Pedagang dan Seorang Saudaranya yang Miskin

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Islampos AI

Ada dua orang bersaudara. Kedua orang itu mewarisi harta dengan jumlah besar dari ayahnya. Orang pertama menggunakan seluruh harta warisannya untuk berfoya-foya, hingga habis tak tersisa, dan ia berubah menjadi pengemis. Sementara orang kedua-sebut saja pedagang-menggunakan harta warisannya untuk berdagang sampai hartanya bertambah banyak.

Pada suatu saat, si pedagang hendak melakukan perjalanan niaga.

Saudaranya yang sudah jatuh miskin datang. Ia berkata, “Saudaraku, engkau butuh seorang pelayan dalam perjalananmu, sementara aku butuh pekerjaan. Berilah aku pekerjaan, supaya engkau tak membutuhkan pelayan lain. Dengan begitu, aku bisa memenuhi kebutuhanku sekaligus membantumu.”

Si pedagang yakin, tabiat saudaranya yang miskin itu sudah berubah.

la juga ingin menolong saudaranya. Akhirnya, ia mengajak saudaranya itu dalam perjalanan niaganya.

Si pedagang memiliki keledai yang bisa digunakan untuk bepergian.

BACA JUGA: Al-Qur’an Menjadi Penghibur atas Kematian Putranya

Sebelumnya, ia telah menyewa seekor bighal (keledai blasteran) untuk mengangkut barang dagangannya. Ia menunggang keledainya, dan saudaranya menunggang bighal. Kemudian mereka memulai perjalanan, ditemani oleh satu pelayan lainnya.

Dalam perjalanan, mereka beristirahat di sebuah bukit. Di sana terdapat gua yang memiliki mata air. Saudara pedagang berkata, “Kusarankan kita istirahat di sini. Kita bisa mengistirahatkan keledai-keledai dan memberinya minum dengan air gua ini. Kita juga bisa makan di sini. Setelah itu, kita lanjutkan perjalanan.”

“Baiklah.”

Si pedagang turun dari punggung keledainya. Ia berdiri di depan pintu gua. la masukkan barang-barang dagangannya ke dalam gua, lalu menggelar tikar. la duduk di atasnya. Sementara itu, saudaranya yang miskin dan sang pelayan menghela keledai, menuju sumber air untuk diberi minum.

Pedagang menunggu saudaranya, namun yang ditunggu tak kunjung datang. Lalu ia datang sendiri mencari saudaranya itu, setelah sebelumnya mengikat dulu keledainya.

Saudaranya berkata, “Mengapa engkau masih duduk di sana, padahal aku menunggumu untuk makan bersama?”

“Aku menunggumu selesai memberi minum keledai. Di mana pelayan kita?”

“Telah tidur di atas bukit.”

“Mari kita makan!”

Saudara pedagang pergi sejenak. Kemudian kembali lagi dengan membawa sebongkah batu untuk melempar saudaranya.

“Celaka kamu, apa yang kau inginkan?” tanya pedagang keheranan.

https://s.shopee.co.id/8KjNfTuXxD

“Aku ingin membunuhmu! Engkau ambil harta ayah, lalu kau gunakan sebagai modal berdagang. Setelah itu, kau jadikan pula aku budakmu?!”

“Tunggu! Jangan lakukan itu!”

Saudara pedagang melempar batu pada punggung si pedagang. Setelah itu, ia mengikat tangannya.

Si pedagang berteriak kesakitan. Tapi, tak ada seorang pun yang bisa mendengar suaranya.

Saudara yang miskin itu menduduki dada pedagang. Di pinggangnya terikat sebilah pisau tajam. Ia hendak menyembelih saudaranya itu, la berusaha mengeluarkan pisau dari warangkanya, tetapi tampaknya hal itu sulit dilakukan kalau sambil duduk. Karena itu, ia berdiri. Tangan kirinya menenteng pisau yang masih berada dalam warangka. Tangan kanannya dengan tenaga penuh menarik pisau dari warangkanya, namun pisau itu tersangkut pada tali, dan menghunjam tenggorokannya. Darahnya memuncrat dengan derasnya. la mati seketika.

Sementara itu, badan si pedagang masih terikat. la tak sanggup bergerak. Keledainya juga masih terikat. Makanan yang tadinya hendak disantap tercecer berantakan. Pedagang masih dalam keadaan tersebut sepanjang hari itu sampai malam. Keesokan hari, kondisinya belum berubah. Masih terikat.

Serombongan kafilah melewati jalan yang tak jauh dari loksai itu. Keledai-keledai kafilah meringkik dengan suara keras. Keledai-keledai itu tampak gelisah. Mereka merasakan adanya keledai lain di wilayah itu. Keledai-keledai itu menarik tali kendalinya sendiri. Para penunggangnya tak sanggup mengendalikan keledai-keledainya, sehingga mereka terlepas bebas, dan mencari keledai lain.

Akhirnya, kafilah itu berhasil menemukan dua ekor keledai, yang satu masih terikat dan yang lain sudah lepas dari ikatannya. Mereka mengira, keledai-keledai itu milik kafilah lain yang baru saja diserang oleh perampok. Karena merasa memiliki pertahanan kuat, kafilah bergegas menghampiri dua keledai milik pedagang. Saat mereka sudah mendekat, keledai yang sudah lepas berlari ke arah di mana majikannya berada.

BACA JUGA: Hujaimah binti Huyay Tetap Setia dengan Abu Darda

Kafilah mengikuti arah yang dituju keledai, hingga akhirnya mereka mendapati si pedagang yang masih dalam keadaan terikat. Sementara itu, di sekitarnya makanan tercecer berantakan. Mereka melihat sosok lekaki yang tersembelih, tapi tangannya masih memegang pisau. Kafilah itu melihat peristiwa itu sebagai sebuah keajaiban.

Kafilah meminta si pedagang untuk bicara. Pedagang memberi isyarat kalau dirinya tidak bisa bicara. Mereka melepas tali yang mengikat si pedagang, lalu memberinya minum. Mereka tetap menemani si pedagang hingga keadaannya pulih dan sanggup bicara lagi.

Si pedagang menceritakan kisahnya begitu keadaannya pulih. Setelah itu, mereka mencari keberadaan pelayan si pedagang. Mereka mendapati si pelayan tenggelam di dalam sumber air. Rupanya itu hasil perbuatan saudara pedagang.

Kafilah membantu pedagang menaikkan barang-barangnya ke atas bighal. Mereka juga membantu pedagang naik ke atas punggung keledainya. Mereka mengantar pedagang hingga sampai tempat peristirahatan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *