HARTA yang kita miliki sejatinya bukan benar-benar milik kita. Ia hanyalah titipan dari Allah Ta’ala yang suatu saat akan diminta pertanggungjawabannya. Karena itu, cara kita memperlakukan harta menjadi cermin keimanan dan kecerdasan spiritual seseorang. Renungan ini mengajarkan bahwa harta bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi juga sebagai sarana menutupi kekurangan amal dan mendekatkan diri kepada Allah.
Tutuplah aib diri dengan harta yang Allah titipkan.
Setiap manusia memiliki kekurangan dalam ibadah dan ketaatan. Maka, salah satu cara menutupinya adalah dengan memperbanyak amal kebaikan melalui harta. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi).
Ini menunjukkan bahwa harta yang digunakan di jalan Allah bisa menjadi penutup aib dan kekurangan kita. Abdullah bin Umar dikenal gemar bersedekah sebagai bentuk kehati-hatian terhadap amalnya yang belum sempurna.
Saat kita jarang Tahajud, tutuplah dengan sedekah di siang hari.
Tidak semua orang mampu istiqamah dalam qiyamul lail. Namun, jangan sampai kekurangan itu membuat kita berhenti beramal. Sedekah di siang hari bisa menjadi pengganti yang mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap pagi, pada setiap persendian kalian ada sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Jika engkau tidak mampu beramal seperti orang-orang shalih, maka cintailah mereka dan ikutilah jalan mereka dengan apa yang engkau mampu.”
Saat kita jarang shaum sunnah, tutuplah dengan memberi makan orang berbuka.
Puasa sunnah memiliki keutamaan besar, namun jika belum mampu melakukannya, kita masih bisa meraih pahala dengan memberi makan orang yang berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut.” (HR. Tirmidzi).
Abdullah bin Abbas mencontohkan kedermawanan luar biasa, terutama dalam memberi makan kepada sesama.
Saat kita jarang menuntut ilmu, tutuplah dengan memuliakan penuntut ilmu.
Menuntut ilmu adalah jalan menuju surga, namun jika kita belum maksimal, kita masih bisa mengambil bagian dengan memuliakan ahlinya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan ulama.” (HR. Ahmad).
Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Aku tidak mengetahui amalan yang lebih utama setelah yang wajib selain menuntut ilmu.”
BACA JUGA: Memilih Kaya atau Miskin Harta
Maka, mendukung para penuntut ilmu adalah bentuk kontribusi dalam kebaikan yang besar.
Kita harus ingat, harta bukan sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga sarana memperbaiki kekurangan diri. Gunakan harta sebagai penutup aib, penguat amal, dan jalan menuju ridha Allah. Sebab yang kita miliki hari ini, esok akan dimintai pertanggungjawaban. []
SUMBER INSPIRASI: FACEBOOK @TEH NINIH
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

