BANYAK orang berkata tidak punya waktu untuk olahraga.
Ada yang sibuk bekerja.
Ada yang sibuk berdagang.
Ada yang sibuk mengurus keluarga.
Ada pula yang merasa tubuhnya masih sehat sehingga tidak perlu berolahraga.
Hari demi hari berlalu.
Minggu berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Tanpa disadari, tubuh semakin jarang bergerak.
Padahal tubuh manusia diciptakan untuk bergerak.
Berjalan.
Mengangkat.
Mendorong.
Menarik.
Bukan hanya duduk sepanjang hari.
Bukan hanya berbaring sambil memegang telepon genggam.
Bukan hanya berpindah dari kursi ke tempat tidur.
Ketika tubuh kurang bergerak dalam waktu yang lama, berbagai masalah kesehatan mulai muncul.
Awalnya mungkin tidak terasa.
Namun perlahan-lahan dampaknya mulai terlihat.
Tubuh lebih mudah lelah.
Napas terasa pendek saat menaiki tangga.
BACA JUGA: Jenis-Jenis Sihir: ‘Ain, Qulubi, Hasadi: Solusinya Lewat Ruqyah tanpa Syirik
Berat badan bertambah.
Perut semakin membesar.
Tidur menjadi kurang nyenyak.
Bahkan semangat menjalani aktivitas sehari-hari mulai menurun.
Banyak orang menganggap hal tersebut sebagai bagian normal dari pertambahan usia.
Padahal sering kali penyebabnya adalah kurangnya aktivitas fisik.

Secara ilmiah, tubuh membutuhkan gerakan untuk menjaga fungsi organ-organ penting.
Jantung adalah salah satunya.
Ketika seseorang berolahraga, denyut jantung meningkat.
Aliran darah menjadi lebih lancar.
Oksigen dan nutrisi dapat didistribusikan dengan lebih baik ke seluruh tubuh.
Sebaliknya, ketika seseorang jarang bergerak, kemampuan jantung untuk bekerja secara optimal dapat menurun.
Risiko tekanan darah tinggi meningkat.
Risiko penyakit jantung meningkat.
Risiko stroke juga meningkat.
Tidak hanya itu.
Kurangnya aktivitas fisik juga memengaruhi metabolisme tubuh.
Metabolisme adalah proses tubuh mengubah makanan menjadi energi.
Saat tubuh aktif bergerak, kalori dibakar.
Energi digunakan.
Namun ketika seseorang lebih banyak duduk dan kurang bergerak, pembakaran kalori menjadi lebih rendah.
Akibatnya, lemak lebih mudah menumpuk.
Berat badan meningkat.
Risiko obesitas menjadi lebih besar.
Dari obesitas kemudian muncul berbagai penyakit lainnya.
Diabetes tipe dua.
Kolesterol tinggi.
Penyakit jantung.
Gangguan pembuluh darah.
Semua saling berkaitan.
Masalah tidak berhenti sampai di situ.
Otot juga membutuhkan aktivitas agar tetap kuat.
Sama seperti pisau yang harus sering digunakan agar tetap tajam.
Otot yang jarang digunakan akan melemah.
Massa otot berkurang.
Kekuatan tubuh menurun.
Akibatnya, aktivitas sederhana seperti mengangkat barang, berjalan jauh, atau menaiki tangga menjadi terasa berat.
Tulang pun mengalami hal yang sama.
Olahraga membantu merangsang pembentukan dan pemeliharaan kepadatan tulang.
Jika tubuh jarang bergerak, kepadatan tulang dapat berkurang.
Risiko osteoporosis meningkat.
Tulang menjadi lebih rapuh.
Lebih mudah mengalami cedera.
Lebih mudah mengalami patah tulang.
Yang sering tidak disadari adalah dampaknya terhadap kesehatan mental.
Banyak orang berpikir olahraga hanya bermanfaat untuk fisik.
Padahal manfaatnya jauh lebih luas.
Saat berolahraga, tubuh melepaskan berbagai zat kimia yang bermanfaat bagi otak.
Di antaranya endorfin, dopamin, dan serotonin.
Zat-zat ini berperan dalam menciptakan perasaan nyaman, tenang, dan bahagia.
Karena itu, orang yang rutin berolahraga cenderung memiliki suasana hati yang lebih baik.
Lebih segar.
Lebih bersemangat.
Lebih mampu menghadapi tekanan hidup.
Sebaliknya, kurang bergerak dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan perasaan mudah lelah secara mental.
Tidak heran jika seseorang yang jarang berolahraga sering mengeluh kurang berenergi.
Kurang fokus.
Kurang termotivasi.
Padahal salah satu penyebabnya adalah tubuh yang terlalu lama pasif.
Penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis dan penurunan kualitas hidup.
Tubuh manusia ibarat mesin.
Mesin yang dirawat akan bekerja dengan baik.
Mesin yang lama tidak digunakan justru lebih cepat rusak.
Demikian pula tubuh kita.
Semakin jarang digunakan untuk bergerak, semakin banyak fungsi tubuh yang mengalami penurunan.
Kabar baiknya, olahraga tidak harus mahal.
Tidak harus menjadi atlet.
Tidak harus pergi ke pusat kebugaran.
Berjalan kaki selama tiga puluh menit.
Bersepeda,
Senam rinnan.
Joging.
Membersihkan halaman rumah.
Semua termasuk aktivitas fisik yang bermanfaat.
BACA JUGA: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu ketika Tahajjud?
Yang terpenting adalah dilakukan secara rutin.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Karena kesehatan tidak dibangun dalam satu malam.
Kesehatan dibangun melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Jangan menunggu sakit untuk mulai bergerak.
Jangan menunggu dokter memberikan peringatan.
Jangan menunggu tubuh kehilangan kemampuannya.
Mulailah dari sekarang.
Mulailah dari langkah yang paling sederhana.
Karena setiap langkah yang Anda ambil hari ini adalah investasi untuk kesehatan di masa depan.
Tubuh yang aktif bukan hanya membuat hidup lebih panjang.
Tetapi juga membuat hidup lebih berkualitas.
Lebih kuat.
Lebih bugar.
Lebih produktif.
Dan lebih siap menjalani berbagai aktivitas yang Allah amanahkan kepada kita setiap hari. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


