PERNAHKAH Anda menghitung berapa lama Anda duduk hari ini?
Satu jam.
Dua jam.
Lima jam.
Atau bahkan lebih dari delapan jam.
Di kantor duduk.
Di kendaraan duduk.
Di rumah duduk.
Saat makan duduk
Saat bermain ponsel juga duduk.
Tanpa disadari, duduk telah menjadi bagian terbesar dari kehidupan modern.
Ironisnya, tubuh manusia tidak diciptakan untuk diam terlalu lama.
BACA JUGA: Apa Itu Quarter-Life Crisis: Krisis yang Banyak Dialami Anak Muda?
Tubuh dirancang untuk bergerak.
Otot bekerja.
Sendi bergerak.
Jantung memompa lebih aktif.
Paru-paru mengembang lebih optimal.
Setiap gerakan memiliki arti.
Setiap langkah memberi manfaat.
Namun, ketika tubuh terlalu lama diam, banyak proses penting mulai melambat.
Peredaran darah tidak lagi seefisien biasanya.
Pembakaran kalori menurun.
Otot kehilangan aktivitasnya.
Metabolisme menjadi lebih lambat.

Dampaknya mungkin tidak langsung terasa.
Tetapi perlahan-lahan mulai muncul.
Punggung terasa pegal.
Leher menjadi kaku.
Bahu terasa berat.
Pinggang nyeri.
Tubuh mudah lelah.
Sebagian orang menganggapnya sebagai tanda usia.
Padahal sering kali itu adalah akibat dari kebiasaan.
Bukan usia.
Melainkan gaya hidup.
Penelitian yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine menemukan bahwa duduk terlalu lama berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian dini, bahkan pada orang yang rutin berolahraga.
Artinya, olahraga pagi tidak sepenuhnya menghapus dampak negatif jika sisa hari dihabiskan dengan duduk tanpa jeda.
Temuan ini menjadi pengingat penting.
Gerak harus dilakukan sepanjang hari.
Bukan hanya saat berolahraga.
Profesor James Levine, ahli endokrinologi dari Mayo Clinic, memperkenalkan istilah “sitting is the new smoking.”
Ia menjelaskan bahwa duduk berlebihan telah menjadi faktor risiko kesehatan yang serius di masyarakat modern.
Ungkapan itu bukan berarti duduk sama berbahayanya dengan merokok.
Namun, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas.
Kebiasaan duduk terlalu lama bukanlah sesuatu yang boleh dianggap sepele.
Menurut Profesor Levine, tubuh manusia dirancang untuk aktif bergerak.
Semakin banyak bergerak, semakin baik tubuh menjalankan fungsi-fungsi alaminya.
Ketika seseorang duduk terlalu lama, aktivitas enzim yang membantu memecah lemak dalam darah ikut menurun.
Akibatnya, lemak lebih mudah menumpuk.
Risiko kolesterol tinggi meningkat.
Penyakit jantung pun menjadi lebih mungkin terjadi.
Tidak hanya itu.
Duduk terlalu lama juga memengaruhi kadar gula darah.
Otot yang jarang digunakan menjadi kurang efektif menyerap glukosa.
Akibatnya, kadar gula darah lebih mudah meningkat.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
World Health Organization (WHO) juga menegaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular di seluruh dunia.
Penyakit jantung.
Stroke.
Diabetes.
Beberapa jenis kanker.
Semuanya memiliki kaitan dengan gaya hidup yang kurang aktif.
Kemajuan teknologi memang memudahkan pekerjaan.
Namun, teknologi juga membuat manusia semakin sedikit bergerak.
Pesan makanan cukup lewat aplikasi.
Belanja cukup melalui telepon genggam.
Rapat dilakukan secara daring.
Bahkan hiburan pun cukup dari layar.
Semuanya praktis.
Tetapi tubuh membayar harga dari kenyamanan itu.
Masalahnya bukan hanya pada jantung.
Tulang belakang juga ikut terdampak.
Duduk terlalu lama memberikan tekanan terus-menerus pada tulang belakang bagian bawah.
Otot inti menjadi lemah.
Postur tubuh berubah.
Lama-kelamaan muncul nyeri punggung kronis.
Dr. Stuart McGill, pakar kesehatan tulang belakang dari University of Waterloo, menjelaskan bahwa mempertahankan satu posisi terlalu lama memberikan beban berulang pada jaringan tulang belakang.
Tubuh sebenarnya tidak menyukai posisi yang statis.
Tubuh lebih menyukai variasi gerakan.
Karena itu, berpindah posisi secara berkala jauh lebih baik daripada duduk tanpa bergerak selama berjam-jam.

Kabar baiknya, solusi dari masalah ini sangat sederhana.
Tidak mahal.
Tidak rumit.
Bangun dari kursi setiap tiga puluh hingga enam puluh menit.
Berjalan selama dua atau tiga menit.
Lakukan peregangan ringan.
Gunakan tangga.
Ambil air minum sambil berjalan.
Berdiri ketika menerima telepon.
Semua gerakan kecil itu sangat berarti.
Penelitian menunjukkan bahwa jeda singkat untuk bergerak dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah, mengurangi lonjakan gula darah setelah makan, dan mengurangi ketegangan otot.
BACA JUGA: Tubuh Sehat, tapi Hati Terasa Berat?
Tubuh tidak meminta olahraga yang berat setiap saat.
Tubuh hanya meminta untuk tidak dilupakan.
Sedikit bergerak.
Sedikit berjalan.
Sedikit meregangkan otot.
Dilakukan berulang setiap hari.
Pada akhirnya, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras kita berolahraga.
Tetapi juga oleh seberapa sering kita bergerak di sela-sela aktivitas.
Karena ancaman terbesar di era modern bukan selalu pekerjaan yang berat.
Melainkan pekerjaan yang membuat tubuh diam terlalu lama.
Maka, saat Anda selesai membaca tulisan ini, cobalah berdiri.
Tarik napas dalam.
Regangkan tubuh.
Berjalanlah beberapa langkah.
Mungkin hanya beberapa menit.
Namun, beberapa menit itu bisa menjadi investasi kecil yang menjaga kesehatan Anda di masa depan.
Ingatlah, tubuh manusia diciptakan untuk bergerak. Setiap langkah yang Anda ambil hari ini adalah hadiah bagi jantung, otot, tulang, dan kehidupan Anda di hari esok. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


