ISTILAH “jajan” dalam rumah tangga sering digunakan untuk menggambarkan suami yang mencari hubungan atau layanan seksual di luar pernikahan. Perilaku seperti ini tentu dapat melukai perasaan istri, merusak kepercayaan, dan mengancam keutuhan rumah tangga. Ketika seorang istri mengetahui suaminya melakukan hal tersebut, wajar jika muncul rasa marah, kecewa, malu, bahkan mempertanyakan apakah dirinya masih dicintai.
Namun, istri tidak perlu langsung mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak. Persoalan seperti ini membutuhkan sikap tenang agar masalah tidak semakin besar dan keputusan yang diambil tidak justru merugikan diri sendiri maupun anak-anak. Yang paling penting adalah menghadapi masalah berdasarkan kenyataan, bukan hanya berdasarkan dugaan atau kabar dari orang lain.
BACA JUGA: Boleh Gak Sih Buka HP Suami tanpa Izin dari Suami?
1. Pastikan terlebih dahulu kebenarannya
Jika istri baru mendengar kabar bahwa suaminya suka “jajan”, jangan langsung menuduh tanpa mengetahui faktanya. Bisa saja informasi tersebut berasal dari orang lain yang keliru, atau ada keadaan yang belum diketahui secara lengkap. Tetapi jika terdapat bukti yang kuat, persoalannya tentu perlu dibicarakan secara serius.
Istri dapat memilih waktu yang tepat untuk berbicara dengan suami. Hindari membahasnya ketika keduanya sedang emosi atau di depan anak-anak. Tujuannya bukan sekadar memenangkan pertengkaran, melainkan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa suami melakukan hal tersebut.
2. Ajak suami berbicara secara terbuka
Setelah fakta diketahui, istri perlu menyampaikan perasaannya dengan jelas. Katakan bahwa perilaku tersebut telah menghancurkan kepercayaan dan membuat kehidupan rumah tangga menjadi tidak aman secara emosional. Pembicaraan yang jujur dapat membantu mengetahui apakah suami benar-benar menyesal atau justru menganggap perbuatannya sebagai sesuatu yang biasa.
Suami juga perlu memahami bahwa masalah ini bukan sekadar persoalan “jajan”, tetapi menyangkut tanggung jawab sebagai pasangan. Pernikahan dibangun dengan kepercayaan, kesetiaan, dan komitmen untuk menjaga diri dari hubungan yang dapat merusak rumah tangga. Jika suami terus menganggap remeh masalah tersebut, kemungkinan terjadinya pengulangan akan semakin besar.
3. Jangan langsung menyalahkan diri sendiri
Ada istri yang ketika mengetahui suaminya mencari perempuan lain langsung berpikir, “Apakah aku kurang cantik?”, “Apakah aku tidak bisa melayani suami?”, atau “Apakah semua ini salahku?” Pemikiran seperti itu tidak selalu benar karena keputusan seseorang untuk melakukan pelanggaran dalam pernikahan tetap merupakan tanggung jawab orang yang mengambil keputusan tersebut.
Masalah dalam hubungan suami istri memang bisa dibicarakan dan diperbaiki bersama. Namun, adanya masalah rumah tangga tidak otomatis menjadi pembenaran bagi seseorang untuk mencari hubungan seksual di luar pernikahan. Suami tetap harus bertanggung jawab atas pilihan dan perilakunya sendiri.
4. Minta suami menghentikan perilaku tersebut
Jika suami mengakui perbuatannya dan masih ingin mempertahankan rumah tangga, harus ada perubahan yang nyata. Bukan hanya meminta maaf setelah ketahuan, kemudian mengulangi perbuatan yang sama beberapa waktu kemudian. Istri berhak meminta komitmen yang jelas bahwa hubungan atau aktivitas tersebut benar-benar dihentikan.
Dalam perspektif Islam, hubungan seksual di luar pernikahan merupakan perbuatan yang dilarang. Allah berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 32, “Dan janganlah kamu mendekati zina.” Karena itu, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut perasaan istri, tetapi juga pertanggungjawaban suami di hadapan Allah.
5. Perhatikan juga aspek kesehatan
Jika suami melakukan hubungan seksual dengan orang lain, persoalan kesehatan tidak boleh diabaikan. Istri dapat mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan seksual bersama pasangan, terutama apabila terdapat kemungkinan paparan infeksi menular seksual. Hal ini bukan berarti menuduh atau mempermalukan pasangan, tetapi merupakan langkah perlindungan kesehatan bagi kedua pihak.
Sebelum hubungan seksual dalam rumah tangga dilanjutkan seperti biasa, keterbukaan mengenai kondisi kesehatan menjadi sangat penting. Jika diperlukan, pemeriksaan dapat dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan agar pasangan mendapatkan informasi yang tepat dan tidak hanya mengandalkan dugaan.
6. Cari bantuan pihak yang dapat dipercaya
Jika komunikasi antara suami dan istri selalu berakhir dengan pertengkaran, jangan ragu mencari pihak ketiga yang bijaksana. Bisa berupa konselor pernikahan, psikolog, atau ustaz yang memiliki pemahaman agama sekaligus mampu menjaga kerahasiaan masalah keluarga.
Namun, tidak semua masalah rumah tangga harus diceritakan kepada banyak orang. Pilih orang yang benar-benar dapat membantu, bukan orang yang justru senang menyebarkan aib atau memperkeruh keadaan. Tujuan mencari bantuan adalah mendapatkan jalan keluar, bukan mempermalukan suami atau membuka masalah keluarga kepada masyarakat.
7. Lihat apakah suami benar-benar berubah
Permintaan maaf adalah awal, bukan akhir dari penyelesaian. Istri perlu melihat apakah setelah kejadian tersebut suami menunjukkan perubahan dalam sikap, pergaulan, penggunaan waktu, dan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Perubahan yang konsisten jauh lebih bermakna daripada janji yang hanya diucapkan ketika sedang takut kehilangan rumah tangga.
Jika suami berulang kali melakukan hal yang sama meskipun sudah dinasihati, sudah berjanji, dan sudah diberikan kesempatan untuk berubah, istri perlu mengevaluasi kondisi rumah tangganya secara lebih serius. Kesabaran tidak berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti tanpa batas.
8. Jangan mengambil keputusan besar karena tekanan orang lain
Ketika masalah seperti ini diketahui keluarga atau teman, biasanya akan muncul banyak pendapat. Ada yang menyuruh langsung bercerai, ada pula yang meminta istri bertahan apa pun yang terjadi. Padahal, orang luar tidak selalu mengetahui keseluruhan keadaan rumah tangga tersebut.
Istri perlu mempertimbangkan banyak hal dengan tenang, termasuk sikap suami, adanya penyesalan, kesediaan berubah, kondisi anak, keamanan rumah tangga, serta kemampuan keduanya memperbaiki hubungan. Jika pada akhirnya perceraian menjadi pilihan setelah berbagai upaya perbaikan tidak berhasil, keputusan tersebut sebaiknya diambil melalui pertimbangan yang matang dan sesuai ketentuan agama serta hukum yang berlaku.
BACA JUGA: Dalam Rumah Tangga, Suami Harus Mengutamakan Ibu atau Istri Sih?
Pada akhirnya, suami yang suka “jajan” tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan kecil yang cukup diselesaikan dengan memaklumi kebiasaan tersebut. Istri boleh merasa terluka dan berhak meminta kesetiaan, kejujuran, serta penghormatan dalam pernikahan. Sementara itu, suami yang benar-benar ingin mempertahankan rumah tangga harus menunjukkan perubahan nyata, bukan sekadar meminta maaf ketika perbuatannya terbongkar.
Rumah tangga memang tidak selalu bebas dari masalah, tetapi setiap masalah membutuhkan tanggung jawab dari kedua pihak. Jika suami mau bertaubat, menghentikan perilakunya, memperbaiki diri, dan membangun kembali kepercayaan, rumah tangga masih memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Sebaliknya, jika pelanggaran terus dilakukan tanpa penyesalan, istri perlu berani mengambil langkah yang melindungi kehormatan, kesehatan, dan masa depan dirinya serta keluarganya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

