SEPULANG dari musim haji di Makkah, sekelompok penduduk Yatsrib membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar pengalaman spiritual: benih keimanan. Mereka telah bertemu Rasulullah ﷺ dan merasakan kebenaran risalah Islam. Namun setibanya di Yatsrib, muncul satu pertanyaan besar—bagaimana menyampaikan Islam kepada masyarakat yang masih terbelah oleh konflik suku?
Dalam musyawarah mereka, lahirlah keputusan strategis. Mereka mengirim utusan kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan sebuah permintaan yang sederhana namun menentukan: agar diutus seseorang yang mampu mengajarkan Al-Qur’an dan membimbing masyarakat kepada Islam.
Permintaan itu dijawab dengan diutusnya Mus’ab bin Umair—seorang pemuda Quraisy yang dikenal cerdas, lembut, dan memiliki kemampuan komunikasi yang kuat. Namun kehadirannya di Yatsrib menghadirkan tantangan baru: di mana ia akan tinggal, dan dari mana dakwah akan dimulai?
Di tengah risiko sosial dan tekanan yang mungkin muncul, tampil sosok berani, As’ad bin Zurarah. Ia membuka rumahnya sebagai tempat tinggal Mus’ab sekaligus menjadikannya pusat dakwah Islam pertama di Yatsrib.
Sejarawan awal Islam, Urwah bin Zubair, mencatat bahwa Mus’ab tinggal di lingkungan Bani Ghanm, di rumah As’ad. Dari tempat itulah dakwah dimulai—secara tenang, terukur, dan penuh kehati-hatian.
Metode yang digunakan bukan konfrontasi terbuka, melainkan pendekatan personal. Mus’ab, dengan bimbingan As’ad, mendatangi tokoh-tokoh Aus dan Khazraj secara diam-diam, berdialog di rumah-rumah mereka, memahami karakter mereka, lalu menyampaikan Islam dengan cara yang tepat. Informasi yang diberikan As’ad tentang kondisi sosial dan kepribadian tiap individu menjadi kunci efektivitas dakwah ini.
BACA JUGA: Sikap Rasulullah ﷺ terhadap Ahlulbait: Apakah Memiliki Hak Istimewa?
Perlahan, hasilnya mulai tampak. Islam menyebar bukan melalui paksaan, tetapi melalui pemahaman. Ketegangan lama antara suku Aus dan Khazraj yang selama ini membara mulai mereda. Dakwah menjadi seperti air yang menyejukkan bara konflik.
Rumah As’ad bin Zurarah pun memainkan peran yang mirip dengan Dar al-Arqam di Makkah—sebuah pusat pembinaan yang sunyi, namun menentukan arah sejarah.
Dari rumah sederhana itulah, fondasi masyarakat Islam di Yatsrib dibangun. Sebuah langkah kecil yang kelak membuka jalan bagi hijrah dan lahirnya peradaban Madinah. []
Sumber: Hamid Az-Zaini, The Untold Stories Sahabat Nabi, GIP, 2025
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

