SEBLAK menjadi salah satu makanan yang sangat populer karena rasanya gurih, pedas, dan memiliki banyak pilihan isian. Kerupuk yang kenyal, ditambah cabai, telur, bakso, sosis, mi, ceker, atau berbagai topping lainnya membuat makanan ini sulit ditolak bagi banyak orang. Namun, bagaimana jika seblak yang awalnya hanya makanan sesekali berubah menjadi menu yang hampir selalu dikonsumsi setiap minggu, bahkan beberapa kali dalam seminggu?
Seblak sebenarnya tidak otomatis menjadi makanan berbahaya hanya karena rasanya pedas. Yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsinya, terutama jika seblak dibuat dengan banyak garam, minyak, makanan olahan, dan dikonsumsi dalam porsi besar. Jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus, seseorang berpotensi mendapatkan terlalu banyak natrium, kalori, lemak, dan makanan olahan sementara asupan sayur, buah, serta sumber gizi lainnya menjadi kurang.
BACA JUGA: Apa Makanan Nomor 1 Penyebab Penyakit Batu Empedu?
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan garam atau natrium. Bumbu seblak yang gurih dapat membuat seseorang tidak menyadari bahwa makanan tersebut mengandung cukup banyak natrium, terutama jika ditambah saus, penyedap, bakso, sosis, atau bahan olahan lainnya. Konsumsi natrium yang terlalu tinggi secara terus-menerus dapat meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang dan menjadi salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Masalahnya bukan semata-mata karena satu mangkuk seblak. Tubuh tidak akan langsung mengalami kerusakan hanya karena seseorang sesekali makan makanan pedas dan gurih. Yang perlu diwaspadai adalah kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi natrium dan rendah kualitas gizi secara berulang dalam jangka panjang.
Seblak juga dapat menjadi makanan yang cukup tinggi kalori tergantung bahan dan porsinya. Kerupuk, mi, telur, bakso, sosis, ceker, minyak, serta berbagai topping dapat membuat jumlah kalorinya meningkat. Jika seseorang rutin mengonsumsinya tetapi aktivitas fisiknya rendah dan total kalori harian terus berlebihan, berat badan dapat meningkat secara perlahan.
Kenaikan berat badan bukan sekadar persoalan penampilan. Berat badan berlebih, terutama jika disertai penumpukan lemak tubuh, dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan gangguan metabolik lainnya. Karena itu, kebiasaan makan perlu dilihat sebagai bagian dari pola hidup secara keseluruhan.
Kandungan makanan olahan juga perlu diperhatikan. Bakso, sosis, nugget, dan beberapa topping seblak lainnya termasuk makanan olahan yang dapat mengandung cukup banyak natrium dan lemak tergantung produknya. Jika seseorang hampir setiap hari mengandalkan makanan seperti ini, kualitas pola makannya bisa menjadi kurang baik karena terlalu sedikit mengonsumsi makanan segar.
Lalu bagaimana dengan cabai yang menjadi ciri khas seblak? Cabai tidak harus dianggap sebagai musuh. Bagi orang yang cocok dengan makanan pedas, konsumsi cabai dalam jumlah wajar umumnya bukan masalah utama. Namun, makanan yang sangat pedas dapat memicu rasa terbakar di dada, nyeri perut, atau memperburuk gejala pada orang tertentu yang memiliki masalah pencernaan seperti refluks atau gangguan lambung.
Karena itu, orang yang setelah makan seblak sering mengalami mulas, nyeri ulu hati, dada terasa panas, mual, atau diare sebaiknya tidak memaksakan diri. Tubuh sedang memberikan sinyal bahwa makanan atau jumlah yang dikonsumsi mungkin tidak cocok. Jika keluhan terus berulang, sebaiknya periksakan diri daripada hanya mengandalkan obat untuk menghilangkan gejala sementara.
Ada pula masalah lain yang sering luput diperhatikan, yaitu kurangnya serat. Seblak dengan dominasi kerupuk, mi, dan makanan olahan belum tentu menyediakan sayuran dan serat dalam jumlah yang cukup. Jika pola makan secara keseluruhan rendah serat, seseorang bisa lebih mudah mengalami sembelit dan kehilangan kesempatan mendapatkan berbagai vitamin serta mineral dari makanan nabati.
Bukan berarti seseorang harus berhenti makan seblak selamanya. Jika menyukai seblak, makanan tersebut masih dapat ditempatkan sebagai bagian dari pola makan yang lebih seimbang. Misalnya dengan mengurangi jumlah kerupuk atau mi, menambahkan sayuran, memilih protein seperti telur atau ayam, membatasi makanan olahan, serta tidak membuat kuah terlalu asin dan berminyak.
Porsi juga sangat penting. Seblak dalam porsi kecil yang dikonsumsi sesekali tentu berbeda dengan seblak porsi besar yang dimakan hampir setiap hari. Semakin sering makanan tinggi garam, kalori, dan bahan olahan dikonsumsi, semakin penting untuk memperhatikan keseimbangan makanan lainnya sepanjang hari.
Minuman yang menemani seblak juga perlu diperhatikan. Makan seblak dengan minuman manis dalam jumlah besar dapat menambah asupan gula dan kalori secara signifikan. Air putih merupakan pilihan yang lebih sederhana jika ingin menjaga agar total asupan gula harian tidak semakin tinggi.
BACA JUGA: Kamu Termasuk Kaya Jika Hari Ini Punya Makanan dan Tempat Tinggal
Yang juga perlu diingat adalah kondisi setiap orang berbeda. Orang dengan tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, diabetes, refluks, atau kondisi medis tertentu mungkin perlu mendapatkan batasan makanan yang lebih spesifik. Jika memiliki kondisi kesehatan tertentu, pola makan sebaiknya disesuaikan dengan anjuran dokter atau ahli gizi.
Jadi, apakah rutin makan seblak bisa “mengerikan” bagi tubuh? Bukan seblaknya semata yang harus ditakuti, melainkan kebiasaan makan yang tidak seimbang jika dilakukan terus-menerus. Terlalu banyak garam, kalori, makanan olahan, dan makanan pedas bagi orang yang sensitif, ditambah kurangnya sayur, buah, serat, serta aktivitas fisik, dapat menjadi kombinasi yang tidak baik bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, makanan favorit tidak harus selalu menjadi makanan terlarang. Yang lebih penting adalah frekuensi, porsi, bahan yang digunakan, dan pola hidup secara keseluruhan. Menikmati seblak sesekali boleh saja, tetapi jangan sampai makanan yang seharusnya menjadi kenikmatan sesekali berubah menjadi kebiasaan harian yang perlahan mengorbankan kesehatan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

