ABU Raja’ al-Utaridi adalah seorang perawi hadis terkemuka dari generasi tabi’in yang berasal dari Basrah. Ia dikenal sebagai saksi hidup masa jahiliyah sebelum akhirnya memeluk Islam. Ketika keinginannya tumbuh untuk bertemu Rasulullah ﷺ di Madinah, ia justru mendapati bahwa Nabi telah wafat. Meski demikian, perjalanan spiritualnya tidak berhenti; justru semakin menguat dalam penghayatan ibadah.
Ibnu al-A’rabi meriwayatkan sebuah ungkapan yang menggambarkan kedalaman jiwanya. Abu Raja’ berkata, “Aku tidak pernah putus harapan di dunia selama aku masih bisa menundukkan wajahku setiap hari sebanyak lima kali.” Kalimat ini menegaskan bahwa shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi sumber harapan yang terus menghidupkan hati.
Dalam shalat, seorang hamba berdiri, tunduk, dan bersujud, menghadapkan seluruh dirinya kepada Allah. Di sanalah doa-doa dipanjatkan, harapan digantungkan, dan kegelisahan diluruhkan. Karena itu, inti dari shalat adalah doa—sebuah pengakuan akan kelemahan diri sekaligus keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar.
Selama seorang hamba masih menegakkan shalat, pintu harapan tidak pernah tertutup. Ia selalu memiliki ruang untuk kembali, memohon, dan berharap. Shalat menjadikan hati tetap terhubung dengan langit, dan selama hubungan itu terjaga, harapan tidak akan pernah benar-benar padam. []
Sumber; Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2008
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

