Berthawaf di Baitullah, Hatinya di Khurasan

Nasrulloh Baksolahar
1 Min Read
Foto: Freepik

IBNU Mubarak berkata,

“Bagaimana mungkin seseorang bersungguh-sungguh berthawaf di Baitullah, sementara hatinya berada di Khurasan atau Irak?”

Lalu ia ditanya,

“Mengapa hal itu bisa terjadi?”

Ibnu Mubarak menjawab,

“Karena ia senang jika dirinya disebut sebagai orang yang bertetangga dengan kota Mekah.”

Ibrahim bin Adham pun berkata,

“Allah tidak akan membenarkan orang yang menginginkan ketenaran.”

Demikianlah, lahirnya beribadah di tempat paling mulia, tetapi batinnya justru terikat pada pujian manusia. []

Sumber: Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Republika, 2016

https://s.shopee.co.id/3Vf1tnluRU

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *