Di Akhir Zaman, Manusia Tidak Lagi Peduli Halal dan Haram dalam Mencari Harta

10 Min Read
Foto: Islampos

DARI Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامِ

“Pasti akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi memperdulikan dari mana hartanya itu didapatkan, apakah dari jalan yang halal ataukah haram.” (HR. Al-Bukhari no. 2083)

Hadits yang agung ini merupakan salah satu tanda kenabian Rasulullah ﷺ. Beliau mengabarkan sebuah fenomena yang akan muncul pada masa mendatang, yaitu ketika manusia tidak lagi menjadikan halal dan haram sebagai pertimbangan utama dalam mencari nafkah.

Jika kita memperhatikan kondisi masyarakat saat ini, terasa sekali bahwa peringatan Nabi ﷺ tersebut semakin nyata. Banyak orang lebih sibuk memikirkan berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan daripada mempertanyakan dari mana harta itu berasal. Yang penting untung, yang penting cepat kaya, dan yang penting kebutuhan terpenuhi. Adapun persoalan halal dan haram sering kali dianggap sebagai urusan nomor sekian.

Padahal dalam Islam, keberkahan hidup tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi juga oleh cara memperolehnya.

Generasi Salaf Sangat Berhati-hati terhadap Harta

Pada masa generasi awal Islam, para sahabat dan ulama salaf memiliki sikap yang sangat hati-hati dalam urusan harta. Mereka tidak hanya menjauhi yang jelas-jelas haram, tetapi juga meninggalkan perkara syubhat yang masih meragukan.

Mereka memahami bahwa setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh akan berpengaruh terhadap hati, ibadah, dan kehidupan seseorang. Karena itulah mereka sangat selektif dalam mencari rezeki.

BACA JUGA:  Tanda-Tanda Akhir Zaman Menurut Rasulullah ﷺ

Bagi mereka, kehilangan keuntungan dunia tidaklah seberapa dibandingkan kehilangan keridhaan Allah. Mereka lebih rela hidup sederhana daripada harus memenuhi kebutuhan dengan cara yang tidak diridhai oleh-Nya.

Namun seiring berjalannya waktu, nilai-nilai tersebut perlahan mulai memudar. Banyak orang tidak lagi menjadikan hukum syariat sebagai pedoman dalam aktivitas ekonomi. Yang dijadikan ukuran adalah keuntungan, popularitas, dan kemudahan.

Akibatnya, muncul berbagai bentuk transaksi yang mengabaikan aturan agama. Kejujuran semakin langka, sementara manipulasi dan tipu daya semakin dianggap sebagai bagian dari strategi bisnis.

Pergeseran Nilai yang Mengkhawatirkan

Hadits Rasulullah ﷺ ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang masalah ekonomi. Lebih dari itu, hadits ini menggambarkan penyakit hati yang sangat berbahaya.

Ketika seseorang tidak lagi peduli terhadap halal dan haram, berarti ada sesuatu yang telah berubah dalam dirinya. Hatinya mulai kehilangan sensitivitas terhadap dosa. Ia tidak lagi merasa takut ketika melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah.

Dalam kondisi seperti ini, tujuan hidup berubah. Harta menjadi orientasi utama, sedangkan ridha Allah berada di posisi kedua atau bahkan terlupakan sama sekali.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak sedikit orang yang rela berbohong demi keuntungan. Ada yang memalsukan data, menipu pelanggan, menyuap, mengurangi timbangan, atau mengambil hak orang lain demi mendapatkan tambahan penghasilan.

Lebih menyedihkan lagi, sebagian orang mengetahui bahwa apa yang dilakukan adalah haram, namun tetap melakukannya karena menganggap bahwa semua orang juga melakukan hal yang sama.

Padahal banyaknya pelaku maksiat tidak pernah mengubah status hukum sebuah perbuatan. Yang haram tetap haram meskipun dilakukan oleh mayoritas manusia.

Maraknya Praktik Ribawi di Zaman Modern

Salah satu contoh yang paling nyata dari fenomena yang disebutkan dalam hadits ini adalah menyebarnya praktik riba dalam kehidupan modern.

Saat ini berbagai layanan keuangan berbasis bunga sangat mudah ditemukan. Mulai dari kartu kredit, pinjaman berbunga, hingga berbagai bentuk transaksi yang mengandung unsur riba telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bahkan sebagian orang menganggap riba sebagai sesuatu yang biasa dan tidak perlu dipermasalahkan. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah memberikan ancaman yang sangat keras terhadap pelaku riba.

Kondisi ini membuat seorang muslim sering menghadapi tantangan besar dalam menjaga kemurnian muamalahnya. Banyak sistem ekonomi yang telah bercampur dengan unsur-unsur yang dilarang syariat sehingga seseorang harus lebih berhati-hati dan lebih banyak belajar tentang fikih muamalah.

Bukan berarti semua bentuk usaha dan transaksi saat ini haram. Namun kenyataannya, unsur-unsur yang meragukan dan terlarang semakin banyak ditemukan. Karena itulah seorang muslim dituntut untuk lebih teliti sebelum mengambil keputusan dalam urusan harta.

Debu Riba yang Sulit Dihindari

Sebagian ulama menjelaskan bahwa pada masa tertentu manusia akan sulit terhindar sepenuhnya dari pengaruh riba. Bahkan orang yang tidak secara langsung terlibat pun terkadang terkena dampaknya.

Hal ini tidak berarti seseorang boleh menyerah lalu membiarkan dirinya tenggelam dalam praktik yang haram. Justru keadaan tersebut mengharuskan seorang muslim untuk semakin berhati-hati dan terus berusaha mencari jalan yang paling bersih serta paling dekat kepada kehalalan.

Seorang mukmin hendaknya memiliki prinsip bahwa mencari rezeki halal adalah bagian dari ibadah. Karena itu, usaha yang dilakukan bukan sekadar untuk mendapatkan uang, melainkan juga untuk mendapatkan keberkahan.

Berapa banyak orang yang memiliki harta melimpah tetapi hidupnya tidak tenang. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang penghasilannya sederhana namun kehidupannya penuh ketenteraman dan kebahagiaan.

Keberkahan sering kali lebih berharga daripada jumlah nominal yang besar.

Miliarder, Keuangan, Akhir Zaman
Foto: Freepik

Ketika Harta Halal Menjadi Barang yang Sangat Berharga

Rasulullah ﷺ juga memberikan isyarat lain tentang kondisi akhir zaman melalui sabda beliau:

يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنَ الْفِتَنِ

“Hampir saja harta terbaik milik seorang muslim adalah kambing yang dia gembalakan di lereng-lereng gunung dan tempat-tempat turunnya hujan, karena ia menyelamatkan agamanya dari berbagai fitnah.” (HR. Al-Bukhari no. 7088)

Hadits ini menunjukkan bahwa akan datang masa ketika menjaga agama menjadi sesuatu yang sangat sulit. Berbagai fitnah menyebar di mana-mana, termasuk fitnah dalam urusan mencari nafkah.

Pada saat itu, seseorang lebih memilih hidup sederhana dan jauh dari keramaian demi menjaga agamanya daripada memperoleh kekayaan yang bercampur dengan perkara haram.

Pesan utama hadits ini bukan mengajak semua orang meninggalkan pekerjaan dan pergi ke gunung. Yang ingin ditegaskan adalah pentingnya menjaga agama meskipun harus mengorbankan sebagian keuntungan dunia.

Ketika fitnah semakin besar, keselamatan agama harus menjadi prioritas utama.

Tugas Seorang Muslim di Tengah Zaman yang Penuh Fitnah

Meskipun kondisi zaman semakin berat, seorang muslim tidak boleh berputus asa. Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.

Yang dituntut dari kita adalah terus berusaha mencari yang halal semampu mungkin. Jika ada perkara yang meragukan, hendaknya ditinggalkan. Jika belum memahami hukum suatu transaksi, hendaknya bertanya kepada para ulama dan ahli ilmu.

Pejuang, Cara Kaya di Usia Muda, Uang, Cara Menguatkan Iman, Utang, Akhir Zaman
Foto: AI / Islampos Media

Selain itu, penting bagi setiap muslim untuk mempelajari fikih muamalah. Banyak orang terjatuh ke dalam transaksi yang haram bukan karena sengaja menentang syariat, tetapi karena tidak mengetahui hukumnya.

BACA JUGA:  Di Akhir Zaman, Hamba Sahaya Melahirkan Tuannya, dan Orang yang tak Beralas Kaki, Telanjang serta Penggembala Kambing Berlomba-lomba Membangun Gedung

Oleh sebab itu, ilmu menjadi benteng yang sangat penting dalam menjaga diri dari berbagai penyimpangan ekonomi yang semakin kompleks.

Kita juga perlu menanamkan keyakinan bahwa rezeki telah ditentukan oleh Allah. Tidak ada seorang pun yang akan meninggal sebelum seluruh rezekinya sempurna diterima. Karena itu, tidak ada alasan untuk mencari jalan yang haram demi mempercepat datangnya rezeki.

Penutup

Hadits Rasulullah ﷺ tentang manusia yang tidak lagi peduli terhadap halal dan haram merupakan peringatan yang sangat relevan bagi kehidupan saat ini. Kita hidup pada masa ketika berbagai bentuk transaksi berkembang dengan sangat cepat, sementara pemahaman agama tidak selalu berkembang seiring dengannya.

Akibatnya, banyak orang terjebak dalam pola pikir bahwa yang penting mendapatkan keuntungan, tanpa memikirkan apakah cara yang ditempuh diridhai Allah atau tidak.

Seorang muslim sejati tidak hanya bertanya, “Berapa banyak yang saya dapatkan?” tetapi juga bertanya, “Dari mana saya mendapatkannya?”

Sebab harta yang halal, meskipun sedikit, jauh lebih bernilai daripada harta yang melimpah namun diperoleh dengan cara yang haram. Harta halal mendatangkan keberkahan, menenangkan hati, dan menjadi bekal menuju akhirat. Sedangkan harta haram, walaupun terlihat menguntungkan di dunia, pada akhirnya hanya akan menjadi penyesalan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan, serta menjaga hati kita agar tetap sensitif terhadap batas-batas yang telah ditetapkan oleh-Nya. Aamiin. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *