Bolehkah Meminta Kelancaran Rezeki kepada Penghuni Suatu Kuburan?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Iqro Rinaldi/unsplash

ADA orang yang ketika sedang mengalami kesulitan hidup, rezekinya terasa sempit, usaha tidak berkembang, atau memiliki banyak kebutuhan, kemudian mendatangi makam seseorang yang dianggap saleh atau memiliki karomah. Di tempat tersebut ia berdoa agar mendapatkan kelancaran rezeki, bahkan ada yang secara langsung berkata, “Mbah, tolong lancarkan rezeki saya,” atau “Tolong bantu saya agar usaha saya berhasil.” Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap perbuatan seperti ini?

Islam memang menganjurkan umatnya untuk melakukan ziarah kubur. Ziarah kubur dapat menjadi sarana untuk mengingat kematian, melembutkan hati, serta mengambil pelajaran bahwa kehidupan dunia pada akhirnya akan berakhir. Namun, ziarah kubur bukan berarti seseorang boleh meminta berbagai kebutuhan kepada orang yang telah meninggal dunia.

BACA JUGA: Kalau Rezeki Sudah Dijamin, Mengapa Masih Banyak Orang Kelaparan?

Rezeki Hanya Milik Allah

Seorang Muslim harus meyakini bahwa rezeki pada hakikatnya berada di tangan Allah. Manusia hanya menjadi sebab, sedangkan Allah-lah yang menentukan apakah suatu usaha menghasilkan, apakah seseorang mendapatkan pekerjaan, apakah bisnis berkembang, dan apakah kebutuhan hidupnya dicukupi.

Karena itu, ketika seseorang membutuhkan rezeki, tempat pertama untuk bergantung adalah Allah. Ia boleh bekerja, berdagang, mencari pekerjaan, meminta bantuan kepada manusia yang masih hidup, dan melakukan berbagai ikhtiar yang halal. Namun hati tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada kuburan, makam, benda tertentu, atau orang yang telah meninggal.

Allah mengajarkan agar manusia berdoa kepada-Nya. Bahkan dalam berbagai kebutuhan duniawi sekalipun, seorang Muslim tidak perlu mencari tempat khusus yang dianggap keramat agar doanya lebih cepat terkabul.

Bolehkah Meminta kepada Penghuni Kubur?

Jika yang dimaksud adalah meminta langsung kepada penghuni kubur agar memberikan rezeki, melancarkan usaha, menyembuhkan penyakit, memberikan keturunan, atau menghilangkan kesulitan, maka perbuatan tersebut tidak dibenarkan dalam Islam.

Meminta sesuatu yang menjadi hak dan kekuasaan Allah kepada orang yang telah meninggal merupakan persoalan yang sangat serius dalam akidah. Sejumlah ulama bahkan menjelaskan bahwa meminta pertolongan kepada penghuni kubur dapat menjadi kesyirikan apabila seseorang meyakini orang yang telah meninggal tersebut mempunyai kemampuan untuk memberikan manfaat atau menolak mudarat secara independen dari Allah.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya berhati-hati dengan ucapan ketika berada di depan makam. Jangan sampai penghormatan kepada orang saleh berubah menjadi ketergantungan kepada dirinya setelah ia meninggal.

Lalu Apa yang Dilakukan Ketika Ziarah Kubur?

Bukan berarti ketika berada di makam seseorang kita tidak boleh berdoa sama sekali. Justru berdoa ketika ziarah kubur memiliki tuntunan, tetapi arah doanya harus diperhatikan.

Yang benar adalah mendoakan penghuni kubur, bukan meminta sesuatu kepada mereka. Misalnya seseorang mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah dosa penghuni kubur ini, rahmatilah dia, dan tempatkanlah dia di tempat yang baik.”

Inilah perbedaan yang sangat penting. “Ya Allah, berikan saya rezeki yang luas” adalah doa kepada Allah. Sementara “Wahai penghuni kubur, berikan saya rezeki” adalah permintaan yang diarahkan kepada penghuni kubur.

Dalam tuntunan ziarah, Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan doa untuk penghuni kubur, di antaranya memohon keselamatan dan ampunan bagi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ketika berada di pemakaman, seorang Muslim justru dianjurkan mengingat akhirat dan mendoakan orang yang telah meninggal.

https://s.shopee.co.id/Lmprk1SyM

Bagaimana Jika Katanya Tetap Meminta kepada Allah?

Ada pula orang yang mengatakan, “Saya sebenarnya tetap meminta kepada Allah. Saya hanya datang ke makam orang saleh supaya doa saya lebih cepat dikabulkan.”

Masalah ini perlu dibedakan. Jika seseorang berdoa kepada Allah tanpa meminta kepada penghuni kubur, maka doanya memang ditujukan kepada Allah. Namun, menjadikan makam tertentu sebagai tempat khusus untuk mencari keberkahan atau meyakini bahwa berdoa di sana lebih mudah dikabulkan membutuhkan dalil syariat.

Sebagian ulama yang dikutip dalam pembahasan ini melarang menjadikan kuburan sebagai tempat khusus untuk berdoa kepada Allah demi mencari keberkahan atau sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya memilih cara-cara berdoa yang jelas tuntunannya dan tidak menggantungkan harapan pada makam tertentu.

Apalagi jika kebiasaan tersebut berkembang menjadi keyakinan bahwa penghuni makam mempunyai kedudukan khusus yang dapat menentukan rezeki manusia. Pada titik inilah persoalan akidah menjadi semakin serius.

Jangan Sampai Mengkultuskan Orang Saleh

Menghormati orang saleh adalah sesuatu yang berbeda dengan mengkultuskannya. Ketika seseorang masih hidup, kita boleh meminta bantuan yang memang mampu ia lakukan. Kita juga dapat meminta orang saleh yang masih hidup untuk mendoakan kita.

Tetapi setelah seseorang meninggal, seorang Muslim tidak boleh menjadikan dirinya sebagai tempat meminta berbagai kebutuhan. Bahkan permintaan doa kepada orang yang telah meninggal juga diperselisihkan dan oleh sejumlah ulama dinilai terlarang karena dapat menjadi jalan menuju meminta kepada selain Allah.

Oleh sebab itu, kecintaan kepada ulama, wali, orang tua, guru, atau orang-orang saleh harus tetap berada dalam batas yang benar. Kita menghormati mereka, mengenang kebaikan mereka, dan mendoakan mereka, tetapi tidak menjadikan mereka sebagai tempat bergantung dalam perkara yang menjadi kekuasaan Allah.

Jika Ingin Rezeki Lancar, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika rezeki sedang terasa sempit, seorang Muslim memiliki banyak jalan yang diajarkan agama. Pertama, perbaiki hubungan dengan Allah melalui shalat, taubat, doa, dan memperbanyak istighfar. Kedua, lakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh melalui pekerjaan dan usaha yang halal.

Selain itu, jauhi penghasilan haram, riba, penipuan, perjudian, suap, dan berbagai cara mendapatkan uang yang dilarang agama. Jangan pula meremehkan sedekah, membantu orang lain, menjaga silaturahmi, dan berusaha menjadi pribadi yang amanah.

Yang tidak kalah penting adalah belajar menerima bahwa kelancaran rezeki tidak selalu berarti mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Terkadang rezeki berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang halal, anak yang saleh, terbebas dari utang, atau hati yang tenang.

Jangan Menjadikan Kuburan sebagai Tempat Menggantungkan Harapan

Ziarah kubur sebenarnya dapat menjadi momentum yang sangat baik untuk memperbaiki kehidupan. Ketika melihat makam, seseorang seharusnya teringat bahwa suatu hari dirinya juga akan berada di tempat tersebut. Kekayaan, jabatan, popularitas, dan harta yang selama ini dikejar akhirnya akan ditinggalkan.

Karena itu, ketika berziarah, arahkan hati kepada Allah. Doakan orang yang telah meninggal, mohon ampun untuknya, dan jadikan kematian sebagai pengingat agar kita memperbaiki amal sebelum kesempatan hidup berakhir.

Jangan sampai seseorang datang ke makam dengan tujuan mencari rezeki, kemudian justru lupa kepada Dzat yang memberikan rezeki. Kuburan seharusnya mengingatkan manusia kepada akhirat, bukan menjadi tempat menggantungkan nasib dan kebutuhan dunia.

BACA JUGA: Gimana Sih Ceritanya Sedekah Ga Mengurangi Rezeki?

Meminta kelancaran rezeki kepada Allah tentu diperbolehkan, bahkan sangat dianjurkan. Namun, meminta rezeki secara langsung kepada penghuni kubur tidak dibenarkan dalam ajaran Islam dan dapat menjadi persoalan serius dalam tauhid apabila disertai keyakinan bahwa penghuni kubur mempunyai kemampuan memberikan manfaat atau menolak mudarat.

Adapun ziarah kubur tetap merupakan amalan yang baik apabila dilakukan dengan tujuan yang benar. Datanglah untuk mengingat kematian dan mendoakan penghuni kubur, bukan meminta mereka memenuhi kebutuhan kita.

Jika rezeki sedang terasa sempit, jangan mencari “jalan khusus” melalui makam tertentu. Perbanyak doa kepada Allah, perbaiki ibadah, tinggalkan penghasilan haram, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan bersabar dalam menunggu pertolongan-Nya. Sebab, sebesar apa pun kebutuhan kita, Allah tetap lebih dekat dan lebih berkuasa untuk memenuhi kebutuhan hamba-Nya daripada seluruh makhluk yang ada di dunia. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *