Oleh: Ummu Zayta
MENGAPA dalam kitab-kitab para salaf dan orang-orang shalih, banyak kisah mereka justru dikenal setelah mereka wafat?
Padahal ketika hidup, mereka hanyalah manusia biasa. Tidak selalu terkenal. Tidak selalu dipuji. Bahkan sebagian tidak dianggap istimewa oleh orang-orang di sekitarnya.
Ternyata mungkin karena Allah ingin manusia mengambil pelajaran. Bahwa kemuliaan seorang hamba tidak selalu tampak ketika ia masih hidup.
Saya teringat kepada suami saya rahimahullah.
Saya berkisah tak lain agar bisa diambil pelajarannya. Bukankah para salafussalih, orang terdahulu ada siroh , sejarah , biografi mereka yang diperoleh dari orang terdekat mereka?
Beliau bukan seorang ulama terkenal. Latar belakang pendidikannya pun bukan pendidikan agama, melainkan Bahasa Inggris. Namun sejak kecil, hatinya telah dekat dengan masjid. Ibunya sering mengatakan bahwa beliau adalah anak yang paling shalih di antara saudara-saudaranya. Masa mudanya banyak dihabiskan di masjid, hingga kecintaan kepada agama tumbuh dan mengakar kuat dalam dirinya.
BACA JUGA: Kunci Keluarga Sakinah
Semakin bertambah usia, semakin besar pula semangatnya untuk belajar agama. Segala sesuatu selalu beliau kaitkan dengan tuntunan syariat. Bahkan ketika menekuni dunia pengobatan, agama tetap menjadi landasannya.
Beliau dikenal sebagai guru di beberapa sekolah favorit. Namun banyak orang mengenalnya sebagai seorang yang ahli membantu pengobatan masyarakat. Beliau melakukan ruqyah, bekam, refleksi, dan berbagai bentuk terapi lainnya. Tak sedikit orang yang datang meminta pertolongan.
Yang membuat banyak orang terkesan adalah satu prinsip yang beliau pegang: menolong tanpa mengharapkan imbalan.
Beliau tidak memasang tarif. Jika ada yang ingin memberi, itu urusan mereka. Baginya, melihat orang lain terbantu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Sifatnya tenang dan lembut. Jarang meninggikan suara. Jika berbicara, tutur katanya menenangkan. Namun dalam urusan agama, beliau sangat tegas. Hal-hal yang berkaitan dengan ibadah selalu diusahakan sesempurna mungkin. Bahkan masalah bersuci pun saya sering diingatkan sedemikian rupa, seperti aturan menggunakan sendal habis wudhu untuk menghindari najis yang ada di lantai. Hal itu salah satu bukti kewaro’annya atau kehati-hatiannya dalam kesempurnaan ibadah.
Beliau bukan tipe orang yang memperlihatkan banyak amalan. Shalatnya tidak harus lama. Ibadahnya tidak selalu tampak mencolok. Namun beliau sangat menjaga kewajiban-kewajiban agama. Orang yang sering bermakmum di belakangnya hampir tidak pernah melihat beliau keliru dalam shalat. Semua dilakukan dengan tenang, penuh perhatian, dan penuh kesungguhan.
Kecintaannya kepada keluarga pun sangat besar. Anak-anaknya adalah amanah yang selalu beliau pikirkan untuk urusan dunia dan akhirat.
Beliau pernah berkata kepada anak-anaknya,
“Abi bukan orang yang mampu secara ekonomi. Yang bisa Abi lakukan adalah mengusahakan agar kalian mendapatkan pendidikan terbaik.”
Karena itulah beliau rela berpindah tempat, mengubah banyak rencana hidup, dan berjuang agar anak-anaknya dapat belajar di lingkungan yang baik dan dekat dengan Al-Qur’an.
Bagi keluarga, beliau adalah sosok “superdad”. Anak-anak selalu diajak dalam berbagai aktivitas. Pendidikan mereka menjadi prioritas utama dalam hidupnya.
Namun sebagaimana orang-orang yang dicintai Allah, jalan hidup beliau tidak selalu mudah.
Beliau pernah mengalami kecelakaan berkali-kali. Pernah jatuh ke dalam sumur saat masih kecil. Pernah merasakan pahitnya fitnah yang sangat menyakitkan. Ujian demi ujian datang silih berganti.
Beliau tidak kaya. Beliau tidak terkenal. Tetapi ketika wafat, orang-orang datang dari berbagai arah untuk melayat. Banyak yang bahkan tidak kami kenal.
Saat itu saya baru menyadari bahwa ternyata begitu banyak manusia yang pernah merasakan manfaat dari keberadaannya.
Namun ada satu kisah yang paling membekas dalam ingatan saya.
Suatu ketika pada malam ganjil di bulan Ramadhan, beliau berangkat ke masjid dengan mengendarai motor.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba beliau merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Suasana menjadi sangat hening. Motor tetap berjalan. Jalan tetap terbentang. Namun seolah seluruh alam berhenti bergerak.
Tidak ada hiruk-pikuk.
Tidak ada kegaduhan.
Hanya ketenangan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Saat itu beliau langsung teringat kepada Lailatul Qadar. Beliau pun segera membaca doa:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Beliau tidak pernah menceritakannya untuk mencari pujian. Bahkan kisah itu hanya beliau sampaikan ke saya istrinya.
Ada banyak orang yang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah. Mereka berdiri dalam shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berharap bertemu dengan malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Namun, siapa yang benar-benar mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar, hanya Allah yang mengetahuinya.
Mengapa Allah memperlihatkan pengalaman seperti itu kepada beliau?
Apa amalan istimewanya?
Padahal beliau bukan tipe orang yang memperlihatkan banyak amal. Shalatnya tidak panjang-panjang. Ibadahnya tampak biasa. Namun mungkin di situlah pelajarannya.
Kita sering menilai manusia dari apa yang terlihat.
Sementara Allah melihat sesuatu yang tidak terlihat.
Allah melihat keikhlasan yang tersembunyi.
Allah melihat kesabaran saat menerima ujian.
Allah melihat hati yang ridha terhadap takdir.
Allah melihat ketulusan saat membantu manusia.
Allah melihat bakti kepada orang tua.
Allah melihat tanggung jawab terhadap keluarga.
Allah melihat air mata yang jatuh ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan.
Allah melihat rasa takut seorang hamba kepada-Nya.
Dan Allah melihat seluruh amal yang tidak pernah diketahui manusia.

Mungkin karena itulah Rasulullah mengabarkan bahwa ada seorang hamba yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, namun tidak mampu mencapainya hanya dengan amal yang tampak. Maka Allah mengangkat derajatnya dengan berbagai ujian hingga ia sampai pada kedudukan tersebut.
Demikianlah kisah Abu Zayta rahimahullah, Allah menakdirkan beliau wafat kecelakaan di tengah perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya, sekaligus dalam rangka memenuhi janjinya kepada seorang pasien. Sebuah akhir yang seakan menjadi saksi bahwa hingga detik-detik terakhir hidupnya, beliau tetap berbakti kepada orang tua dan mengabdikan diri untuk melayani sesama.
Jenazah beliau kemudian diselenggarakan di sebuah pesantren tahfiz. Saat shalat jenazah dilaksanakan, masjid dipenuhi oleh para santri penghafal Al-Quran, para guru, karyawan, dan orang sekitar.
Dari kisah ini saya belajar bahwa jangan pernah merasa aman dengan amal kita.
Jangan pula meremehkan orang lain.
Karena bisa jadi seseorang yang terlihat biasa di mata manusia, ternyata memiliki kedudukan yang luar biasa di sisi Allah.
Bisa jadi seseorang yang tidak terkenal di bumi, justru dikenal oleh penduduk langit.
BACA JUGA: Pernikahanmu Mau Dibawa ke Mana?
Dan bisa jadi Allah menyingkap sedikit rahasia tentang kemuliaan seorang hamba setelah wafatnya, agar manusia mengambil pelajaran dan semakin husnuzan kepada Rabb-nya.
Terakhir adalah Jangan PD dengan banyaknya amalan sekarang, bisa jadi itu baru cukup untuk menutup dosa- dosa kita yang lama, sementara orang yang seperti terlihat sedikit beramal, ternyata dari sejak balighnya bahkan dari kecilnya sudah terbiasa beramal dan tak terlalu banyak dosa yang akan ditutupinya.
Rahimahullah rahmatan waasi’ah…💕
Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal-amalnya, melapangkan kuburnya, dan mengumpulkannya bersama para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

