SUATU hari, seseorang bertanya kepada Abu Dzar Al-Ghifari,
“Aku ingin mempelajari ilmu, tetapi aku khawatir akan menyia-nyiakannya dan tidak mampu mengamalkannya.”
Abu Dzar menjawab,
“Bersandar pada ilmu itu lebih baik daripada bersandar pada kebodohan.”
Namun, orang itu belum merasa puas. Ia pun mengajukan pertanyaan yang sama kepada Abu Darda. Abu Darda menjawab,
“Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat ia meninggal. Orang yang menuntut ilmu akan dikumpulkan bersama para penuntut ilmu, sedangkan orang yang bodoh akan dikumpulkan bersama orang-orang bodoh.”
Masih dengan kegelisahan yang sama, orang tersebut mendatangi Abu Hurairah dan mengulang pertanyaannya. Abu Hurairah pun menjawab,
“Sesungguhnya engkau lebih baik mendapatkan sesuatu lalu engkau menyia-nyiakannya, daripada tidak pernah mendapatkannya sama sekali.”
Dari rangkaian jawaban para sahabat tersebut, tampak bahwa kekhawatiran tidak mampu mengamalkan ilmu bukanlah alasan untuk meninggalkan pencarian ilmu. Justru, memiliki ilmu—meskipun belum sempurna dalam pengamalannya—tetap lebih baik daripada hidup dalam kebodohan tanpa arah. []
Sumber: Abul Laits As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, Pustaka Amani, 1999
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

