Yang Dilarang Dalam Islam bagi Suami Istri ketika Jima

Dini Koswarini
5 Min Read
Foto: Freepik

HUBUNGAN suami istri merupakan ibadah yang memiliki nilai pahala apabila dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Islam tidak hanya mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT, tetapi juga mengajarkan adab dalam kehidupan rumah tangga, termasuk ketika melakukan hubungan intim (jima).

Karena itu, seorang Muslim hendaknya mengetahui apa saja yang diperbolehkan dan apa yang dilarang agar kehidupan rumah tangga tetap diberkahi.

Berikut beberapa larangan dalam Islam yang perlu diperhatikan oleh suami istri ketika berjima.

1. Melakukan Hubungan Intim Saat Istri Sedang Haid

Ini merupakan larangan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, haid itu adalah suatu kotoran. Maka jauhilah istri pada waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka hingga mereka suci.” (QS. Al-Baqarah: 222).

Yang dimaksud adalah larangan melakukan hubungan seksual melalui kemaluan ketika istri sedang mengalami haid. Namun, suami tetap boleh bermesraan, bercumbu, atau menunjukkan kasih sayang kepada istrinya selama tidak melakukan hubungan intim tersebut.

BACA JUGA: Bolehkah Suami Istri Jima Tanpa Memakai Pakaian Sehelai Benang Pun?

2. Berjima Melalui Dubur

Islam mengharamkan hubungan intim melalui dubur. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Allah tidak akan melihat kepada seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya melalui duburnya.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).

Dubur bukanlah tempat yang Allah jadikan untuk hubungan suami istri. Selain bertentangan dengan syariat, praktik ini juga memiliki risiko kesehatan yang cukup besar.

3. Menyebarkan Rahasia Hubungan Intim

Apa yang terjadi di kamar tidur adalah rahasia suami istri. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya, lalu ia menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim).

Karena itu, menceritakan secara rinci aktivitas hubungan intim kepada teman, kerabat, atau media sosial termasuk perbuatan yang dilarang. Menjaga kehormatan pasangan merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.

https://s.shopee.co.id/1VvbPEdinu

4. Memaksa Pasangan Tanpa Memperhatikan Kondisinya

Hubungan suami istri seharusnya dibangun di atas kasih sayang, bukan paksaan. Memang istri dianjurkan memenuhi ajakan suami selama tidak ada uzur syar’i. Namun di sisi lain, suami juga diperintahkan memperlakukan istrinya dengan baik.

Apabila pasangan sedang sakit, kelelahan, mengalami gangguan kesehatan, atau memiliki alasan yang dapat diterima, hendaknya keduanya saling memahami dan bermusyawarah dengan penuh kelembutan.

5. Mengabaikan Adab Sebelum Berjima

Salah satu sunnah yang sering dilupakan adalah membaca doa sebelum melakukan hubungan intim. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

“Bismillah. Allahumma jannibnasy syaithana wa jannibisy syaithana ma razaqtana.”

Artinya: “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Meninggalkan doa ini memang tidak membuat hubungan intim menjadi haram, tetapi suami istri kehilangan keutamaan besar yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

6. Berhubungan Intim Ketika Sedang Ihram atau Berpuasa Wajib di Siang Hari

Bagi orang yang sedang menjalankan ibadah haji atau umrah dalam keadaan ihram, hubungan suami istri dilarang hingga tahallul.

Demikian pula ketika menjalankan puasa Ramadan pada siang hari. Melakukan hubungan intim dengan sengaja di siang Ramadan termasuk dosa besar dan mewajibkan kafarat yang berat selain mengqadha puasanya.

Jima, Istri Tidak Perawan
Foto: Freepik

7. Melupakan Kebersihan Setelah Berjima

Islam sangat menekankan kebersihan. Setelah selesai berjima, suami dan istri diwajibkan mandi junub sebelum melaksanakan ibadah seperti shalat atau membaca Al-Qur’an menurut pendapat mayoritas ulama.

Selain mandi wajib, menjaga kebersihan tubuh dan pakaian juga merupakan bagian dari adab yang dianjurkan dalam Islam.

BACA JUGA: Motivasi Berjimak dengan Istri

Hubungan Intim adalah Ibadah, Bukan Sekadar Memenuhi Nafsu

Islam memandang hubungan suami istri sebagai bentuk ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hubungan intim dengan pasangan yang halal bernilai sedekah.

Karena itu, suami istri hendaknya menjaga adab, saling menghormati, menutup aib masing-masing, serta menghindari segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan demikian, hubungan yang dibangun bukan hanya menghadirkan kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi jalan meraih pahala dan keberkahan dalam rumah tangga.

Pada akhirnya, tujuan jima dalam Islam bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis, melainkan juga mempererat cinta, menjaga kehormatan, melahirkan keturunan yang saleh, dan memperkokoh ikatan keluarga yang diridhai Allah SWT. Dengan memahami batasan-batasan syariat, pasangan suami istri dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan tenang, penuh kasih sayang, dan senantiasa berada dalam keberkahan-Nya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *