Suami Istri Sudah Lama Tidak Jima, Apakah Pernikahannya Masih Sehat?

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Freepik

DALAM kehidupan rumah tangga, hubungan suami istri bukanlah satu-satunya ukuran kebahagiaan. Ada komunikasi, kasih sayang, tanggung jawab, perhatian, kepercayaan, dan kerja sama yang juga sangat penting. Namun, hubungan intim tetap menjadi salah satu bagian dari kehidupan pernikahan yang tidak seharusnya diabaikan begitu saja, terutama jika suami dan istri sebenarnya masih memiliki kebutuhan dan keinginan untuk menjalankannya.

Lalu bagaimana jika pasangan suami istri sudah lama tidak melakukan jima? Apakah itu berarti pernikahannya sudah tidak sehat? Jawabannya tidak selalu demikian. Tidak ada ukuran tunggal berupa berapa kali dalam sebulan suami istri harus berhubungan. Setiap pasangan memiliki kondisi fisik, usia, kesehatan, kesibukan, dan kebutuhan yang berbeda. Yang lebih penting adalah apakah kedua pasangan merasa nyaman dengan keadaan tersebut dan apakah tidak adanya hubungan intim terjadi karena kesepakatan bersama atau justru karena salah satu pihak merasa diabaikan.

BACA JUGA: Apa Saja yang Wajib Dihindari Saat Suami Istri Jima?

Islam sendiri mengakui adanya hubungan intim dalam pernikahan sebagai bagian dari kehidupan pasangan. Al-Qur’an menggambarkan suami dan istri sebagai “pakaian” satu sama lain, sebuah gambaran yang menunjukkan kedekatan, perlindungan, dan hubungan yang sangat erat. Al-Qur’an juga secara jelas membicarakan hubungan seksual antara suami dan istri dalam konteks yang halal.

Karena itu, hubungan intim bukan sesuatu yang harus dianggap memalukan ketika dibicarakan dalam konteks pendidikan dan kehidupan rumah tangga. Justru pasangan perlu memiliki komunikasi yang sehat mengenai kebutuhan masing-masing. Masalah dapat muncul ketika suami atau istri memilih diam selama bertahun-tahun, padahal di dalam hati salah satunya merasa kecewa, ditolak, atau tidak lagi dicintai.

Ada pasangan yang berhenti berhubungan karena kesibukan. Suami bekerja terlalu keras, istri sibuk mengurus anak dan rumah, kemudian keduanya merasa terlalu lelah ketika malam tiba. Awalnya mungkin hanya beberapa minggu, kemudian menjadi berbulan-bulan. Tanpa disadari, hubungan intim yang dahulu menjadi bagian dari kedekatan mereka perlahan hilang dari kehidupan rumah tangga.

Ada pula pasangan yang tidak berhubungan karena masalah emosional. Pertengkaran yang tidak pernah diselesaikan, sakit hati yang dipendam, kekecewaan terhadap pasangan, atau hilangnya rasa dihargai dapat membuat seseorang tidak lagi memiliki keinginan untuk mendekat secara fisik. Dalam kondisi seperti ini, memaksa hubungan intim bukanlah solusi. Yang perlu diperbaiki terlebih dahulu adalah hubungan emosional dan komunikasi di antara keduanya.

Faktor kesehatan juga tidak boleh diabaikan. Penurunan libido, gangguan hormon, efek obat tertentu, kelelahan berat, gangguan tidur, atau masalah kesehatan lainnya dapat memengaruhi keinginan seseorang untuk berhubungan. Jika perubahan terjadi secara drastis atau berlangsung lama, pasangan sebaiknya tidak langsung menuduh bahwa cintanya telah hilang. Bisa jadi ada persoalan kesehatan yang perlu diperiksa.

Usia juga dapat membawa perubahan. Seiring bertambahnya usia, kondisi tubuh dan kebutuhan seksual seseorang dapat berubah. Perubahan tersebut bukan berarti pernikahan menjadi gagal. Justru pasangan perlu belajar menyesuaikan diri, berbicara secara terbuka, dan mencari cara agar kedekatan tetap terjaga sesuai kemampuan masing-masing.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika salah satu pasangan sebenarnya membutuhkan hubungan intim, tetapi terus-menerus ditolak tanpa alasan yang jelas. Dalam keadaan seperti itu, masalahnya bukan sekadar “sudah lama tidak jima”, tetapi sudah menyangkut kebutuhan dan hak pasangan dalam pernikahan. Islam mengajarkan agar suami dan istri memperlakukan pasangannya dengan cara yang baik dan tidak menjadikan hubungan rumah tangga sebagai sarana untuk saling menyakiti.

Sebaliknya, suami juga tidak boleh menganggap kebutuhan seksual sebagai sesuatu yang harus selalu dipenuhi kapan pun ia menginginkannya. Istri bukan objek pemuas kebutuhan. Hubungan intim merupakan bagian dari kedekatan dua manusia yang terikat pernikahan, sehingga perhatian terhadap kondisi fisik dan emosional pasangan tetap penting. Hubungan yang sehat membutuhkan kerelaan, komunikasi, kasih sayang, dan penghormatan terhadap pasangan.

Jangan sampai masalah hubungan intim justru menjadi alasan untuk mencari pelampiasan di luar pernikahan. Ketika kebutuhan tidak dibicarakan, seseorang mungkin mulai mencari perhatian dari orang lain, menjalin komunikasi yang tidak semestinya dengan lawan jenis, atau bahkan terjerumus kepada perselingkuhan. Padahal jalan keluar yang benar adalah menyelesaikan masalah bersama pasangan, bukan membuka pintu kepada hubungan yang haram.

Bagi pasangan yang sudah lama tidak melakukan jima, langkah pertama adalah berbicara. Tidak perlu memulai pembicaraan dengan tuduhan seperti, “Kamu sudah tidak mencintaiku,” atau “Kamu pasti punya orang lain.” Kalimat semacam itu justru dapat membuat pasangan semakin tertutup. Lebih baik menyampaikan perasaan dengan tenang, misalnya menjelaskan bahwa kedekatan fisik dirindukan dan menanyakan apakah ada masalah yang membuat pasangan merasa tidak nyaman.

https://s.shopee.co.id/10wN94gXf1

Setelah itu, cobalah mencari penyebabnya. Apakah karena kelelahan? Apakah karena ada konflik yang belum selesai? Apakah karena kondisi kesehatan? Apakah karena perubahan hormon atau usia? Apakah ada rasa kecewa yang selama ini dipendam? Menemukan penyebab jauh lebih penting daripada sekadar memaksa agar hubungan intim kembali dilakukan.

Kedekatan suami istri juga tidak selalu harus langsung berbentuk hubungan seksual. Membangun kembali komunikasi, berbicara tanpa gangguan ponsel, makan bersama, saling memberikan perhatian, menunjukkan kasih sayang, dan menghabiskan waktu berdua dapat membantu menghidupkan kembali kedekatan emosional. Ketika hati mulai merasa dekat, hubungan fisik sering kali lebih mudah dibangun kembali.

Dalam kondisi tertentu, pasangan juga dapat meminta bantuan profesional yang kompeten, seperti dokter untuk masalah kesehatan atau konselor pernikahan untuk persoalan hubungan. Jika masalahnya berkaitan dengan hukum agama secara khusus, berkonsultasi kepada ustaz atau ahli fikih yang terpercaya juga dapat membantu. Jangan membiarkan masalah berlangsung bertahun-tahun hanya karena malu membicarakannya.

Yang juga perlu diingat, tidak semua pasangan yang jarang atau tidak melakukan jima berarti rumah tangganya bermasalah. Ada kondisi tertentu yang memang membuat hubungan seksual berkurang atau berhenti sementara, misalnya sakit, kehamilan dalam kondisi tertentu, masa nifas, atau keadaan lain yang memiliki pertimbangan khusus. Karena itu, kita tidak boleh menilai kesehatan rumah tangga orang lain hanya dari seberapa sering mereka melakukan hubungan intim.

Al-Qur’an bahkan memberikan gambaran bahwa dalam kehidupan suami istri terdapat hak dan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan cara yang baik. Hubungan suami istri bukan hanya persoalan fisik, tetapi bagian dari ikatan yang seharusnya dibangun dengan kasih sayang, penghormatan, dan tanggung jawab.

Jadi, apakah suami istri yang sudah lama tidak jima berarti pernikahannya tidak sehat? Belum tentu. Pernikahan masih dapat berjalan baik apabila keduanya memang nyaman dengan kondisi tersebut, tetap memiliki kasih sayang, komunikasi, dan tidak ada pihak yang merasa dizalimi atau diabaikan. Tetapi jika salah satu pasangan menderita karena kebutuhan dan kedekatannya terus-menerus ditolak, maka masalah tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele.

Pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan yang selalu sempurna tanpa masalah. Pernikahan yang sehat adalah pernikahan di mana suami dan istri mau membicarakan masalah, saling mendengarkan, dan berusaha mencari jalan keluar. Termasuk dalam urusan hubungan intim, keduanya perlu saling memahami, bukan saling menuntut atau saling menyalahkan.

Jangan menunggu sampai jarak emosional menjadi terlalu jauh. Jika sudah lama tidak ada kedekatan fisik, gunakan kesempatan tersebut untuk bertanya kepada pasangan dengan lembut: “Apa yang sebenarnya terjadi dengan kita?” Bisa jadi jawabannya bukan karena cinta telah hilang, tetapi karena ada kelelahan, luka, masalah kesehatan, atau persoalan lain yang selama ini tidak pernah dibicarakan.

BACA JUGA: Suami Istri Tak Lagi Jima Padahal Usia Masih 40 Tahun, Bagaimana?

Pada akhirnya, jima memang bukan satu-satunya ukuran sehat atau tidaknya pernikahan. Namun, jika hubungan intim berhenti dalam waktu lama dan salah satu pasangan merasa terluka atau tidak terpenuhi, hal tersebut patut menjadi perhatian. Rumah tangga yang baik bukan hanya tentang tinggal di bawah satu atap, tetapi tentang bagaimana dua orang terus menjaga kedekatan hati, tubuh, dan tanggung jawab mereka sebagai pasangan.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Kapan terakhir kali kami jima?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah kami masih merasa dekat, dicintai, dihargai, dan saling membutuhkan?” Jika jawabannya mulai tidak, mungkin sudah waktunya suami dan istri berhenti saling diam dan mulai memperbaiki kembali hubungan mereka. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *