DI zaman sekarang, chatting sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berkomunikasi dengan teman, rekan kerja, pelanggan, atau orang lain bisa dilakukan hanya melalui WhatsApp, Telegram, media sosial, dan berbagai aplikasi lainnya.
Namun, ketika seorang istri sering chatting dengan lelaki lain, muncul pertanyaan: bolehkah seorang istri chatting dengan lelaki yang bukan mahramnya?
Jawabannya, tidak setiap komunikasi antara perempuan dan laki-laki otomatis haram. Islam membolehkan interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram apabila ada kebutuhan yang dibenarkan, dilakukan dengan cara yang baik, dan tidak mengarah kepada perbuatan yang dilarang.
BACA JUGA: Kenapa Ada Suami yang Tidak Ngajak Ngobrol Istrinya?
Misalnya, seorang istri chatting dengan rekan kerja laki-laki untuk membahas pekerjaan, dengan pelanggan untuk urusan bisnis, atau dengan tetangga untuk keperluan tertentu. Komunikasi seperti ini pada dasarnya boleh selama menjaga adab dan batasan.
Yang menjadi masalah adalah ketika chatting berubah menjadi hubungan yang terlalu dekat, penuh perhatian khusus, saling menggoda, atau dilakukan secara diam-diam dari pasangan.
Chatting bukan masalah, tetapi isi dan tujuannya yang harus diperhatikan
Seorang istri tentu tidak mungkin hidup tanpa berinteraksi dengan laki-laki lain. Di tempat kerja, lingkungan masyarakat, keluarga besar, hingga urusan jual beli, komunikasi dengan lawan jenis bisa saja terjadi.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar, “Dia chatting dengan lelaki atau tidak?”
Tetapi tanyakan:
Apa yang dibicarakan? Untuk apa? Bagaimana caranya? Dan ke mana arah hubungan tersebut?
Chatting mengenai pekerjaan tentu berbeda dengan chatting setiap malam hanya untuk saling curhat.
Bertanya tentang urusan penting tentu berbeda dengan mengirim pesan seperti, “Sudah makan belum?”, “Kok kamu sekarang jarang chat?”, atau saling memberikan perhatian yang seharusnya menjadi ruang bagi pasangan.
Hati-hati dengan chatting yang menjadi pintu perselingkuhan
Perselingkuhan tidak selalu dimulai dari pertemuan secara langsung. Kadang semuanya bermula dari pesan sederhana.
Awalnya hanya bertanya kabar. Kemudian sering bercanda. Lama-lama saling curhat tentang masalah rumah tangga. Setelah itu muncul rasa nyaman, saling menunggu pesan, menyembunyikan percakapan dari pasangan, hingga akhirnya muncul keterikatan emosional.
Di sinilah seorang istri maupun suami harus berhati-hati. Allah memerintahkan orang beriman untuk tidak mendekati zina. Artinya, seorang Muslim bukan hanya diperintahkan menjauhi zina, tetapi juga menghindari berbagai jalan yang dapat menyeret seseorang menuju perbuatan tersebut.
Karena itu, menjaga batas dalam komunikasi dengan lawan jenis merupakan bentuk kehati-hatian.
Bagaimana jika suami tidak tahu?
Ini bagian yang juga penting. Kalau chatting tersebut memang berkaitan dengan pekerjaan atau kebutuhan yang wajar, tidak ada alasan untuk merasa bersalah hanya karena berkomunikasi dengan laki-laki lain.
Namun, kalau seseorang sengaja menghapus pesan, menyembunyikan percakapan, mengganti nama kontak, menggunakan akun rahasia, atau panik ketika ponselnya diperiksa pasangan, maka masalahnya sudah bukan sekadar chatting.
Ada persoalan kejujuran dan kepercayaan dalam rumah tangga. Pernikahan membutuhkan keterbukaan. Suami dan istri memang memiliki privasi, tetapi privasi tidak boleh dijadikan alasan untuk membangun hubungan rahasia dengan orang lain.
Bagaimana batas chatting dengan lawan jenis?
Beberapa prinsip yang bisa dijaga:
Pertama, ada kebutuhan yang jelas. Jika tidak ada kebutuhan, jangan mencari-cari alasan untuk terus berkomunikasi.
Kedua, gunakan bahasa yang wajar. Hindari kata-kata mesra, rayuan, emoji yang menggoda, atau candaan yang mengarah kepada hubungan romantis.
Ketiga, jangan terlalu sering. Komunikasi yang awalnya biasa bisa berubah menjadi kedekatan apabila dilakukan terus-menerus tanpa kebutuhan.
Keempat, jangan membicarakan rahasia rumah tangga. Masalah suami, kelemahan pasangan, konflik rumah tangga, dan persoalan pribadi sebaiknya tidak dijadikan bahan curhat kepada lelaki lain yang bukan mahram.
Kelima, jangan membangun hubungan secara sembunyi-sembunyi. Jika sebuah percakapan membuat seseorang takut diketahui pasangannya, itu seharusnya menjadi alarm untuk mengevaluasi hubungan tersebut.
Suami juga harus melakukan hal yang sama
Aturan ini bukan hanya untuk istri. Kalau istri tidak boleh membangun kedekatan khusus dengan lelaki lain, maka suami juga tidak boleh mencari perhatian dari perempuan lain.
Jangan sampai seorang suami menuntut istrinya menjaga batas dengan laki-laki lain, tetapi dirinya sendiri bebas chatting dengan perempuan lain sampai larut malam.
Pernikahan membutuhkan aturan yang berlaku untuk kedua belah pihak.
Suami menjaga pandangan dan pergaulannya. Istri juga menjaga pandangan, pergaulan, dan komunikasinya. Keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehormatan rumah tangga.
Jangan langsung menuduh istri selingkuh
Di sisi lain, seorang suami juga harus berhati-hati. Mengetahui istrinya chatting dengan lelaki lain bukan berarti otomatis istrinya berselingkuh.
Jangan langsung melakukan tuduhan, memaki, mengancam, atau melakukan kekerasan. Cari tahu konteksnya terlebih dahulu.
Bisa jadi itu teman kerja, pelanggan, saudara, tetangga, atau seseorang yang memang memiliki urusan tertentu. Jika ada sesuatu yang membuat tidak nyaman, bicarakan dengan tenang.
Misalnya, suami bisa mengatakan:
“Saya tidak melarang kamu berkomunikasi dengan siapa pun untuk urusan yang penting. Tapi saya merasa tidak nyaman kalau komunikasi dengan lelaki lain sudah terlalu sering dan terlalu pribadi. Saya ingin kita sama-sama menjaga batas supaya rumah tangga kita tetap aman.”
Cara seperti ini jauh lebih baik daripada langsung menuduh.
Jadi, bolehkah istri chatting dengan lelaki lain?
Pada dasarnya, komunikasi dengan lelaki yang bukan mahram tidak otomatis haram. Hukumnya bergantung pada kebutuhan, isi pembicaraan, cara berkomunikasi, serta apakah komunikasi tersebut mengandung hal-hal yang dilarang.
Jika chatting dilakukan untuk kebutuhan yang wajar, menggunakan bahasa yang sopan, tidak menggoda, tidak membangun kedekatan emosional, dan tetap menjaga batas syariat, maka tidak bisa begitu saja disebut sebagai perselingkuhan.
Tetapi jika chatting sudah berubah menjadi rayuan, curhat pribadi, perhatian khusus, komunikasi intens tanpa kebutuhan, menyimpan hubungan secara rahasia, atau menumbuhkan ketertarikan, maka seorang Muslim harus segera mengambil jarak.
BACA JUGA: Bolehkah Suami Kirim Istri Jadi TKW, Sementara Dia Ongkang Kaki di Rumah?
Sebab menjaga rumah tangga bukan hanya soal tidak melakukan perselingkuhan. Menutup pintu yang dapat mengantarkan kepada perselingkuhan juga merupakan bagian dari menjaga amanah pernikahan.
Dan yang paling penting, jangan hanya bertanya, “Apakah pasangan saya boleh chatting dengan lawan jenis?”
Tanyakan juga kepada diri sendiri:
“Apakah cara saya berkomunikasi dengan lawan jenis sudah membuat pasangan saya merasa aman dan dihargai?”
Karena rumah tangga yang kuat bukan dibangun dengan saling mencurigai, tetapi dengan kejujuran, batasan yang jelas, rasa saling menghormati, dan kesetiaan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

