Bolehkah Shalat Sunnah Setelah Shalat Subuh?

Umar Faqih
4 Min Read
Foto: Islampos AI

WAKTU pagi menjadi kesempatan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun, ada satu hal yang sering menimbulkan pertanyaan: bolehkah melaksanakan shalat sunnah setelah shalat Subuh, atau justru ada larangan yang harus diperhatikan?

Dalam Islam, terdapat waktu-waktu tertentu yang dilarang untuk melaksanakan shalat sunnah tanpa sebab. Salah satunya adalah setelah shalat Subuh hingga matahari terbit. Karena itu, seorang Muslim perlu memahami jenis shalat sunnah yang boleh dikerjakan dan yang sebaiknya ditunda.

BACA JUGA: Bolehkah Menjamak Shalat karena Hujan Deras?

Larangan Shalat Sunnah Setelah Subuh

Rasulullah ﷺ menjelaskan adanya larangan melaksanakan shalat setelah Subuh sampai matahari terbit. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda,

“Tidak ada shalat setelah shalat Subuh hingga matahari terbit, dan tidak ada shalat setelah shalat Ashar hingga matahari terbenam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjadi dalil bahwa seorang Muslim tidak diperbolehkan mengerjakan shalat sunnah mutlak pada waktu tersebut. Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang dikerjakan tanpa terikat sebab tertentu, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Larangan ini bukan berarti seorang Muslim tidak boleh berzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, atau melakukan ibadah lainnya setelah Subuh. Justru, waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh sambil menunggu matahari terbit.

banner pembersih

Bagaimana dengan Shalat Sunnah Rawatib?

Salah satu shalat sunnah yang berkaitan dengan waktu Subuh adalah shalat sunnah qabliyah Subuh, yaitu dua rakaat yang dikerjakan sebelum shalat Subuh. Shalat ini memiliki keutamaan yang besar.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).

Karena itu, dua rakaat qabliyah Subuh sebaiknya dikerjakan sebelum shalat fardu Subuh. Namun, bagaimana jika seseorang terlambat dan baru tiba di masjid ketika shalat berjamaah akan dimulai?

Dalam keadaan tersebut, ada pembahasan di kalangan ulama mengenai waktu mengganti shalat sunnah qabliyah Subuh yang terlewat. Sebagian ulama membolehkan seseorang mengqadanya setelah shalat Subuh karena shalat tersebut memiliki sebab tertentu, bukan sekadar shalat sunnah mutlak.

Terdapat riwayat bahwa Rasulullah ﷺ melihat seseorang mengerjakan dua rakaat setelah shalat Subuh. Ketika orang itu menjelaskan bahwa dirinya belum mengerjakan dua rakaat sebelum Subuh, Nabi ﷺ tidak mengingkarinya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Riwayat ini menjadi salah satu dalil yang digunakan ulama untuk membahas kebolehan mengganti shalat sunnah qabliyah Subuh setelah shalat fardu. Meski demikian, terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu pelaksanaannya, sehingga seorang Muslim dapat mengikuti pendapat ulama yang tepercaya.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Shalat Dhuha?

Shalat Dhuha merupakan shalat sunnah yang dikerjakan pada pagi hari, tetapi bukan langsung setelah shalat Subuh. Waktunya dimulai ketika matahari telah terbit dan naik, hingga menjelang waktu zawal atau sebelum masuk waktu Zuhur.

Karena itu, seseorang yang ingin mengerjakan shalat Dhuha hendaknya menunggu sampai matahari naik. Secara praktis, waktu ini biasanya sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit, meskipun waktu tepatnya bergantung pada lokasi dan kondisi setempat.

Sambil menunggu, seorang Muslim dapat memperbanyak zikir pagi, membaca Al-Qur’an, beristigfar, dan berdoa. Dengan demikian, waktu setelah Subuh tetap menjadi waktu yang produktif untuk beribadah tanpa melanggar ketentuan syariat.

BACA JUGA: Ngantuk ketika Sedang Shalat, Batal atau Tidak?

Mengisi Pagi dengan Ibadah yang Tepat

Jadi, bolehkah shalat sunnah setelah shalat Subuh? Jawabannya bergantung pada jenis shalat yang hendak dikerjakan. Shalat sunnah mutlak dilarang setelah Subuh hingga matahari terbit, sedangkan shalat sunnah tertentu yang memiliki sebab, seperti mengganti qabliyah Subuh, memiliki pembahasan hukum tersendiri di kalangan ulama.

Seorang Muslim hendaknya tidak hanya bersemangat memperbanyak ibadah, tetapi juga berusaha memahami tuntunan Rasulullah ﷺ. Sebab, ibadah yang baik bukan semata-mata banyak jumlahnya, melainkan juga sesuai dengan petunjuk syariat.

Semoga Allah membimbing kita agar mampu mengisi setiap waktu dengan amal saleh dan menjalankan ibadah sesuai tuntunan Nabi Muhammad ﷺ.[]

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *