SAHL al-Tustari berkata,
“Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan kekenyangan sebagai pintu menuju kemaksiatan dan kebodohan, dan menjadikan lapar sebagai jalan menuju ilmu dan kebijaksanaan.”
Sejalan dengan itu, Yahya bin Mu’adz al-Razi berpendapat bahwa lapar memiliki kedudukan berbeda sesuai dengan keadaan seseorang. Menurutnya, lapar bagi orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah adalah latihan; bagi yang bertaubat adalah ujian; bagi yang zuhud adalah pengaturan diri; dan bagi yang telah mencapai ma‘rifat adalah kemuliaan.
Kemudian Al-Qushayri menjelaskan bahwa lapar merupakan salah satu sendi perjuangan spiritual dan menjadi sifat para ulama. Melalui pengendalian diri dari kekenyangan, lahirlah kejernihan hati yang membuahkan kebijaksanaan dan ilmu.
Dengan demikian, lapar dalam perspektif para ulama bukan sekadar menahan diri dari makan, tetapi sarana pembinaan jiwa yang mengantarkan pada kedalaman ilmu dan kematangan hikmah. []
Sumber: Qusyairi, Risalah Qusyairiyah, Pustaka Amani, 2013
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

