Hikmah Sejarah: Ali bin Abi Thalib Tidak Menjadi Khalifah Pertama

Nasrulloh Baksolahar
3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

ABUL Hasan Ali Nadwi dalam karyanya tentang Ali bin Abi Thalib menjelaskan bahwa tidak terpilihnya Ali sebagai khalifah pertama mengandung hikmah sejarah yang mendalam dalam pembentukan sistem kepemimpinan Islam.

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, kepemimpinan umat tidak langsung jatuh kepada keluarga beliau, melainkan kepada Abu Bakar dari Bani Taim, sebuah kabilah yang tidak dominan secara politik. Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh Umar bin Khattab dari Bani Adi, kemudian Utsman bin Affan dari Bani Umayyah, dan barulah pada tahap berikutnya berada di tangan Ali bin Abi Thalib dari Bani Hasyim, keluarga Rasulullah ﷺ.

Menurut Syed Amir Ali dalam A Short History of the Saracens, Ali bin Abi Thalib sendiri menerima dan menyetujui kepemimpinan Abu Bakar. Hal ini menunjukkan adanya kesepahaman di kalangan sahabat bahwa kepemimpinan ditentukan berdasarkan kemaslahatan umat, bukan semata-mata hubungan kekerabatan.

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Ketika akhirnya Ali diangkat sebagai khalifah, pengangkatannya bukan karena faktor kedekatan dengan Rasulullah ﷺ, tetapi karena pada masa itu tidak ada lagi sahabat yang lebih unggul dalam kapasitas, keilmuan, dan kelayakan kepemimpinan darinya.

Dari rangkaian peristiwa ini, tampak bahwa sejak awal Islam membangun prinsip kepemimpinan yang tidak berbasis pada garis keturunan. Kepemimpinan tidak diwariskan secara otomatis, melainkan ditentukan oleh kelayakan, kemampuan, dan penerimaan umat.

Hikmah ini menjadi sangat penting. Seandainya sejak awal kepemimpinan langsung berada di tangan Bani Hasyim—kabilah Rasulullah ﷺ dan Ali bin Abi Thalib—besar kemungkinan akan terbentuk persepsi bahwa kekuasaan adalah hak turun-temurun keluarga tertentu. Hal ini berpotensi mengarah pada sistem monarki yang diwariskan dari generasi ke generasi.

BACA JUGA:  Infak Abu Bakar di Era Mekkah

Sebagian ulama bahkan berpendapat bahwa jika sejak awal Bani Hasyim memegang kekuasaan, maka kepemimpinan mungkin tidak akan keluar dari mereka selamanya, dan kabilah Quraisy lainnya tidak akan mendapatkan kesempatan.

Dengan demikian, urutan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin mengandung pelajaran penting: Islam menegakkan sistem yang berbasis merit (kelayakan), bukan nasab (keturunan). Prinsip ini menjadi fondasi bagi terbentuknya masyarakat yang lebih adil, terbuka, dan terhindar dari pengkultusan garis keluarga dalam kekuasaan. []

Sumber: Abul Hasan An-Nadwi, Ali bin Abi Thalib, Tinta Media, 2015

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *