Apa Penyebab BAB Berdarah di Usia 30 Tahun?

Yudi
By Yudi
6 Min Read
Foto: Freepik

BAB berdarah di usia 30 tahun tentu bisa membuat seseorang khawatir, terutama jika sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi tersebut. Darah yang terlihat pada tinja sebenarnya bukan penyakit, melainkan tanda bahwa terdapat perdarahan di suatu bagian saluran pencernaan. Penyebabnya bisa relatif ringan, tetapi pada kondisi tertentu BAB berdarah juga dapat menjadi tanda penyakit yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

Salah satu penyebab yang cukup sering adalah wasir atau hemoroid. Wasir terjadi ketika pembuluh darah di sekitar anus mengalami pembengkakan, dan kondisi ini dapat dipicu oleh mengejan terlalu kuat saat BAB, sembelit, duduk terlalu lama, atau kurang mengonsumsi serat. Darah akibat wasir biasanya berwarna merah terang dan dapat terlihat pada tisu, permukaan tinja, atau menetes setelah buang air besar.

BACA JUGA: Jin, Pipis dan BAB juga Seperti Manusia Kah?

Selain wasir, fisura ani juga dapat menyebabkan darah keluar ketika BAB. Fisura ani adalah robekan kecil pada jaringan di sekitar anus yang sering terjadi akibat tinja keras atau BAB yang terlalu sulit. Biasanya perdarahan disertai rasa perih atau nyeri tajam ketika dan setelah buang air besar, sehingga keluhan tersebut dapat menjadi petunjuk penting mengenai penyebabnya.

Sembelit kronis juga dapat menjadi pemicu BAB berdarah secara tidak langsung. Ketika seseorang jarang BAB, tinja dapat menjadi keras dan sulit dikeluarkan sehingga seseorang harus mengejan dengan kuat. Tekanan dan gesekan tersebut dapat menyebabkan luka kecil di sekitar anus atau memperburuk wasir yang sebelumnya sudah ada.

Penyebab lainnya adalah infeksi pada saluran pencernaan. Beberapa infeksi usus dapat menyebabkan diare yang bercampur darah, terkadang disertai kram perut, demam, mual, atau rasa tidak enak badan. Jika darah muncul bersamaan dengan diare berdarah dan kondisi tubuh memburuk, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebab infeksinya.

Peradangan pada usus juga dapat menyebabkan BAB berdarah. Penyakit seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn dapat menimbulkan peradangan pada saluran pencernaan yang kemudian menyebabkan darah atau lendir keluar bersama tinja. Keluhan biasanya tidak hanya berupa darah, tetapi dapat disertai diare yang berulang, nyeri perut, penurunan berat badan, atau rasa lelah yang berkepanjangan.

Polip pada usus juga termasuk salah satu kemungkinan penyebab perdarahan dari saluran pencernaan. Sebagian polip tidak menimbulkan gejala dan baru diketahui ketika seseorang menjalani pemeriksaan, tetapi beberapa jenis dapat mengalami perdarahan. Karena sebagian polip tertentu dapat berkembang menjadi kanker dalam jangka panjang, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan lebih lanjut apabila terdapat faktor risiko atau gejala yang mencurigakan.

https://s.shopee.co.id/30nvRWxJbt

Meskipun kanker kolorektal lebih sering ditemukan pada usia yang lebih tua, bukan berarti usia 30 tahun sepenuhnya terbebas dari kemungkinan tersebut. Risiko dapat berbeda-beda pada setiap orang dan dapat dipengaruhi oleh riwayat keluarga, kondisi kesehatan tertentu, serta faktor lainnya. Karena itu, BAB berdarah yang berulang atau disertai gejala lain sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai wasir tanpa pemeriksaan.

Warna darah juga dapat memberikan gambaran mengenai lokasi perdarahan, meskipun tidak dapat digunakan untuk memastikan diagnosis. Darah merah terang lebih sering berasal dari bagian saluran pencernaan yang lebih dekat dengan anus, sedangkan tinja berwarna hitam seperti aspal dapat menunjukkan adanya perdarahan dari bagian saluran pencernaan yang lebih atas. Namun, perubahan warna tinja juga dapat dipengaruhi oleh makanan atau obat tertentu, sehingga dokter perlu menilai keseluruhan gejala.

Ada beberapa kondisi yang membuat BAB berdarah perlu mendapatkan perhatian lebih cepat. Misalnya, darah keluar dalam jumlah banyak, perdarahan terus berlangsung, tinja berwarna hitam pekat, atau seseorang mengalami pusing, lemas, pucat, bahkan hampir pingsan. Nyeri perut hebat, demam tinggi, muntah darah, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, serta perubahan pola BAB yang menetap juga merupakan alasan untuk segera mendapatkan evaluasi medis.

Lalu, apakah BAB berdarah di usia 30 tahun selalu berbahaya? Jawabannya tidak, karena banyak kasus disebabkan oleh masalah seperti wasir atau fisura ani yang dapat ditangani, tetapi penyebab yang lebih serius tetap perlu disingkirkan apabila terdapat tanda tertentu. Yang paling penting adalah tidak melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan warna darah atau menganggap semua perdarahan sebagai wasir.

BACA JUGA: Apa Akibatnya kalau (Maaf!) Tidak BAB selama 3 Hari Berturut-turut?

Jika BAB berdarah hanya terjadi sekali dan jumlahnya sedikit, terutama setelah mengejan atau mengalami sembelit, seseorang tetap perlu memperhatikan apakah keluhan tersebut kembali muncul. Namun, jika perdarahan berulang, semakin banyak, atau muncul bersama gejala lain, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat menentukan apakah diperlukan pemeriksaan anus dan rektum, pemeriksaan darah, pemeriksaan tinja, atau pemeriksaan saluran pencernaan lainnya berdasarkan kondisi pasien.

Pada akhirnya, BAB berdarah di usia 30 tahun bukan sesuatu yang sebaiknya langsung ditakuti, tetapi juga tidak tepat untuk diabaikan. Penyebabnya dapat berkisar dari wasir dan luka kecil akibat tinja keras hingga infeksi, penyakit radang usus, polip, dan kondisi lain yang membutuhkan penanganan. Semakin jelas pola perdarahannya dan semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin tepat pula penanganan yang dapat diberikan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *