Seberapa Besar Dosa Orang yang Membuat Video Haram dan Menyebarkannya?

Yudi
By Yudi
7 Min Read
Foto: Freepik

DI zaman media sosial, seseorang dapat membuat sebuah video hanya dalam hitungan menit, kemudian menyebarkannya kepada ribuan bahkan jutaan orang. Masalahnya, tidak semua video yang dibuat dan disebarkan merupakan sesuatu yang bermanfaat. Ada pula video yang menampilkan aurat, pornografi, kemaksiatan, penghinaan, atau berbagai hal yang dilarang dalam agama.

Pertanyaannya, seberapa besar dosa orang yang membuat video haram kemudian menyebarkannya kepada orang lain? Persoalan ini menjadi semakin serius karena sebuah video yang sudah masuk internet dapat disalin, diunduh, dan disebarkan kembali oleh banyak orang. Artinya, dampak dari satu perbuatan bisa terus berlangsung meskipun pembuatnya sudah tidak aktif membagikannya.

BACA JUGA: Suami Hobi Nonton Film Haram, Bagaimana Sikap Istri?

Membuat konten haram bukan sekadar kesalahan pribadi

Jika seseorang sengaja membuat video yang mengandung sesuatu yang diharamkan, persoalannya bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ketika video tersebut dibuat untuk ditonton orang lain, ada unsur mengajak, memfasilitasi, atau membuka jalan bagi orang lain untuk melihat sesuatu yang dilarang.

Allah mengingatkan dalam QS. Al-Maidah ayat 2 agar manusia tidak saling membantu dalam dosa dan permusuhan. Karena itu, seseorang harus berhati-hati ketika membuat konten yang memang sejak awal ditujukan untuk menarik orang kepada kemaksiatan.

Besarnya dosa tentu tidak dapat dihitung hanya dengan angka yang kita tentukan sendiri. Allah yang paling mengetahui kadar dosa setiap orang, karena Dia mengetahui niat, kesengajaan, pengetahuan, dampak, dan keadaan orang tersebut. Namun, semakin luas sebuah kemaksiatan sengaja disebarkan dan semakin besar dampak buruk yang ditimbulkannya, semakin serius pula persoalan yang harus dipertanggungjawabkan.

Bagaimana jika video tersebut ditonton banyak orang?

Bayangkan seseorang membuat satu video haram lalu mengunggahnya ke media sosial. Jika video itu kemudian ditonton ribuan orang, persoalannya berbeda dengan seseorang yang melakukan kesalahan secara tersembunyi dan tidak mengajak orang lain mengikutinya.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang mengajak kepada kesesatan akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. Hadis ini menunjukkan betapa berat tanggung jawab seseorang yang menjadi sebab orang lain mengikuti keburukan.

Karena itu, seorang pembuat konten tidak boleh hanya berpikir, “Saya hanya membuat videonya, orang lain yang memilih menonton.” Jika sejak awal video tersebut dibuat untuk menyebarkan kemaksiatan, pembuatnya tidak dapat begitu saja melepaskan tanggung jawab moral atas dampak yang ditimbulkannya.

Bagaimana dengan orang yang ikut membagikan?

Tanggung jawab tidak hanya berada pada orang yang pertama kali membuat video. Orang yang sengaja mengunggah ulang, membagikan, mengirimkan, atau mempromosikan konten haram juga perlu berhati-hati karena ia turut memperluas penyebaran sesuatu yang dilarang.

Bahkan tindakan yang terlihat sederhana seperti mengirimkan video kepada satu orang dapat menjadi awal dari penyebaran yang lebih luas. Penerima bisa mengirimkannya lagi kepada orang lain, kemudian orang tersebut membagikannya kembali. Dalam waktu singkat, sebuah konten yang awalnya hanya berada di satu akun dapat menyebar ke berbagai tempat.

Apakah menonton juga berdosa?

Jika seseorang sengaja mencari dan menikmati konten yang haram, ia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu, jangan sampai kita hanya menyalahkan pembuat video, sementara diri sendiri terus mencari, menonton, menyimpan, atau membagikannya.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa media sosial menciptakan rantai tanggung jawab. Ada orang yang membuat, ada yang mengunggah, ada yang menyebarkan, ada yang sengaja mencari, dan ada pula yang membantu membuat konten tersebut semakin populer. Masing-masing harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan apa yang dilakukan.

https://s.shopee.co.id/2Vrx5sXv0j

Bagaimana jika awalnya membuat video hanya untuk mencari uang?

Alasan mendapatkan uang tidak otomatis membuat sesuatu yang haram menjadi halal. Jika seseorang mengetahui bahwa konten yang dibuat mengandung kemaksiatan dan tetap memproduksinya demi mendapatkan keuntungan, maka persoalannya menjadi lebih berat karena terdapat unsur kesengajaan mengejar keuntungan melalui sesuatu yang dilarang.

Rezeki memang harus dicari, tetapi seorang Muslim diperintahkan untuk mencari penghasilan melalui jalan yang halal. Jangan sampai mengejar jumlah penonton, iklan, popularitas, atau keuntungan finansial membuat seseorang rela menjadi sebab tersebarnya kemaksiatan kepada masyarakat.

Bagaimana jika sudah terlanjur membuat dan menyebarkannya?

Pintu taubat masih terbuka selama seseorang masih hidup. Orang yang menyadari bahwa dirinya telah membuat atau menyebarkan konten haram hendaknya tidak hanya mengucapkan istighfar, tetapi juga berusaha menghentikan penyebaran konten tersebut dan memperbaiki kerusakan yang masih dapat diperbaiki.

Jika masih memiliki kendali atas akun atau unggahan tersebut, hapuslah konten yang haram. Jangan terus membiarkannya tersedia hanya karena sudah menghasilkan banyak penonton atau keuntungan. Jika pernah membagikannya kepada orang lain, jangan mengulanginya dan sebisa mungkin meminta mereka menghapusnya jika hal tersebut dapat dilakukan dengan cara yang tepat.

Taubat yang benar juga disertai penyesalan dan tekad untuk tidak kembali melakukan perbuatan tersebut. Jika seseorang memperoleh keuntungan dari konten haram, ia juga perlu memikirkan bagaimana menyelesaikan persoalan harta tersebut dengan meminta nasihat dari ulama atau ahli fikih yang dapat memahami kasusnya secara lebih spesifik.

Jangan merasa aman karena konten sudah dihapus

Salah satu masalah terbesar di internet adalah jejak digital. Video yang dihapus dari akun pembuatnya belum tentu benar-benar hilang karena mungkin sudah diunduh, disalin, atau diunggah kembali oleh orang lain.

Karena itu, orang yang bertaubat perlu berusaha semaksimal mungkin menghentikan penyebaran yang masih berada dalam kendalinya. Setelah melakukan usaha tersebut, jangan berputus asa dari rahmat Allah. Allah mengetahui kesungguhan seseorang dalam meninggalkan kemaksiatan dan memperbaiki kesalahannya.

BACA JUGA: Adakah Dampak Buruk Istri Terlalu Sering Nonton Film Cowok Korea?

Pada akhirnya, membuat dan menyebarkan video haram bukan perkara yang layak dianggap ringan. Apalagi jika seseorang sengaja memproduksinya, mendapatkan keuntungan darinya, kemudian membuatnya tersebar luas dan menjadi sebab banyak orang melihat atau melakukan kemaksiatan.

Namun, kita juga tidak boleh sembarangan menentukan bahwa seseorang pasti mendapat hukuman tertentu di akhirat. Urusan kadar dosa dan hukuman akhirnya adalah hak Allah. Yang dapat kita lakukan adalah memahami bahayanya, menjauhi perbuatan tersebut, tidak ikut menyebarkannya, serta segera bertaubat apabila pernah terlibat.

Di era digital, satu jari dapat menjadi jalan menuju pahala, tetapi juga dapat menjadi jalan tersebarnya dosa. Karena itu, sebelum menekan tombol unggah, bagikan, atau kirim, tanyakan kepada diri sendiri: apakah konten ini akan menjadi sesuatu yang ingin saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *