Mengapa Umar bin Khattab Menganggap Rasulullah ﷺ Tidak Akan Wafat?

Nasrulloh Baksolahar
3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SIKAP Umar bin Khattab saat wafatnya Rasulullah ﷺ ditandai dengan penolakan yang sangat kuat. Ia tidak percaya bahwa Nabi telah wafat. Dengan emosi yang meluap, ia bahkan menghunus pedang dan mengancam siapa saja yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah meninggal. Dalam keyakinannya, Rasulullah ﷺ hanya pergi sementara, sebagaimana Nabi Musa yang pernah meninggalkan kaumnya lalu kembali.

Di tengah keguncangan itu, Abu Bakar ash-Shiddiq datang menenangkan keadaan. Ia membacakan ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang rasul yang juga akan wafat sebagaimana para rasul sebelumnya. Mendengar ayat tersebut, Umar tersentak. Tubuhnya melemah, lalu ia terduduk, dan akhirnya menerima kenyataan bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar telah wafat.

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Reaksi ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan Rasulullah ﷺ di hati Umar, sekaligus menggambarkan dahsyatnya guncangan yang dirasakan para sahabat atas kehilangan Nabi.

Namun, apakah sikap Umar saat itu sekadar luapan emosi yang tidak terkendali? Ternyata tidak. Umar memiliki landasan pemahaman yang ia pegang saat itu.

Dalam suatu kesempatan pada masa kekhalifahannya, Umar berjalan bersama Abdullah bin Abbas. Ia kemudian mengingat kembali peristiwa tersebut dan berkata:

“Wahai Ibnu Abbas, tahukah kamu apa yang mendorongku mengucapkan perkataanku pada saat wafatnya Rasulullah ﷺ?”

Ibnu Abbas menjawab, “Aku tidak tahu, wahai Amirul Mukminin.”

Umar pun menjelaskan bahwa sikapnya dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap firman Allah:

> وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا

“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah 2:143)

Dari ayat ini, Umar memahami bahwa Rasulullah ﷺ akan terus hidup bersama umatnya untuk menyaksikan amal-amal mereka.

Ia berkata, “Demi Allah, semula aku menduga Rasulullah ﷺ akan tetap hidup bersama kita hingga beliau menjadi saksi atas amal kita. Itulah yang mendorongku mengucapkan perkataanku.”

BACA JUGA:  Kenapa Umar bin Khattab Dijuluki Al-Faruq?

Dengan demikian, sikap Umar bukanlah tanpa dasar. Ia lahir dari perpaduan antara cinta yang sangat dalam kepada Rasulullah ﷺ dan pemahaman yang belum utuh terhadap makna ayat yang ia pahami.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa para sahabat pun bisa terguncang dalam menghadapi ujian besar. Namun, kemuliaan mereka terletak pada kesediaan untuk kembali kepada kebenaran ketika penjelasan yang benar telah datang. []

Sumber: Ath-Thabari, Shahih Tarikh Ath-Thabari, Pustaka Azzam, 2011

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *