Kenapa Kita Tidak Boleh Meninggalkan Istighfar?

Dini Koswarini
2 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

ADA satu kalimat sederhana…

Ringan di lisan, tetapi begitu besar maknanya.

Astaghfirullah.

Kalimat yang sering kita ucapkan, tetapi mungkin belum benar-benar kita rasakan.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berpesan:

“Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar-pasar kalian, dan di majelis-majelis kalian. Karena kalian tidak tahu kapan ampunan Allah turun.”

MasyaAllah…

Lihatlah bagaimana para salaf memandang istighfar.

Bukan hanya ketika merasa berdosa.

Bukan hanya ketika sedang mendapat musibah.

Tetapi di mana pun dan kapan pun.

BACA JUGA:  Berapa Menit yang Diperlukan untuk Istighfar selama 100 Kali?

Sedang berjalan, istighfar.

Sedang bekerja, istighfar.

Sedang duduk, istighfar.

Sedang menunggu sesuatu, istighfar.

Karena kita tidak pernah tahu…

Kapan Allah mengampuni dosa kita.

Kapan Allah mengangkat kesulitan kita.

Dan kapan Allah membukakan pintu kebaikan untuk kita.

https://s.shopee.co.id/4Va5LkY16Z

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa istighfar dapat menghapus dosa, mendatangkan rezeki, dan menolak azab.

Bahkan beliau pernah menceritakan…

Ketika menghadapi suatu persoalan yang sulit, beliau beristighfar kepada Allah seribu kali atau lebih atau kurang…

Sampai dadanya dilapangkan dan persoalan yang sulit itu menjadi jelas.

Perhatikan…

Ketika masalah datang, beliau tidak hanya sibuk mencari jawaban dengan pikirannya.

Beliau kembali kepada Allah.

Dengan istighfar.

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan bahwa istighfar merupakan salah satu sebab terbesar datangnya kebaikan dan terangkatnya keburukan.

Karena dosa…

Bisa menjadi penghalang seorang hamba dari berbagai kebaikan.

Maka kalau hari ini hidup terasa sempit…

Hati terasa berat…

Masalah terasa bertumpuk…

Jangan hanya mengeluh.

Cobalah berhenti sejenak.

Tundukkan kepala.

Angkat tangan.

BACA JUGA:  Berapa Kali Sebaiknya Membaca Istighfar dalam Sehari?

Dan basahi lisan dengan:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

Perbanyaklah.

Dengan hati yang sadar.

Dengan penyesalan atas dosa.

Dengan harapan kepada rahmat Allah.

Karena mungkin…

Yang kita butuhkan bukan jalan keluar yang baru.

Tetapi hati yang kembali kepada Allah.

Jangan pernah meremehkan istighfar.

Sebab kita tidak tahu…

istighfar yang mana yang menjadi sebab Allah mengampuni kita, melapangkan dada kita, dan membukakan pintu kebaikan untuk kita.

Astaghfirullah wa atubu ilaih. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *