IBNU Mubarak berkata,
“Bagaimana mungkin seseorang bersungguh-sungguh berthawaf di Baitullah, sementara hatinya berada di Khurasan atau Irak?”
Lalu ia ditanya,
“Mengapa hal itu bisa terjadi?”
Ibnu Mubarak menjawab,
“Karena ia senang jika dirinya disebut sebagai orang yang bertetangga dengan kota Mekah.”
Ibrahim bin Adham pun berkata,
“Allah tidak akan membenarkan orang yang menginginkan ketenaran.”
Demikianlah, lahirnya beribadah di tempat paling mulia, tetapi batinnya justru terikat pada pujian manusia. []
Sumber: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Republika, 2016
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

