Kenapa Kita Tidak Boleh Mencela Pelaku Maksiat?

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Freepik

MAKSIAT adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Seorang Muslim tentu diperintahkan untuk menjauhi maksiat dan mengingatkan orang lain agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan dosa. Namun, ada satu hal yang sering dilupakan ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, yaitu membedakan antara membenci perbuatannya dan mencela orang yang melakukannya. Islam mengajarkan agar kita membenci kemaksiatan, tetapi tetap menjaga lisan dan tidak merendahkan manusia yang sedang terjatuh dalam dosa.

Mencela pelaku maksiat bukanlah cara yang tepat untuk melakukan amar makruf nahi mungkar. Ketika seseorang melakukan dosa, ia memang membutuhkan nasihat dan peringatan, tetapi bukan penghinaan yang membuatnya merasa tidak memiliki kesempatan untuk berubah. Bisa jadi orang yang hari ini melakukan maksiat justru menjadi orang yang paling sungguh-sungguh bertaubat di kemudian hari. Bahkan, kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan hidup seseorang karena hati manusia berada dalam kekuasaan Allah SWT.

BACA JUGA: Orang Tua Ahli Maksiat, Anak Masih Wajib Berbakti?

Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seorang Muslim tidak merasa dirinya lebih suci daripada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin terlihat sangat baik karena amalnya diketahui banyak orang, sedangkan orang lain terlihat buruk karena dosanya tampak di hadapan manusia. Namun, penilaian manusia terhadap keadaan seseorang tidak selalu sama dengan penilaian Allah SWT. Bisa jadi seseorang yang dianggap buruk sedang berjuang keras meninggalkan dosanya, sementara orang yang merasa dirinya baik justru sedang diuji dengan kesombongan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Salah satu bahaya mencela pelaku maksiat adalah munculnya kesombongan dalam hati. Ketika melihat orang lain berbuat dosa lalu kita berkata, “Untung saya tidak seperti dia,” hati perlu segera diperiksa. Rasa bersyukur karena Allah masih menjaga kita dari dosa tentu baik, tetapi jika berubah menjadi perasaan lebih suci dan lebih mulia daripada orang lain, keadaan tersebut justru berbahaya. Seorang Muslim seharusnya bersyukur karena diselamatkan dari maksiat sekaligus mendoakan agar orang yang terjatuh dalam dosa mendapatkan hidayah.

Ada perbedaan besar antara menegur dan mencela. Menegur bertujuan memperbaiki, sedangkan mencela sering kali bertujuan menjatuhkan harga diri seseorang. Nasihat yang baik mungkin terasa berat, tetapi masih memberikan jalan bagi seseorang untuk kembali kepada Allah. Sebaliknya, hinaan seperti “kamu memang manusia tidak berguna”, “orang seperti kamu pasti masuk neraka”, atau “tidak mungkin kamu berubah” justru dapat membuat seseorang semakin jauh dari agama.

Kita juga perlu memahami bahwa dosa tidak otomatis menghilangkan kemungkinan seseorang untuk mendapatkan ampunan Allah. Selama seseorang masih hidup, pintu taubat tetap terbuka. Banyak orang memiliki masa lalu yang buruk, tetapi kemudian berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik setelah mendapatkan hidayah. Karena itu, jangan sampai lisan kita menghakimi seseorang seolah-olah kita mengetahui bagaimana akhir kehidupannya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan lebih baik daripada mereka yang merendahkan. Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak selalu terlihat dari keadaan lahiriahnya. Orang yang hari ini melakukan kesalahan belum tentu lebih buruk di sisi Allah daripada orang yang sedang merasa dirinya lebih baik.

Mencela pelaku maksiat juga dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk kembali kepada jalan yang benar. Bayangkan seseorang yang sedang berusaha meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi setiap kali datang ke lingkungan masyarakat ia justru dipermalukan karena masa lalunya. Jika terus diperlakukan seperti orang yang tidak memiliki masa depan, ia bisa kehilangan harapan dan merasa bahwa dirinya memang tidak layak menjadi baik. Padahal, salah satu bentuk kasih sayang dalam berdakwah adalah memberikan harapan bahwa pintu taubat selalu terbuka.

Namun, tidak mencela bukan berarti membenarkan kemaksiatan. Ini merupakan bagian yang sangat penting untuk dipahami. Kita tetap boleh mengatakan bahwa zina adalah haram, judi adalah haram, minuman keras adalah haram, mencuri adalah dosa, dan perbuatan maksiat lainnya harus ditinggalkan. Yang harus dihindari adalah menjadikan larangan terhadap dosa sebagai alasan untuk menghina, mempermalukan, atau merasa lebih suci daripada orang yang sedang terjatuh dalam dosa.

https://s.shopee.co.id/2gBXvQ3SlB

Dalam memberikan nasihat, cara penyampaian juga sangat menentukan. Rasulullah SAW dikenal mengajarkan kebaikan dengan hikmah dan kelembutan, meskipun dalam kondisi tertentu beliau memberikan teguran yang tegas. Ketegasan terhadap kemaksiatan tetap bisa berjalan bersama dengan kasih sayang terhadap orang yang melakukan kesalahan. Tujuan utama nasihat bukan membuat seseorang malu di hadapan manusia, melainkan membantunya kembali kepada Allah SWT.

Kita juga perlu berhati-hati terhadap kebiasaan menyebarkan aib orang lain. Seseorang mungkin pernah melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi, kemudian ada orang yang mengetahui dan menyebarkannya kepada banyak orang. Perbuatan tersebut bukan hanya berpotensi merusak kehormatan orang lain, tetapi juga dapat membuat kemaksiatan menjadi bahan hiburan dan perbincangan. Jika sebuah kesalahan tidak perlu diumbar kepada publik, menjaga aib dan memberikan nasihat secara pribadi sering kali jauh lebih dekat dengan tujuan memperbaiki.

Ada pula kondisi ketika kemaksiatan dilakukan secara terang-terangan dan bahkan dipromosikan kepada orang lain. Dalam keadaan seperti ini, kemungkaran tetap perlu diingkari sesuai kemampuan dan ketentuan yang benar. Akan tetapi, mengingkari perbuatan tetap berbeda dengan menghina pribadi pelakunya. Kita dapat menolak dan menjelaskan bahwa suatu perbuatan salah tanpa harus menggunakan kata-kata kasar atau merendahkan martabat manusia.

Pada akhirnya, kita perlu mengingat bahwa setiap manusia memiliki kelemahan. Mungkin dosa kita tidak sama dengan dosa orang lain, tetapi bukan berarti kita terbebas dari kesalahan. Ada dosa yang terlihat oleh manusia dan ada dosa yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah SWT. Karena itu, ketika melihat seseorang melakukan maksiat, sikap yang lebih selamat adalah membenci perbuatannya, memberikan nasihat jika mampu, mendoakan kebaikan untuknya, dan memohon kepada Allah agar kita sendiri tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama.

Jangan merasa terlalu aman hanya karena hari ini kita masih mampu meninggalkan maksiat. Hidayah adalah karunia Allah yang harus terus dimohon dan dijaga. Orang yang sedang berada dalam dosa membutuhkan jalan untuk kembali, bukan tambahan alasan untuk semakin menjauh. Bisa jadi orang yang kita cela hari ini justru menjadi orang yang lebih dekat kepada Allah setelah bertaubat, sedangkan kita yang mencelanya justru terjatuh dalam kesombongan.

BACA JUGA: Apa Akibat Menertawakan Orang yang Sedang Jatuh dalam Maksiat?

Karena itu, jika melihat pelaku maksiat, jangan buru-buru mengatakan bahwa dirinya manusia paling buruk. Katakan dalam hati bahwa perbuatannya salah, tetapi doakan agar Allah memberikan hidayah dan kesempatan untuk bertaubat. Kita tidak harus menyukai kemaksiatan, tetapi kita tetap diperintahkan untuk memiliki hati yang menginginkan kebaikan bagi sesama Muslim.

Sebab, tujuan dakwah bukan mencari siapa yang paling layak dihina, melainkan mengajak manusia kembali kepada kebenaran. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup seseorang, dan kita juga tidak tahu bagaimana keadaan hati kita sendiri beberapa tahun mendatang. Maka daripada sibuk mencela orang yang sedang jatuh, lebih baik kita membantu menunjukkan jalan agar ia dapat bangkit dan kembali kepada Allah SWT. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *