Khusyuk dalam Kekufuran

Nasrulloh Baksolahar
1 Min Read
Foto: Freepik

DALAM perjalanan menuju Masjid Al-Aqsa untuk menerima kunci Baitul Maqdis, Umar bin Khattab melihat seorang rahib Nasrani sedang beribadah dengan sangat khusyuk di hadapan patung dan salib.

Rahib itu tampak begitu tenggelam dalam ritualnya. Sujudnya panjang, wajahnya tenang, dan ekspresinya penuh keseriusan. Sesekali terdengar isak tangis keluar dari lisannya.

Melihat pemandangan tersebut, Umar justru menangis. Air matanya membasahi janggutnya. Lalu beliau teringat firman Allah:

وَجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ خَاشِعَةٌ

“Pada hari itu banyak wajah yang tunduk hina.” (QS. Al-Ghasyiyah: 2)

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ

“Bekerja keras lagi kepayahan.” (QS. Al-Ghasyiyah: 3)

تَصْلٰى نَارًا حَامِيَةً

“Mereka memasuki api yang sangat panas.” (QS. Al-Ghasyiyah: 4)

Umar menangis bukan karena kagum pada ibadah sang rahib, melainkan karena hatinya tidak tahan melihat bagaimana setan mampu menyesatkan manusia ke dalam keyakinan yang batil, namun ditanamkan dengan kesungguhan yang begitu mendalam di dalam jiwa.

Rahib itu tampak bersungguh-sungguh dalam ibadahnya, tetapi kesungguhan tanpa kebenaran tetap akan membawa manusia kepada kesesatan. Dari sinilah Umar memahami bahwa kekhusyukan saja tidak cukup apabila tidak dibangun di atas tauhid dan petunjuk Allah. []

Sumber:
Salim A. Fillah, Agar Bidadari Cemburu, Pro-U Media, 2008.

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *