SALAH satu pertanyaan yang sering muncul dalam kehidupan seorang Muslim adalah: kalau rezeki setiap manusia sudah diatur oleh Allah, mengapa kita masih harus bekerja keras? Kalau jumlah rezeki seseorang sudah ditentukan, bukankah semuanya akan tetap sampai kepada kita tanpa perlu bersusah payah? Pertanyaan ini penting karena berkaitan dengan cara seorang Muslim memahami takdir, ikhtiar, dan tawakal.
Dalam Islam, keyakinan bahwa rezeki telah diatur Allah bukan berarti manusia diperintahkan untuk bermalas-malasan. Justru Islam mengajarkan agar manusia berusaha, bekerja, mencari nafkah yang halal, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Takdir bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar, sebagaimana tawakal bukan berarti duduk diam tanpa melakukan apa-apa.
BACA JUGA: Mengapa Kita Sering Lupa Bahwa Tubuh yang Sehat Adalah Rezeki Tak Terhingga?
Allah memang telah menetapkan rezeki setiap makhluk. Tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengambil rezeki orang lain melebihi apa yang Allah izinkan. Namun, Allah juga menetapkan sebab-sebab yang biasanya mengantarkan seseorang kepada rezekinya. Makanan sampai kepada kita melalui proses memasak dan makan. Penghasilan diperoleh melalui pekerjaan atau usaha. Hasil panen diperoleh setelah menanam, merawat, dan memanen. Semua itu merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan.
Karena itu, mengatakan “rezeki sudah diatur” lalu memilih tidak bekerja merupakan pemahaman yang keliru. Seseorang tidak bisa berkata, “Kalau Allah sudah menentukan saya kaya, saya tidak perlu bekerja.” Ia juga tidak bisa menjadikan takdir sebagai alasan untuk tidak berusaha memperbaiki kehidupannya. Sebab kita tidak mengetahui apa yang telah Allah takdirkan untuk kita sebelum hal itu terjadi.
Bayangkan seorang petani yang memiliki sebidang tanah. Ia tidak tahu berapa banyak hasil panen yang akan diperolehnya. Apakah karena hasil panen sudah ditentukan Allah, ia kemudian tidak perlu menanam benih? Tentu tidak. Ia tetap mencangkul, menanam, memberi pupuk, mengairi, dan merawat tanaman. Setelah melakukan semua ikhtiar tersebut, barulah ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Begitu pula seorang pekerja. Ia berangkat pagi, menjalankan tugas, meningkatkan keterampilan, mencari peluang, dan menerima gaji sebagai hasil dari pekerjaannya. Namun, ia tetap memahami bahwa keberhasilan tersebut pada akhirnya terjadi dengan izin Allah. Dengan cara pandang seperti ini, seseorang dapat bekerja keras tanpa menjadi sombong ketika berhasil dan tanpa putus asa ketika mengalami kegagalan.
Inilah perbedaan antara ikhtiar dan tawakal. Ikhtiar berarti melakukan usaha yang mampu dilakukan untuk mencapai sesuatu. Tawakal berarti menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah setelah melakukan usaha yang benar. Keduanya bukan sesuatu yang bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Rasulullah ﷺ pernah memberikan gambaran tentang tawakal melalui burung. Burung keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang. Burung tersebut tidak duduk diam di sarangnya menunggu makanan datang. Ia keluar mencari makanan. Dari sini kita dapat memahami bahwa tawakal bukan meninggalkan sebab, tetapi menggunakan sebab sambil menggantungkan hati kepada Allah.
Masalahnya, manusia sering jatuh ke dalam dua sikap yang berlebihan. Ada yang terlalu mengandalkan usaha sampai lupa kepada Allah. Ketika sukses, ia merasa semua hasil berasal dari kecerdasan dan kerja kerasnya sendiri. Sebaliknya, ada yang terlalu memahami takdir hingga menjadikan takdir sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Kedua sikap tersebut perlu dihindari. Seorang Muslim bekerja keras, tetapi tidak menyembah pekerjaannya. Ia mencari uang, tetapi tidak menjadikan uang sebagai tujuan hidup. Ia mengejar kesuksesan, tetapi tetap menyadari bahwa kesehatan, kesempatan, kemampuan, dan hasil akhir semuanya berada dalam kekuasaan Allah.
Lalu bagaimana jika seseorang sudah bekerja keras tetapi tetap miskin? Apakah itu berarti Allah tidak memberinya rezeki? Tidak. Rezeki tidak selalu berbentuk uang dalam jumlah besar. Kesehatan, keluarga yang baik, keamanan, ilmu, waktu, sahabat yang tulus, dan kemampuan menjalankan ibadah juga merupakan nikmat yang sangat berharga.
Ada orang yang penghasilannya besar tetapi hidupnya penuh kecemasan. Ada pula orang yang penghasilannya sederhana tetapi hatinya tenang dan keluarganya harmonis. Karena itu, ukuran rezeki tidak selalu dapat dilihat dari saldo rekening. Allah memberikan rezeki kepada manusia dalam bentuk yang berbeda-beda dan dengan hikmah yang tidak selalu langsung kita pahami.
Namun, pemahaman tersebut juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menerima kemiskinan tanpa usaha. Jika seseorang masih mampu bekerja, belajar, memperbaiki keterampilan, mencari pekerjaan yang lebih baik, atau membangun usaha halal, maka ia tetap dianjurkan berikhtiar. Jangan menggunakan konsep tawakal untuk membenarkan kemalasan.
Bahkan mencari nafkah untuk keluarga dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan melalui jalan yang halal. Seorang ayah yang bekerja keras agar anak-anaknya mendapatkan makanan halal, pendidikan, dan kebutuhan hidup tidak sekadar sedang mencari uang. Ia juga sedang menjalankan tanggung jawab yang diberikan Allah kepadanya.
Begitu pula seorang ibu atau siapa pun yang bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga. Selama pekerjaan tersebut halal dan dilakukan dengan cara yang benar, usaha mencari nafkah dapat menjadi bagian dari kebaikan. Yang penting adalah jangan sampai pekerjaan membuat seseorang meninggalkan kewajiban agama.
Lantas, mengapa Allah tidak langsung memberikan rezeki tanpa melalui kerja keras? Karena kehidupan dunia memang merupakan tempat ujian. Allah menguji manusia melalui kekayaan dan kemiskinan, kemudahan dan kesulitan, kesehatan dan sakit, keberhasilan dan kegagalan. Cara seseorang menghadapi semua keadaan tersebut menjadi bagian dari ujian kehidupannya.
Orang kaya diuji dengan bagaimana ia menggunakan hartanya. Orang miskin diuji dengan bagaimana ia menghadapi keterbatasannya. Orang yang sedang berjuang mencari pekerjaan diuji dengan kesabarannya. Orang yang sukses diuji dengan rasa syukurnya. Semua kondisi tersebut dapat menjadi jalan menuju pahala apabila dihadapi dengan cara yang benar.
Selain itu, kita tidak boleh lupa bahwa bekerja keras bukan jaminan seseorang pasti mendapatkan apa yang diinginkannya. Ada orang yang bekerja sangat keras tetapi hasilnya sedikit. Ada orang yang mendapatkan peluang besar setelah usaha yang relatif singkat. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk berusaha, sedangkan hasil akhirnya bukan berada sepenuhnya dalam kendali manusia.
Di sinilah tawakal memberikan ketenangan. Setelah melakukan yang terbaik, seorang Muslim tidak perlu menghancurkan dirinya dengan pertanyaan, “Mengapa hasilnya tidak sesuai rencana?” Ia boleh kecewa, sedih, dan melakukan evaluasi, tetapi tetap yakin bahwa Allah mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.
Bekerja keras juga tidak berarti bekerja tanpa batas sampai melupakan kesehatan, keluarga, dan ibadah. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengejar dunia dengan cara menghancurkan dirinya sendiri. Ada waktu untuk bekerja, beribadah, beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan memenuhi hak tubuh.
Jadi, kalau semua rezeki sudah diatur Allah, mengapa kita tetap harus bekerja keras? Karena Allah bukan hanya menetapkan hasil, tetapi juga menetapkan sebab-sebab yang harus ditempuh manusia. Kita tidak mengetahui takdir sebelum terjadi, sehingga tugas kita adalah berikhtiar sebaik mungkin, memilih jalan yang halal, berdoa, lalu bertawakal kepada Allah.
Jangan berkata, “Kalau rezeki saya sudah ditentukan, saya tidak perlu bekerja.” Tetapi jangan pula berkata, “Saya sukses karena kerja keras saya semata.” Sikap yang benar adalah: saya wajib berusaha karena itu bagian dari tanggung jawab saya, tetapi saya sadar bahwa kemampuan, kesempatan, dan hasil akhirnya semuanya berasal dari Allah.
BACA JUGA: Benarkah Suami Istri yang Sering Berhubungan Bikin Rezeki Lancar?
Pada akhirnya, seorang Muslim seharusnya bekerja keras dengan tangan, tetapi menggantungkan hati kepada Allah. Ia mengejar rezeki tanpa kehilangan shalat, mengejar kesuksesan tanpa menjadi sombong, dan menghadapi kegagalan tanpa berputus asa. Sebab kita diperintahkan untuk berikhtiar sebaik mungkin, sementara hasil akhir adalah wilayah kekuasaan Allah.
Rezeki memang sudah diatur, tetapi manusia tetap diperintahkan untuk mengetuk pintu-pintu rezeki tersebut. Kita tidak tahu pintu mana yang akan Allah bukakan. Tugas kita adalah terus berusaha melalui jalan yang halal, berdoa, bersabar, dan percaya bahwa apa yang Allah tetapkan untuk kita tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

