DI tengah hiruk-pikuk medan pertempuran, kemah Salahuddin al-Ayyubi tidak hanya dipenuhi dengan pembahasan strategi militer dan taktik perang. Justru, ketika malam tiba dan suasana mulai hening, suasana di kemahnya berubah menjadi majelis yang penuh kekhusyukan.
Setiap malam, ia mengundang para qari untuk hadir dan membaca Al-Qur’an di hadapannya, dengan jumlah bacaan mencapai dua hingga empat juz. Salahuddin tidak sekadar mendengarkan, tetapi menyimaknya dengan penuh perhatian dan penghayatan yang mendalam.
Ketekunannya dalam mendengar lantunan ayat-ayat suci menunjukkan sisi lain dari seorang panglima besar. Ia bukan hanya pemimpin yang tangguh di medan perang, tetapi juga seorang hamba yang lembut hatinya di hadapan firman Allah.
Dikisahkan, air matanya sering bercucuran saat mendengarkan Al-Qur’an. Dari sini tampak bahwa kekuatan sejatinya tidak hanya terletak pada pedang dan strategi, tetapi juga pada kedekatannya dengan wahyu yang meneguhkan jiwa dan menuntun langkahnya. []
Sumber: Ali Muhammad Ash-Shallabi, Salahuddin Al-Ayyubi, Pustaka Al-Kautsar, 2015
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

