DI antara ulama besar generasi tabi‘ut tabi‘in, Sufyan bin Uyainah menempati posisi penting dalam transmisi ilmu. Ia adalah salah satu guru dari Imam Syafi’i. Bahkan Imam Syafi‘i pernah menegaskan, “Seandainya bukan karena Malik dan Sufyan bin Uyainah, niscaya ilmu orang-orang Hijaz telah hilang.”
Di antara nasihatnya yang tajam dan mendalam adalah tentang hakikat maksiat—bahwa tidak semua dosa memiliki akar yang sama.
Sufyan bin Uyainah berkata:
“Barangsiapa bermaksiat karena syahwat, ia masih memiliki peluang untuk menemukan jalan keluar. Namun, barangsiapa bermaksiat karena kesombongan, maka ia akan terjerumus dalam kehinaan.”
Penjelasan ini tidak berhenti pada teori, tetapi ditautkan langsung dengan kisah agung dalam Al-Qur’an. Ia melanjutkan:
“Sesungguhnya Nabi Adam bermaksiat karena syahwat, lalu ia diampuni. Sedangkan Iblis bermaksiat karena kesombongan, maka ia dilaknat.”
Dari perbandingan ini, terlihat perbedaan mendasar: syahwat bisa membawa seseorang jatuh, tetapi masih menyisakan kesadaran untuk kembali. Sementara kesombongan menutup pintu taubat, karena pelakunya merasa tidak bersalah.
Nasihat Sufyan tidak berhenti di situ. Ia juga mengingatkan tentang bahaya murka Allah:
“Kemarahan Allah adalah penyakit yang tidak ada obatnya.”
Namun, ia menutup pesannya dengan harapan yang kuat:
“Barangsiapa yang merasa cukup dengan Allah, maka Allah akan menjadikan manusia lain membutuhkannya.”
Dengan demikian, ajaran Sufyan bin Uyainah bukan sekadar peringatan tentang dosa, tetapi juga peta jalan ruhani: menjauhi kesombongan, mengendalikan syahwat, dan menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah. []
Sumber:
Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2008
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

