan tanpa lelah: belajar, mengajar, dan mengabdi. Ilmunya tidak berhenti pada dirinya, tetapi terus mengalir, menjadi warisan bagi generasi setelahnya. []
Sumber: Muhammad Al-Jamal, Biografi 10 Imam Besar, Pustaka Al-Kautsar, 2008
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

