Oleh: KH Nurali Hamidy, S.Pdi.
“Shalat itu berasal dari kata ‘shilah’, yang berarti sambungan, koneksi.”
Shalat, Dialog Cinta dengan Sang Pencipta
Dalam tafsir-tafsir klasik maupun modern, seperti Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, shalat didefinisikan sebagai momen perjumpaan antara hamba dan Sang Pencipta. Shalat bukan sekadar ritual fisik, melainkan percakapan batin yang dalam, seperti dua sahabat yang saling menatap dan berbicara dengan sepenuh hati.
Dari komunikasi ini lahir rasa cinta, kedekatan, hormat, dan ketundukan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ini adalah mi’raj ruhani, di mana hati dan jiwa naik menuju hadirat Allah SWT. Ketika shalat dilakukan dengan sepenuh jiwa, tubuh merasakan kesegaran spiritual. Lelah, letih, bahkan kantuk pun sirna. Malam terasa begitu singkat, wirid dan zikir pun mengalir tanpa beban, seperti kemesraan dua insan yang saling mencintai.
Jika cinta manusia saja bisa sedemikian membekas hingga usia senja, bagaimana dengan cinta dan dialog antara hamba dengan Rabb-nya?
Untuk memahami kedalaman ini, kita perlu membedakan antara shalat syariat dan shalat hakikat.
BACA JUGA: Lebih Utama Shalat Dhuha di Rumah atau di Kantor?
1. Shalat Syariat: Raga yang Tertib, Jiwa yang Tertinggal
Shalat syariat adalah pelaksanaan ibadah shalat sesuai dengan tata cara lahiriah: mulai dari takbiratul ihram, ruku’, sujud, duduk, hingga salam. Juga termasuk bacaan-bacaan wajib yang menyertainya.
Namun, ketika shalat hanya berhenti di tingkat fisik, ia cenderung menjadi rutinitas kosong. Hanya tubuh yang bergerak, sementara hati dan pikiran melayang entah ke mana. Tak heran jika kemudian kita merasakan capek, lelah, bahkan bosan.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Betapa banyak orang yang shalat, tetapi tidak mendapatkan apa pun selain rasa lelah dan letih.” (HR. Darimi dan Ibnu Majah)
Mengapa bisa demikian? Karena shalat dilakukan hanya di maqam syariat—wilayah fisik yang sering kali masih dikuasai oleh hawa nafsu. Kita bisa menipu orang lain dengan tampilan khusyuk, tetapi tidak bisa membohongi hati sendiri. Sudah berapa lama kita terjebak dalam shalat yang seperti ini?
2. Shalat Hakikat: Saat Ruh dan Raga Bersatu dalam Doa
Shalat hakikat adalah shalat yang menyatukan dimensi jasmani dan ruhani. Gerak tubuh dan getar hati bersatu dalam kesadaran penuh akan kehadiran Allah. Inilah makna dari kalimat:
“Silatun wa liqā’un bainal ‘abdi wa Rabbihi”
— sebuah pertemuan dan sambungan antara hamba dan Tuhannya.
Shalat hakikat menghadirkan khusyu’—rasa tenggelam dalam kehadiran Allah. Jika dianalogikan, seperti burung yang terbang dengan dua sayapnya. Ia akan melesat tinggi, stabil, dan indah—tak seperti burung yang hanya punya satu sayap.
Allah berfirman dalam Surat Thaha ayat 14:
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Kalimat “wa aqimis shalata li dzikri” menunjukkan bahwa tujuan shalat bukan semata gerakan, tapi zikir—kesadaran penuh akan Allah. Jika hati tidak ikut shalat, maka yang tertinggal hanyalah rutinitas fisik.
Allah juga menegaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 45:
“Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya shalat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”
Kenapa berat? Karena banyak dari kita hanya menggunakan satu wilayah: tubuh. Sedangkan hati kita tertinggal, sibuk dengan dunia.
BACA JUGA: Bagaimana Cara Menjawab As-Shalatu Khairum Minan Na’um?
Menuju Shalat yang Mengalirkan Nur
Semoga dengan penjelasan sederhana ini, kita mulai merenung kembali: apakah selama ini kita hanya shalat syariat, ataukah sudah mulai menapaki tangga menuju shalat hakikat?
Mari kita buka hati dan pikiran agar nur dari Allah dapat masuk, menyinari seluruh dimensi hidup kita—melalui shalat yang bukan sekadar kewajiban, tetapi juga percakapan cinta dengan Sang Khalik.
“Dan Allah Maha Mengetahui siapa yang benar dalam ibadahnya.”
Wallahu a‘lam bis shawab. []
______
Kirim tulisan Anda ke Islampos Media, dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel. Silakan kirim ke: [email protected]. Isi di luar tanggung jawab redaksi.
______
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

