Kenapa Chef Juna Mengatakan Seblak Itu Viral tapi Ga Sehat?

Dini Koswarini
5 Min Read
Foto: Freepik

SEBLAK sudah lama menjadi salah satu makanan favorit banyak orang. Kuahnya pedas, bumbunya kuat, dan kerupuk kenyalnya punya sensasi tersendiri.

Tidak heran jika makanan khas Bandung ini semakin populer dan mudah ditemukan di berbagai daerah.

Namun, di balik popularitasnya, muncul peringatan dari Chef Juna tentang seblak yang dinilai “viral tapi enggak sehat”. Lantas, sebenarnya apa yang membuat seblak bisa kurang sehat?

Menurut laporan detikFood, pada 29 Juli 2026, Chef Juna membahas seblak dalam podcast bersama Sara Wijayanto. Podcast tersebut tayang di C8 Podcast pada 26 Juli 2026.

Chef Juna ditanya mengenai makanan viral yang menurutnya tidak terlalu worth it. Ia kemudian menyebut seblak sebagai contoh.

Inti komentarnya bukan bahwa seblak sama sekali tidak boleh dimakan, melainkan ia mengkritik kebiasaan terlalu sering mengonsumsinya. Ia juga menyoroti cara pengolahan kerupuk dalam seblak.

BACA JUGA: Tanda Mie Ayam Enak Itu Gimana Sih?

Chef Juna berpendapat kerupuk pada dasarnya dibuat untuk digoreng, karena proses tersebut membuat kerupuk mengembang dan menghasilkan tekstur renyah. Dalam seblak, kerupuk justru direbus dan dicampur dengan bumbu.

Yang menarik, Chef Juna sendiri menegaskan bahwa ia tidak menghakimi orang yang makan seblak, tetapi menyarankan agar tidak terlalu sering mengonsumsinya.

Masalahnya Bukan Sekadar Rasa Pedas

Seblak tidak otomatis menjadi makanan yang tidak sehat hanya karena rasanya pedas.

Yang perlu diperhatikan adalah komposisi dan cara mengolahnya.

Seblak umumnya menggunakan kerupuk yang direbus, kemudian dimasak bersama bumbu seperti cabai, bawang, kencur, garam, dan penyedap. Dalam perkembangannya, isian seblak juga semakin beragam.

Ada telur, bakso, sosis, ceker, mi, makaroni, hingga berbagai makanan olahan lainnya.

Semakin banyak tambahan makanan olahan, semakin besar pula kemungkinan kandungan natrium, lemak, dan kalori dalam satu porsi meningkat.

https://s.shopee.co.id/4Va5LkY16Z

Tinggi Garam Bisa Jadi Masalah

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari makanan berbumbu kuat adalah kandungan garam atau natriumnya.

Tubuh memang membutuhkan natrium. Namun, konsumsi natrium secara berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi pada sebagian orang.

Seblak dengan kuah yang sangat gurih biasanya menggunakan cukup banyak garam, saus, kaldu bubuk, atau penyedap.

Belum lagi jika ditambah bakso, sosis, atau makanan olahan lain yang juga dapat mengandung natrium.

Karena itu, persoalannya bukan apakah penyedap makanan “haram” atau harus selalu dihindari.

Yang lebih penting adalah jumlah dan frekuensi konsumsinya.

Isian Seblak Juga Menentukan

Seblak sebenarnya bisa dibuat dengan komposisi yang lebih seimbang.

Masalahnya muncul ketika satu mangkuk didominasi kerupuk, mi, makaroni, bakso, sosis, dan bahan olahan lainnya, sementara sayur dan sumber protein berkualitas justru sedikit.

Makanan seperti ini mungkin mengenyangkan, tetapi belum tentu memberikan komposisi zat gizi yang ideal.

Menambahkan telur, ayam, ikan, tahu, serta sayuran dapat membuat seblak lebih seimbang.

Dengan begitu, seblak tidak hanya mengandalkan karbohidrat dan makanan olahan.

Pedas Berlebihan Juga Bisa Mengganggu

Cabai bukan musuh kesehatan.

Bahkan, cabai mengandung berbagai senyawa bioaktif. Namun, makanan yang sangat pedas dapat menimbulkan keluhan pada sebagian orang.

Misalnya, perut terasa tidak nyaman, mulas, atau diare.

Orang yang memiliki gangguan pencernaan tertentu juga mungkin lebih sensitif terhadap makanan pedas dan berbumbu kuat.

Jadi, tingkat kepedasan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

BACA JUGA: Makan Seblak Tiap Hari, Apa yang Terjadi?

Boleh Makan Seblak?

Tentu saja boleh.

Seblak tidak perlu dianggap sebagai makanan yang harus ditakuti.

Prinsipnya sama seperti makanan lainnya: perhatikan porsi, frekuensi, dan komposisinya.

Jika ingin makan seblak, pilih porsi yang wajar. Kurangi kuah yang terlalu asin. Jangan terlalu banyak menambahkan makanan olahan seperti sosis dan bakso.

Tambahkan telur atau sumber protein lain serta sayuran.

Dan yang tidak kalah penting, jangan menjadikan seblak sebagai menu harian.

Makanan yang sedang viral belum tentu harus dimakan setiap hari.

Begitu pula makanan yang dianggap “tidak sehat” bukan berarti haram untuk disantap selamanya.

Kuncinya adalah keseimbangan.

Seblak boleh menjadi teman nongkrong sesekali. Tetapi untuk kesehatan jangka panjang, tetap utamakan pola makan yang beragam, cukup protein, kaya sayur dan buah, serta tidak berlebihan dalam mengonsumsi garam, gula, dan lemak.

Jadi, kalau Chef Juna menyebut seblak “viral tapi enggak sehat”, jangan buru-buru perang komentar.

Nikmati seblaknya, tetapi jangan sampai seblaknya yang mengatur pola makan kita. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *