AL-QUR’AN merupakan kitab suci yang diyakini umat Islam sebagai firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Di dalamnya terdapat ajaran tentang tauhid, ibadah, akhlak, kehidupan, hingga peringatan mengenai akhirat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2 bahwa kitab tersebut tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.
Namun, jika Al-Qur’an merupakan petunjuk yang benar, mengapa masih ada manusia yang tidak mau beriman kepada Allah SWT? Bahkan, ada orang yang mengetahui ajaran Islam, mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, dan memahami sebagian kebenarannya, tetapi tetap memilih untuk tidak beriman. Apakah mereka belum mendapatkan petunjuk, terlalu mencintai dunia, atau memiliki alasan lain yang membuat hati mereka sulit menerima kebenaran?
BACA JUGA: Berapa Jumlah Huruf dalam Al-Quran?
1. Kebenaran tidak selalu membuat manusia mau menerima
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa mengetahui sesuatu yang benar tidak selalu membuat seseorang bersedia menerimanya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan orang yang mengetahui bahwa suatu perbuatan merugikan, tetapi tetap melakukannya karena menganggap perbuatan tersebut menguntungkan dirinya. Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang berhadapan dengan kebenaran agama.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebagian orang menolak kebenaran bukan semata-mata karena tidak mengetahui, melainkan karena kesombongan dan keengganan untuk tunduk. Dalam Surah An-Naml ayat 14, Allah SWT menceritakan tentang orang-orang yang mengingkari tanda-tanda kebesaran-Nya, padahal hati mereka meyakininya, karena kezaliman dan kesombongan.
Ayat tersebut menggambarkan salah satu bentuk penolakan terhadap kebenaran. Namun, kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang belum beriman pasti mengetahui kebenaran Islam di dalam hatinya. Keadaan batin setiap manusia tidak selalu dapat diketahui oleh orang lain, dan hanya Allah SWT yang mengetahui isi hati serta keadaan setiap hamba-Nya.
2. Terlalu mencintai dunia dan takut kehilangan kesenangan
Salah satu penghalang manusia dalam menerima kebenaran adalah kecintaan yang berlebihan terhadap kehidupan dunia. Ada orang yang merasa bahwa beriman dan menjalankan ajaran agama akan membatasi kebebasannya, mengharuskannya meninggalkan kebiasaan tertentu, atau membuatnya tidak bisa menikmati kesenangan yang selama ini dikejar.
Misalnya, seseorang memahami bahwa Islam melarang perbuatan tertentu, tetapi ia enggan meninggalkannya karena takut kehilangan kesenangan, hubungan, atau keuntungan materi. Ia mungkin berpikir bahwa beriman akan membuat hidupnya menjadi lebih sulit, padahal kehidupan seorang Muslim memang menuntut tanggung jawab dan pengendalian diri.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Qiyamah ayat 20–21 tentang manusia yang mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan kehidupan akhirat. Ayat ini menjadi peringatan bagi siapa pun agar tidak menjadikan kesenangan sementara sebagai alasan untuk mengabaikan kehidupan yang kekal.
3. Kesombongan membuat seseorang sulit menerima petunjuk
Kebenaran terkadang datang melalui orang yang tidak kita sukai, seseorang yang kedudukannya dianggap lebih rendah, atau nasihat yang bertentangan dengan pendapat kita sendiri. Ketika kesombongan menguasai hati, seseorang dapat menolak nasihat bukan karena isinya salah, melainkan karena tidak ingin mengakui bahwa dirinya keliru.
Dalam sejarah para nabi, penolakan terhadap dakwah tidak selalu disebabkan oleh kurangnya bukti. Ada pula orang yang mempertahankan kedudukan, pengaruh, dan kehormatan kelompoknya sehingga tidak mau mengikuti ajaran yang disampaikan. Mereka khawatir kehilangan kekuasaan atau harus mengubah kebiasaan yang sudah menguntungkan mereka.
Sikap ini seharusnya menjadi pelajaran bagi orang yang telah beriman. Jangan sampai kita merasa sudah berada di pihak yang benar, tetapi justru menolak nasihat yang baik hanya karena datang dari orang lain. Keimanan tidak seharusnya membuat seseorang sombong, melainkan mendorongnya untuk semakin rendah hati di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
4. Lingkungan dan pengalaman hidup dapat memengaruhi seseorang
Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang mengenalkan Islam secara benar. Ada orang yang sejak kecil tidak memperoleh pendidikan agama yang memadai, sedangkan sebagian lainnya mengenal Islam melalui informasi yang keliru atau pengalaman buruk dengan orang yang mengaku beragama.
Seseorang yang sering melihat perilaku tidak adil dari orang yang mengatasnamakan agama mungkin menjadi kecewa dan enggan mempelajari Islam lebih jauh. Ada pula orang yang memiliki pertanyaan tentang Tuhan, takdir, penderitaan, atau isi Al-Qur’an, tetapi tidak menemukan penjelasan yang memuaskan. Keadaan seperti ini membutuhkan dialog yang baik, bukan sekadar tuduhan bahwa orang tersebut keras hati.
Karena itu, umat Islam perlu menunjukkan ajaran agamanya melalui ilmu, akhlak, kejujuran, dan kasih sayang. Perilaku seorang Muslim memang tidak menentukan benar atau salahnya Al-Qur’an, tetapi perilaku tersebut dapat memengaruhi cara orang lain memandang Islam. Dakwah yang bijaksana dapat membantu seseorang mengenal ajaran Islam dengan lebih jernih.
5. Apakah Allah memberikan petunjuk kepada semua manusia?
Dalam ajaran Islam, Allah SWT adalah pemberi petunjuk, tetapi manusia juga diperintahkan untuk mencari kebenaran, menggunakan akal, memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya, dan mengikuti petunjuk yang telah sampai kepadanya. Al-Qur’an mengajak manusia berpikir, merenungkan penciptaan langit dan bumi, serta mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa.
Surah Al-Qashash ayat 56 menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang beliau cintai, melainkan Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Ayat ini mengingatkan bahwa hidayah bukan sesuatu yang dapat dipaksakan oleh manusia kepada orang lain.
Namun, hal tersebut tidak berarti manusia boleh berhenti berusaha mencari kebenaran atau mengabaikan tanggung jawabnya. Kita tetap diperintahkan untuk belajar, berdoa, dan memilih jalan yang benar. Pada saat yang sama, kita tidak boleh merasa berhak menentukan nasib akhir seseorang di hadapan Allah karena pengetahuan kita sangat terbatas.
6. Apakah orang yang belum beriman pasti akan masuk neraka?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan kehati-hatian. Dalam ajaran Islam, iman kepada Allah dan penerimaan terhadap risalah-Nya merupakan perkara yang sangat mendasar, dan Al-Qur’an memuat peringatan tentang pertanggungjawaban manusia di akhirat. Akan tetapi, menentukan nasib akhir individu tertentu bukanlah kewenangan kita.
Keadaan setiap orang dapat berbeda. Ada orang yang telah menerima penjelasan Islam dengan jelas, ada yang belum pernah mengenalnya secara benar, dan ada pula yang memiliki hambatan pemahaman yang tidak diketahui orang lain. Allah SWT Maha Mengetahui apa yang sampai kepada setiap manusia, bagaimana mereka meresponsnya, serta alasan di balik pilihan mereka.
Oleh sebab itu, kita harus memegang teguh keyakinan terhadap ajaran Islam tanpa bersikap gegabah dalam menghakimi individu. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, mendoakan kebaikan bagi sesama, dan menyerahkan keputusan akhir kepada Allah SWT yang Mahaadil.
7. Jika sudah beriman, bagaimana cara menjaga hati?
Pembahasan tentang orang yang menolak iman seharusnya tidak hanya membuat kita menilai orang lain, tetapi juga mendorong kita memeriksa diri sendiri. Sebab, seseorang yang telah mengaku beriman pun dapat mengalami kelemahan dalam menjalankan perintah Allah, mengabaikan nasihat, atau lebih mengutamakan kepentingan dunia daripada akhirat.
Menjaga keimanan membutuhkan usaha yang berkelanjutan. Kita perlu membaca dan memahami Al-Qur’an, mempelajari ajaran Islam dari sumber yang tepercaya, melaksanakan ibadah wajib, memperbaiki akhlak, serta memohon agar hati diteguhkan di atas kebenaran. Jangan merasa aman dari kesesatan hanya karena saat ini kita sudah menjadi Muslim.
Selain itu, kita perlu membiasakan diri menerima kebenaran meskipun terkadang terasa berat. Ketika mengetahui suatu kesalahan, segeralah memperbaikinya. Ketika menerima nasihat, pertimbangkan isinya dengan adil. Dengan demikian, keimanan tidak berhenti sebagai pengakuan lisan, tetapi tercermin dalam pilihan dan perilaku sehari-hari.
BACA JUGA: Sudah Umur 40 Tahun Tapi Belum Bisa Baca Al-Quran, Haruskah Malu?
Al-Qur’an menegaskan kebenaran petunjuk Allah SWT, tetapi tidak semua manusia bersedia menerima dan mengikutinya. Sebagian orang dapat terhalang oleh kesombongan, kecintaan berlebihan terhadap dunia, pengaruh lingkungan, atau pemahaman yang keliru. Namun, kita tidak boleh menganggap bahwa semua orang yang belum beriman memiliki alasan dan keadaan batin yang sama.
Bagi umat Islam, keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an seharusnya mendorong kita untuk semakin taat, rendah hati, dan bersungguh-sungguh dalam menyampaikan ajaran agama. Kita tidak dapat memaksa hati orang lain untuk beriman, tetapi kita dapat berusaha menyampaikan kebenaran melalui perkataan yang baik, ilmu yang benar, dan teladan yang nyata.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa masih ada orang yang menolak beriman, melainkan juga apakah kita yang telah beriman benar-benar menjalankan petunjuk Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, mengaku percaya kepada kitab suci merupakan awal perjalanan, sedangkan membuktikan keimanan melalui ketaatan dan akhlak adalah perjuangan yang harus terus dilakukan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

