Kenapa Istri Kalau Disuruh Memilih Sering Bilang “Terserah”?

Yudi
By Yudi
6 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DALAM kehidupan rumah tangga, ada satu jawaban yang mungkin sering membuat suami bingung, yaitu “terserah”. Ketika ditanya mau makan apa, mau pergi ke mana, ingin dibelikan apa, atau bahkan ketika diminta memilih sesuatu yang cukup penting, sebagian istri justru menjawab dengan kata tersebut. Bagi suami, jawaban “terserah” terkadang terasa seperti tidak membantu karena suami tetap harus menentukan pilihan sendiri.

Namun, kata “terserah” tidak selalu berarti istri benar-benar tidak peduli terhadap pilihan yang akan diambil. Dalam banyak keadaan, seseorang mengatakan “terserah” karena merasa semua pilihan yang tersedia sebenarnya tidak terlalu bermasalah baginya. Bisa juga karena ia ingin memberi kesempatan kepada pasangannya untuk menentukan keputusan, terutama dalam hal-hal sederhana yang tidak perlu diperdebatkan terlalu panjang.

BACA JUGA: Kenapa Ya, Uang Digital Rasanya Lebih Cepat Habis?

Ada pula keadaan ketika “terserah” sebenarnya bukan berarti bebas memilih, tetapi merupakan tanda bahwa istri sedang lelah. Setelah menjalani berbagai pekerjaan rumah, mengurus anak, bekerja, atau menghadapi banyak persoalan sepanjang hari, pertanyaan sederhana seperti “mau makan apa?” justru bisa terasa seperti tambahan beban untuk menentukan sesuatu. Akhirnya, daripada berpikir dan memilih, jawaban yang keluar adalah “terserah”.

Alasan lainnya adalah karena istri mungkin merasa pendapatnya selama ini kurang diperhatikan. Misalnya, ketika beberapa kali ia sudah menyampaikan keinginannya tetapi keputusan akhirnya selalu berbeda atau tidak pernah benar-benar dipertimbangkan. Dalam kondisi seperti itu, “terserah” bisa menjadi bentuk menarik diri dari percakapan karena ia merasa menjelaskan keinginannya tidak akan banyak mengubah keadaan.

Ada juga istri yang menggunakan kata “terserah” karena sebenarnya ingin suaminya lebih peka. Ini bukan berarti setiap perempuan pasti mempunyai maksud tersembunyi ketika mengatakan “terserah”, tetapi dalam sebagian hubungan, seseorang berharap pasangannya dapat memahami keinginannya tanpa harus selalu dijelaskan secara panjang. Masalahnya, suami tidak selalu mampu membaca maksud tersebut sehingga “terserah” justru bisa menimbulkan salah paham.

Karena itu, suami sebaiknya tidak langsung menganggap bahwa istrinya sedang marah atau sengaja membuat dirinya kesulitan. Lebih baik melihat konteks pembicaraan, ekspresi wajah, nada suara, dan keadaan yang sedang terjadi. Jika istri mengatakan “terserah” dengan santai ketika ditanya ingin makan di mana, mungkin memang ia memberikan kebebasan kepada suaminya, tetapi jika jawabannya disertai diam, wajah kecewa, atau nada yang berbeda dari biasanya, mungkin ada persoalan lain yang perlu dibicarakan.

Dalam rumah tangga, komunikasi yang sehat tidak harus selalu berupa percakapan panjang. Kadang suami cukup mengubah pertanyaan yang terlalu luas menjadi pilihan yang lebih spesifik. Daripada bertanya, “Kita makan apa?”, suami bisa bertanya, “Mau makan bakso atau nasi goreng?” Pertanyaan seperti ini membuat pasangan lebih mudah memberikan jawaban karena tidak harus memikirkan seluruh kemungkinan yang ada.

Hal yang sama berlaku untuk keputusan yang lebih besar. Jika suami bertanya, “Kamu mau bagaimana?” kemudian istri menjawab “terserah”, jangan langsung mengambil keputusan tanpa memastikan maksudnya. Suami dapat mengatakan, “Kalau menurut kamu, pilihan A atau B lebih baik?” Dengan begitu, istri tetap mempunyai ruang untuk menyampaikan pendapat tanpa merasa harus memikirkan semuanya dari awal.

Dari sisi istri, mengatakan “terserah” terus-menerus juga bukan kebiasaan yang selalu baik. Jika sebenarnya mempunyai keinginan tertentu, akan lebih sehat apabila disampaikan dengan jelas dan sopan. Jangan berharap pasangan selalu bisa menebak isi pikiran, karena suami dan istri tetap merupakan dua manusia yang memiliki pengalaman, kebiasaan, dan cara berpikir yang berbeda.

Dalam Islam, kehidupan suami istri dibangun dengan prinsip memperlakukan pasangan secara baik. Allah memerintahkan agar para suami mempergauli istri dengan cara yang patut, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 19. Prinsip ini menunjukkan bahwa hubungan pernikahan bukan sekadar tentang siapa yang mempunyai keputusan terakhir, tetapi juga tentang bagaimana pasangan saling menghargai dan memperlakukan satu sama lain dengan baik.

Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan dalam kehidupan rumah tangga. Beliau tidak menjadikan kepemimpinan dalam keluarga sebagai alasan untuk mengabaikan pasangan. Bahkan, kehidupan beliau bersama keluarga menunjukkan adanya perhatian, kelembutan, komunikasi, dan keterlibatan dalam urusan rumah tangga.

Karena itu, ketika istri berkata “terserah”, jangan selalu melihatnya sebagai masalah besar. Bisa jadi ia sedang memberikan kebebasan, sedang lelah, tidak ingin memperpanjang pembicaraan, atau sebenarnya ingin suaminya lebih peka terhadap keadaan dirinya. Yang terpenting adalah jangan menjadikan satu kata sebagai dasar untuk menuduh pasangan memiliki niat buruk.

Suami juga tidak perlu merasa bahwa dirinya harus selalu mampu membaca pikiran istrinya. Pernikahan yang sehat justru dibangun dengan kebiasaan bertanya, mendengarkan, menjelaskan, dan mengklarifikasi ketika terjadi kesalahpahaman. Jika jawaban “terserah” membuat suami bingung, bertanya dengan lembut jauh lebih baik daripada langsung marah atau mengambil kesimpulan.

BACA JUGA: Apakah Jin Juga Bisa Diare atau Sakit Perut seperti Manusia?

Pada akhirnya, “terserah” bisa mempunyai banyak arti tergantung situasi dan hubungan antara suami istri. Kadang artinya memang “silakan kamu pilih”, kadang berarti “aku tidak masalah”, dan dalam keadaan tertentu bisa juga menjadi tanda bahwa seseorang sedang lelah atau merasa tidak didengarkan. Karena itu, daripada sibuk menebak-nebak arti kata tersebut, pasangan sebaiknya membangun komunikasi yang membuat keduanya merasa aman untuk menyampaikan apa yang sebenarnya diinginkan.

Rumah tangga bukan tempat untuk memenangkan setiap perdebatan atau menguji apakah pasangan mampu membaca pikiran. Rumah tangga adalah tempat dua orang belajar saling memahami, termasuk memahami hal-hal kecil yang terkadang tidak terucapkan dengan sempurna. Ketika suami dan istri terbiasa berbicara dengan jujur, lembut, dan saling menghargai, kata “terserah” pun tidak harus menjadi sumber pertengkaran. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *