TEMPAT paling suci umat Islam, Masjidil Haram di Mekkah Al Mukaromah ternyata pernah mengalami masa kelam ketika diserbu dan diduduki oleh sekelompok militan bersenjata yang dipimpin oleh Juhayman al-Utaibi. Peristiwa yang mengguncang dunia Islam ini terjadi pada pagi hari tanggal 20 November 1979. Kelompok militan bersenjata ini mengklaim bahwa mereka membawa Mahdi, sosok yang diyakini akan datang menjelang kiamat. Selama dua minggu, mereka menguasai masjid, menahan ribuan jamaah, dan menantang otoritas Kerajaan Arab Saudi. Peristiwa ini tidak hanya mengguncang Arab Saudi, tetapi juga memiliki dampak luas di seluruh dunia Muslim.
Juhayman al-Utaibi – Sang Pemimpin Pemberontakan
Juhayman ibn Muhammad ibn Sayf al-Utaibi lahir pada 16 September 1936 di Sajir, wilayah Najd, Arab Saudi. Ia berasal dari suku Otaibah, suku Bedouin yang berpengaruh. Keluarganya memiliki sejarah panjang dalam gerakan Ikhwan, kelompok militan yang membantu pendirian Kerajaan Saudi. Juhayman bergabung dengan Garda Nasional Saudi pada tahun 1955 dan bertugas hingga 1973. Setelah pensiun, ia mendalami studi Islam di Universitas Islam Madinah dan menjadi pengikut aliran Salafi yang konservatif.
Juhayman al-Utaibi bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah mantan anggota Garda Nasional Arab Saudi dan berasal dari suku terkemuka di wilayah Najd. Lahir sekitar tahun 1936, Juhayman tumbuh dalam lingkungan yang sangat konservatif dan memiliki akar dalam paham Wahabi, mazhab dominan di Arab Saudi yang terkenal dengan pendekatan tekstual dan puritan terhadap Islam.
Pendidikan keagamaannya diperoleh dari Universitas Islam Madinah, tempat ia belajar di bawah bimbingan ulama-ulama senior. Namun, di sanalah juga radikalisasinya mulai terbentuk. Ia menjadi murid dari Syekh Muhammad al-Qurashi, seorang ulama karismatik yang mengajarkan pentingnya kembali kepada Islam murni dan menolak segala bentuk pengaruh modernisasi ala Barat.
Pada awal 1970-an, Juhayman mulai menunjukkan perlawanan terbuka terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggapnya terlalu liberal dan “bersekongkol dengan musuh-musuh Islam”.
Ia menolak televisi, pembangunan gedung-gedung tinggi, penggunaan teknologi dari Barat, hingga masuknya perusahaan-perusahaan asing ke tanah Arab.
Ia percaya bahwa negara Islam sejati hanya bisa tegak jika sistem kekuasaan berbasis dinasti—seperti yang dijalankan keluarga Saud—dihapus dan diganti dengan kepemimpinan spiritual berdasarkan syariat.
Namun, yang paling menarik adalah bahwa Juhayman bukanlah pemimpin yang haus kekuasaan dalam arti konvensional. Ia tidak menyatakan dirinya sebagai Mahdi, melainkan mendorong iparnya—Muhammad bin Abdullah al-Qahtani—sebagai sosok tersebut.
Ini menunjukkan bahwa gerakan mereka tidak sekadar politis, tetapi dilandasi keyakinan eskatologis, bahwa akhir zaman telah dekat dan Mahdi harus memimpin umat keluar dari “fitnah”.

Persiapan dan Ideologi Pemberontakan
Juhayman membentuk kelompok yang dikenal sebagai “al-Jamaa al-Salafiya al-Muhtasiba”, yang terdiri dari mahasiswa dan mantan tentara. Kelompok ini mengkritik keras modernisasi dan hubungan Arab Saudi dengan Barat. Mereka percaya bahwa pemerintah telah menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Juhayman mengklaim bahwa saudara iparnya, Muhammad Abdullah al-Qahtani, adalah Mahdi yang dijanjikan. Selama berbulan-bulan, mereka menyelundupkan senjata ke dalam Masjidil Haram, mempersiapkan diri untuk aksi besar.
Muhammad bin Abdullah al-Qahtani – Mahdi yang Diproklamasikan
Sosok Muhammad bin Abdullah al-Qahtani, ipar Juhayman, adalah bagian paling kontroversial dari pemberontakan ini.
Lahir pada tahun 1950-an, ia dikenal sebagai pemuda yang rajin beribadah, fasih membaca Al-Qur’an, dan memiliki pemahaman agama yang baik. Namun, namanya tiba-tiba mencuat ketika Juhayman mulai menyebarkan tulisan dan pamflet yang menyatakan bahwa Muhammad adalah Imam Mahdi yang dijanjikan.
Kenapa dia bisa dianggap Mahdi? Pertama, karena namanya sama persis dengan Nabi Muhammad: Muhammad bin Abdullah. Kedua, karena ia berasal dari keturunan Quraisy, sebagaimana disebut dalam banyak hadis tentang Mahdi. Ketiga, Juhayman mengklaim bahwa dirinya dan beberapa orang dekat telah menerima mimpi dan “ilham spiritual” yang menandakan bahwa Qahtani adalah sosok penyelamat akhir zaman.
Banyak pengikut Juhayman percaya bahwa dunia telah diliputi kezaliman dan dekadensi, dan bahwa kemunculan Mahdi adalah solusi terakhir. Mereka percaya bahwa dunia Islam telah tersesat, dan Mahdi akan membawa umat kembali kepada jalan yang lurus, menegakkan hukum Allah, dan membersihkan Tanah Suci dari pengaruh-pengaruh kufur dan musyrik.
Namun, Qahtani sendiri tidak banyak dikenal publik. Ia tidak tampil ke depan seperti Juhayman, dan menurut beberapa laporan, tampak enggan menerima “mahkota” Mahdi. Namun, desakan Juhayman dan kepercayaan penuh dari para pengikut membuatnya akhirnya menerima peran tersebut, meskipun hanya bertahan sebentar sebelum tewas dalam pengepungan.
Kematian Qahtani menjadi titik balik penting. Ketika sosok Mahdi tewas secara tragis, banyak dari pengikutnya mulai meragukan keyakinan mereka, meskipun tidak semuanya menyerah dengan mudah.
Strategi Penyerangan – Kudeta di Tanah Suci
Penyerangan Masjidil Haram terjadi pada waktu yang sangat simbolik: pagi hari tanggal 20 November 1979, bertepatan dengan hari pertama tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1400. Hari ini dipilih bukan secara acak, tetapi dengan penuh perhitungan. Bagi kelompok Juhayman, awal milenium Hijriyah adalah momen ideal untuk memulai “zaman baru” Islam di bawah kepemimpinan Mahdi.
Mereka masuk ke Masjidil Haram dengan menyamar sebagai jamaah haji biasa. Dalam beberapa bulan sebelumnya, mereka telah menyelundupkan senjata ke dalam kompleks masjid, menyimpannya dalam peti-peti jenazah yang tidak diperiksa karena dianggap suci. Selain itu, mereka juga menyembunyikan persediaan makanan, air, amunisi, dan alat komunikasi di ruang-ruang bawah tanah masjid, mempersiapkan diri untuk pengepungan panjang.
Tepat setelah sholat Subuh selesai, mereka mengunci semua gerbang utama masjid, membunuh beberapa penjaga, lalu mengumumkan bahwa Imam Mahdi telah muncul dan akan memimpin dunia Islam. Lautan jamaah di dalam masjid mendadak panik, banyak yang melarikan diri, tapi sebagian ditahan sebagai sandera.
Dalam waktu singkat, Masjidil Haram yang biasanya dipenuhi doa dan zikir berubah menjadi medan perang. Pemberontak yang jumlahnya sekitar 300 hingga 500 orang bersenjata lengkap, sebagian bahkan dilaporkan berasal dari negara lain seperti Mesir, Sudan, dan Yaman—menunjukkan bahwa gerakan ini sudah transnasional dalam perekrutan.
Strategi mereka sangat taktis dan terorganisir. Mereka menempatkan penembak jitu di menara-menara masjid, menjadikan lantai bawah tanah sebagai markas komando, dan menjadikan ribuan jamaah sipil sebagai tameng hidup. Ini membuat pasukan keamanan Saudi sangat kesulitan dalam mengambil tindakan. Serangan membabi buta bisa membunuh warga sipil dan menodai kehormatan Tanah Haram.
Selama lebih dari dua minggu, pasukan Saudi, yang dibantu penasihat dari Prancis, harus bertempur dari lorong ke lorong, ruang ke ruang, menggunakan gas, air, dan ledakan terkendali untuk menundukkan para militan. Ini adalah salah satu operasi militer paling kompleks dan paling berdarah dalam sejarah kerajaan Saudi modern.
Dampak Global
Peristiwa ini memicu gelombang protes anti-Amerika di berbagai negara Muslim. Ayatollah Khomeini dari Iran menuduh Amerika dan Israel berada di balik penyerbuan, meskipun tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut. Demonstrasi terjadi di Pakistan, Libya, dan negara-negara lain, beberapa di antaranya berujung pada kekerasan. Peristiwa ini juga memperkuat posisi kelompok-kelompok Islam konservatif di Arab Saudi.
Pelajaran paling besar dari penyerbuan ini adalah bagaimana fanatisme yang dibungkus dengan klaim keagamaan bisa menjelma menjadi ancaman nyata terhadap stabilitas negara dan umat. Pemerintah Arab Saudi mulai menyadari bahwa stabilitas internal tidak bisa hanya dijaga dengan kekuatan militer, tetapi juga harus ditopang oleh pendidikan keagamaan yang seimbang dan pengawasan terhadap radikalisasi di lingkungan akademik dan masjid.
Setelah penyerangan, Saudi Arabia juga memperkuat kerjasama intelijen dengan negara-negara Barat untuk mencegah kelompok ekstrem tumbuh kembali. Namun, di sisi lain, pemerintah juga terpaksa membuat konsesi kepada kelompok ulama konservatif sebagai imbalan atas dukungan mereka dalam meredam dampak pemberontakan. Hal ini justru menguatkan posisi kelompok Wahabi konservatif dalam pemerintahan dan membuat agenda liberalisasi serta modernisasi sosial menjadi semakin sulit untuk dijalankan selama beberapa dekade berikutnya.
Mengapa Masjidil Haram?
Pemilihan Masjidil Haram sebagai lokasi pemberontakan bukan tanpa alasan. Dalam keyakinan Islam, masjid ini adalah tempat paling suci yang tidak boleh dikotori oleh kekerasan ataupun konflik. Namun, bagi Juhayman dan kelompoknya, justru tempat inilah yang menurut mereka paling pantas untuk ‘dibersihkan’ dari apa yang mereka anggap sebagai korupsi spiritual dan penyimpangan politik.
Mereka percaya bahwa dengan menguasai Masjidil Haram dan mengumumkan kemunculan Mahdi, umat Islam akan terinspirasi untuk bangkit dan menggulingkan sistem pemerintahan yang ada. Strategi ini menunjukkan betapa kuatnya kekuatan simbolik Masjidil Haram bagi umat Islam dan betapa berbahayanya jika tempat itu digunakan untuk kepentingan politik radikal.
Juhayman, Mahdi, dan Mitos Kiamat
Salah satu unsur paling kontroversial dari pemberontakan ini adalah klaim bahwa Muhammad bin Abdullah al-Qahtani adalah Imam Mahdi. Dalam banyak tradisi Islam, Mahdi dipercaya sebagai sosok pembaharu spiritual yang akan muncul di akhir zaman untuk menghapus kezaliman dan menegakkan keadilan.
Ciri-ciri Mahdi dalam hadis mencakup nama yang sama dengan Nabi Muhammad dan garis keturunan Quraisy. Juhayman mengklaim bahwa iparnya memenuhi syarat tersebut, bahkan berdasarkan mimpi-mimpi spiritual yang ia alami. Banyak pengikutnya percaya penuh pada klaim ini, yang memperkuat motivasi mereka untuk bertindak radikal.
Namun, setelah al-Qahtani tewas dalam baku tembak, keyakinan itu runtuh. Ini menunjukkan bagaimana manipulasi terhadap eskatologi atau ramalan akhir zaman bisa menjadi bahan bakar ekstremisme yang sangat berbahaya.

Skala Korban dan Kerusakan
Data resmi menyebutkan bahwa lebih dari 250 orang tewas dan hampir 600 lainnya luka-luka dalam pengepungan ini. Korban berasal dari berbagai latar belakang: jamaah sipil, pasukan keamanan, hingga militan pemberontak. Namun, beberapa sumber independen memperkirakan jumlah korban bisa jauh lebih tinggi, karena banyak jasad yang tidak diidentifikasi.
Masjidil Haram sendiri mengalami kerusakan cukup signifikan, terutama pada bagian ruang bawah tanah dan menara-menara yang menjadi titik pertahanan militan. Selama proses penyerbuan, pasukan Saudi bahkan harus mengebor dinding Ka’bah dan meledakkan beberapa area strategis untuk melumpuhkan kelompok pemberontak.
Pada saat kejadian berlangsung, pemerintah Arab Saudi memberlakukan sensor media total. Tidak ada siaran langsung, tidak ada pernyataan resmi yang detail selama pengepungan berlangsung. Hal ini menimbulkan banyak spekulasi dan kebingungan di kalangan masyarakat internasional.
Baru setelah pengepungan selesai, pemerintah merilis informasi secara bertahap. Namun, media internasional seperti BBC dan New York Times telah lebih dulu melaporkan insiden tersebut berdasarkan informasi intelijen dan narasumber anonim dari dalam negeri.
Keterlambatan dan sensor informasi ini memperparah ketegangan global dan menimbulkan teori-teori konspirasi yang hingga kini masih dibicarakan.
Refleksi Sejarah dan Relevansi Kini
Peristiwa penyerbuan Masjidil Haram menjadi salah satu titik balik dalam sejarah keamanan dan stabilitas dunia Islam modern. Ia menjadi cermin yang memperlihatkan betapa kompleksnya hubungan antara keimanan, politik, dan kekuasaan.
Banyak analis menyebut bahwa peristiwa ini menjadi inspirasi bagi kelompok ekstremis setelahnya, termasuk Al-Qaeda dan ISIS, yang juga mengklaim bertindak atas nama “pemurnian Islam”. Sejarah menunjukkan bahwa ekstremisme selalu mencari simbol, dan tempat suci adalah simbol paling kuat yang bisa dimanipulasi.
Kini, di era digital, penyebaran ide radikal bahkan jauh lebih cepat. Karena itulah, peristiwa 1979 harus selalu dikenang bukan hanya sebagai insiden kekerasan, tapi sebagai pelajaran penting dalam membangun narasi keislaman yang damai, berilmu, dan bebas dari manipulasi simbolik.
Hari ini, Masjidil Haram telah kembali menjadi pusat spiritualitas umat Islam sedunia. Namun, luka sejarah tahun 1979 tetap menjadi pengingat bahwa bahkan tempat tersuci pun bisa ternodai oleh ambisi kekuasaan dan tafsir-tafsir sempit keagamaan.
Mari kita jaga tempat suci, iman, dan ukhuwah Islamiyah dari upaya-upaya manipulasi yang hanya membawa perpecahan. Semoga sejarah ini membuat kita lebih bijak dalam memaknai agama dan lebih waspada terhadap mereka yang menjual surga dengan cara-cara neraka. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
