PERNAH nggak kita melihat seseorang melakukan kesalahan? Lalu kita merasa perlu menceritakannya kepada orang lain agar mereka tidak mengalami hal yang sama?
Niatnya mungkin baik. Kita ingin memberikan peringatan. Kita ingin orang lain berhati-hati. Namun, apakah semua aib boleh dibagikan dengan alasan memperingatkan?
Dalam Islam, menjaga kehormatan seseorang adalah perkara yang sangat penting. Karena itu, kita harus berhati-hati sebelum menceritakan keburukan orang lain.
Aib Orang Lain Bukan Bahan Cerita
Aib adalah sesuatu yang seseorang tidak ingin diketahui orang lain. Ketika aib tersebut disebarkan, orang yang bersangkutan bisa merasa malu dan terhina.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
BACA JUGA: Apa Faktor Orang dengan Mudah Membuka Aib Rumah Tangga di Medsos?
Hadis ini mengajarkan pentingnya menutup aib sesama Muslim.
Bukan berarti kesalahan harus dibiarkan. Namun, cara menyikapinya harus benar.
Jangan sampai niat awalnya ingin mengingatkan. Tetapi akhirnya berubah menjadi menyebarkan keburukan.
Bagaimana Jika Tujuannya untuk Memperingatkan?
Di sinilah kita perlu membedakan antara menasihati dan membuka aib
Misalnya, kita mengetahui seseorang pernah melakukan penipuan. Kemudian ada teman yang ingin melakukan transaksi dengannya.
Dalam kondisi tertentu, memberikan informasi bisa menjadi bentuk peringatan. Terutama jika diam dapat menyebabkan orang lain mengalami kerugian.
Namun, informasi tersebut harus disampaikan seperlunya. Jangan menambahkan cerita yang tidak berkaitan.
Jangan pula menjadikannya bahan gosip.
Tujuannya harus benar-benar untuk mencegah kemudaratan. Bukan untuk menjatuhkan nama baik.
Islam Mengenal Ghibah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
> “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ghibah adalah membicarakan sesuatu tentang seseorang yang apabila ia mendengarnya, ia tidak menyukainya.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa jika apa yang kita bicarakan itu benar, maka tetap bisa menjadi ghibah. Jika ternyata tidak benar, maka perbuatan tersebut menjadi fitnah atau buhtan yang lebih berat.
Karena itu, kebenaran sebuah cerita tidak otomatis membuat kita bebas menyebarkannya.
Ada Kondisi yang Diperbolehkan
Para ulama menjelaskan bahwa ghibah tidak selalu haram dalam setiap keadaan. Imam An-Nawawi dalam *Riyadhus Shalihin* menjelaskan beberapa kondisi ketika menyebut keburukan seseorang dapat dibenarkan.
Salah satunya adalah ketika seseorang meminta nasihat. Contohnya, seseorang ingin menikah dan meminta informasi tentang calon pasangannya.
Kita boleh memberikan informasi yang benar dan relevan jika memang dibutuhkan.
Begitu juga ketika meminta bantuan untuk menghentikan kemungkaran atau ketika seseorang perlu mendapatkan peringatan dari bahaya yang nyata.
Tetapi ada syarat penting.
Informasi harus benar.
Tidak boleh berlebihan.
Tidak boleh mengada-ada.
Dan harus sesuai dengan kebutuhan.
Jangan Sampai Peringatan Berubah Menjadi Gosip
Kadang kita berkata, “Saya cuma memperingatkan.”
Tetapi setelah itu cerita tersebut disebarkan ke banyak orang.
Dari satu orang menjadi lima orang. Kemudian menjadi satu grup. Bahkan bisa sampai media sosial.
Di sinilah masalahnya.
Jika tujuan awalnya memperingatkan satu orang, maka tidak ada alasan untuk menyebarkannya kepada banyak orang yang tidak berkepentingan.
Apalagi jika informasi tersebut sudah tidak lagi membantu menyelesaikan masalah.
Sebaiknya gunakan cara yang paling sedikit mudaratnya.
Jika bisa menasihati secara pribadi, lakukan secara pribadi.
Jika cukup disampaikan kepada satu orang yang berkepentingan, jangan disebarkan kepada banyak orang.
Pikirkan Sebelum Membagikan
Sebelum menceritakan keburukan seseorang, coba tanyakan kepada diri sendiri.
Apakah informasi ini benar?
Apakah orang tersebut memang membahayakan orang lain?
Apakah orang yang saya beri tahu memang perlu mengetahui?
Apakah ada cara lain yang lebih baik?
Apakah saya sedang benar-benar memperingatkan atau sebenarnya sedang merasa senang menceritakan keburukan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini bisa membantu kita menjaga lisan.
Menjaga Aib Bukan Berarti Membiarkan Kejahatan
Menutup aib bukan berarti melindungi kejahatan.
Jika ada tindakan yang membahayakan orang lain, penipuan, kekerasan, atau perbuatan zalim, tentu harus ada langkah untuk menghentikannya.
Namun, penyelesaiannya harus dilakukan dengan cara yang tepat.
Sampaikan kepada pihak yang berwenang atau orang yang memang dapat membantu.
Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat menghakimi seseorang.
Sebab, satu unggahan dapat menyebar sangat luas dan sulit ditarik kembali.
BACA JUGA: Apa Faktor Orang dengan Mudah Membuka Aib Rumah Tangga di Medsos?
Kesimpulan
Jadi, boleh nggak membagikan aib orang lain untuk memperingatkan orang lain?
Jawabannya: bisa dibolehkan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak boleh sembarangan.
Jika benar-benar ada kebutuhan untuk mencegah bahaya atau memberikan nasihat, informasi boleh disampaikan sebatas yang diperlukan.
Namun, jika hanya untuk membuka malu, mencari perhatian, atau menyebarkan cerita, maka sebaiknya ditinggalkan.
Menjaga lisan adalah bagian dari menjaga kehormatan sesama.
Kadang, diam bukan berarti tidak peduli.
Diam bisa menjadi bentuk kasih sayang.
Dan menasihati secara pribadi sering kali jauh lebih baik daripada mempermalukan seseorang di depan banyak orang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

